50 Tahun Mungkin Tak Cukup (4)

Sesampainya di Stasiun Utrecht, Belanda, kami transit. Kami harus menunggu kereta sekitar setengah jam. Suguhan pertama buat kami adalah kereta yang terlambat hampir lima belas menit. Aku berpikir refleks, “Ooh.. pantes. Belanda saja begini, apalagi negara jajahannya!” Mungkin itu kesimpulan yang gegabah, tapi memang terlihat perbedaan yang agak jauh, meski sama-sama negara Eropa, antara Jerman dan Belanda.

Dari Utrecht, kami menuju ke Leiden. Stasiun Leiden letaknya tak jauh dari Universitas Leiden, tempat para intelektual muda Indonesia bersekolah sewaktu masa kolonial dulu. Bung Hatta termasuk salah satunya. Meski tidak lebih baik dari Jerman, tapi aku masih bisa belajar banyak dari negeri mantan penjajah itu. Di situ aku melihat banyak sekali sepeda yang diparkir. Memoriku kembali terbang ke Indonesia. Aku melihat bagaimana orang-orang di kampungku sudah tak mau lagi memakai sepeda. Untuk jarak dekat pun, mereka menggunakan sepeda motor, bahkan untuk keperluan yang sama sekali tidak penting. Kalau di kampung saja sudah demikian, lalu bagaimana dengan kota besar seperti Jakarta atau Bandung? Ironis memang.

Tak lama setelah kami melihat-lihat sekeliling stasiun, jemputan dari hotel datang. Aku lihat sopirnya mengenakan dasi dan jas hitam. Sangat keren.  Tak sedikitpun ciri-ciri sopir tergurat di wajahnya. Dia tampak ramah memperlakukan kami. Aku sempat berpikir, “Wah, pasti kami akan menginap di hotel yang mewah nih. Sopirnya aja begini!”. Ternyata dugaanku keliru. Hotel itu sekelas melati.

Esok paginya, kami berkunjung ke Museum Leiden. Aku lihat gedung museum itu cukup megah. Bayangkan, gedung  lima belas lantai itu semuanya terisi fosil! Beberapa lantai mereka sediakan untuk fosil dari Afrika, Amerika selatan, Asia, termasuk Indonesia.

Setengah hari pertama kunjungan kami, diisi dengan seminar tentang manusia purba yang ditemukan di Indonesia: Phytecanthropus erectus. Siangnya kami lanjutkan dengan melihat-lihat koleksi fosil dari Indonesia. Prof. John de Vos menemani kami, sambil menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami. Sebagian besar fosil yang kami lihat, dulu ditemukan di lembah Bengawan Solo: sekitar daerah Sangiran, Trinil, Mojokerto, dan sebagainya. Fosil-fosil itu tampak apik dirawat oleh mereka.

Hari terakhir kunjungan kami di Belanda, ditutup dengan rekreasi di pantai Laut Utara (North Sea). Lautnya tampak biru jernih dan dingin, tapi pantainya gersang bukan main. Tak ada pohon yang tumbuh, kecuali sejenis rumput ilalang hampir setinggi manusia. Pantas saja pantai di wilayah ini bukan pilihan mereka untuk berlibur. Pantas saja Bali jauh lebih mereka sukai.

Meskipun hanya beberapa minggu, banyak pelajaran yang bisa ku ambil. Selama di sana, alih-alih menikmati suasana, aku malah lebih banyak berpikir dan merenung: “Berapa lama lagi bangsaku bisa seperti mereka…?”. Suara lembut itu berbisik menjawab, “5o tahun lagi mungkin tak cukup…”.

2 thoughts on “50 Tahun Mungkin Tak Cukup (4)

  1. Wah masih sempet update wordpress….
    Semangat!!!!Negara ini butuh manusia-manusia yang mengerti akan rakyatnya…
    Wakakakakkk jadi politis nih omonganku sekarang.

    • Iya nih, di sela2 kesibukan, mencoba mengaktualisasikan diri..
      Byk orang yg ngerti ttg rakyat, tp sayangnya lebih byk lagi yg tidak mengerti. Celakanya, yg gak ngerti ttg rakyatnya itu lebih berkuasa di negara ini, welehh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s