50 Tahun Mungkin Tak Cukup (3)

Negara (dan warga negara) Jerman memang terbilang sangat maju. Aku bisa melihatnya dari beberapa sisi. Pertama, mereka memiliki kesadaran yang sangat tinggi terhadap pentingnya menjaga ekosistem. Batas terluar kota mereka adalah hutan. Sungai-sungai yang membelah kota mereka menjadi habitat yang nyaman bagi tumbuhan dan hewan, termasuk unggas liar. Sepanjang “lantai” kota mereka bersih dari onggokan sampah.

Ke dua,  tata kota mereka terlihat sangat canggih. Sophisticated! Mobil, sepeda, pejalan kaki, semua memiliki track tersendiri. Transportasi publik luar biasa nyaman dan canggih. Bus kota dan kereta datang tepat waktu, predictable. Semua kendaraan harus lulus uji emisi.

Ke tiga, dan ini pelajaran yang sangat “memukul”, yaitu perihal kejujuran. Yang aku tahu, sebagian besar mereka adalah manusia-manusia rasionalis. Agama bagi mereka tidak lebih dari “aksesoris” budaya. Ku lihat bagaimana gereja-gereja di sana kosong. Mesjid pun belum pernah ku temui.  Akan tetapi, kejujuran mereka melebihi umat yang Nabinya bergelar “Al-Amin”. Malu aku dibuatnya.

Mereka tidak menempatkan seorangpun untuk menjaga mesin tiket bus kota. Di dalam bus kota pun tidak ada yang mengecek apakah kita memiliki tiket atau tidak. Jika seseorang ketinggalan dompet atau barang berharga lainnya, pun tak seorang mengambilnya. Dari mana mereka mendapat pelajaran moral yang mulia itu?

Kali ini, di tulisan ke tiga ini, aku akan berbagi tentang bagaimana mereka membangun infrastruktur di seluruh pelosok negeri.

Setelah beberapa hari kami berada di Frankfurt, kami berkelana ke beberapa wilayah di Jerman, dengan menggunakan mini bus. Kami akan mengunjungi beberapa lokasi, yang merupakan tempat ditemukannya fosil manusia purba di sana.  Perjalanan ke luar kota “dikawal” oleh jalan yang luas dan nyaman. Ku tanyakan pada doesnku, “Di sini ada jalan tol?”. “Tidak ada”, sahutnya. Tapi ku lihat sepanjang jalan itu tak ubahnya jalan tol.

Sampai di situ, aku masih berpikir, “Ah, ini kan masih di kota. Kalau sudah sampai ke pelosok, mungkin lain ceritanya.” Dulu, sewaktu aku pertama kali melintas di Jalan Sudirman – Thamrin – Rasuna Said, yang merupakan kawasan Segi Tiga Emas Jakarta, aku sempat berpikir, “Segi Tiga Emas adalah pusat kemegahan Jakarta, sekaligus ironi besar bangsa ini.” Tak jauh sebelum masuk kawasan itu, yang ku temui adalah debu hitam di jalanan, sampah terserak, kaki lima yang semrawut, pengemis dan pengamen kota yang lusuh, pemukiman kumuh di sudut kota dan kolong jembatan.  “Sudirman – Thamrin – Rasuna Said adalah kedok. Kemegahan bangunan, keindahan jalan dan taman kota di sana juga kedok.  Wajah asli Jakarta ada di pinggiran kota, dan wajah asli Indonesia ada di luar Jakarta. Semakin jauh dari Segi Tiga Emas, semakin asli wajah Indonesia.” 

Logika yang sama masih melekat pada penilaianku terhadap Jerman. “Wajah asli Jerman ada di pinggiran dan di luar kota Frankfurt”, pikirku. Namun, logika itu sama sekali tak benar di sana. Setelah jauh meninggalkan kemegahan Frankfurt, jalanan di luar kota masih sama bagusnya: tak ubahnya jalan tol. Sepanjang jalan juga tampak bersih. Rumah-rumah kumuh sama sekali tak terlihat. Hutan-hutan dan lahan pertanian mereka sungguh indah, tak kalah indah dengan hutan dan lahan pertanian tropis, yang belum dijamah illegal logging dan alih fungsi lahan. Bahkan ketika jalanan mulai menanjak ke perbukitan, jauh dari pemukiman, kualitas jalan dan rambu-rambunya sama sekali tak berubah. Aku jadi kangen dengan jalanan berlubang di negeriku sendiri..🙂

Di hari entah ke berapa, mini bus yang mengantar kami, pulang. Kami harus naik kereta, untuk menuju Belanda. Perjalanan ke belanda menempuh jarak sekitar seribu kilometer. Kalau di Indonesia, kurang lebih Jakarta – Surabaya. Kami akan berkunjung ke sebuah museum. Di sana tersimpan ribuan fosil yang dikumpulkan dari negeri jajahannya selama puluhan tahun, termasuk Indonesia.  

Di perjalanan, ku lihat indikator kecepatan di dekat toilet kereta. Aku sempat kaget, karena angkanya menunjukkan 308 km/jam. Rupanya aku sedang melaju dengan kecepatan pembalap F1! Pantas saja, perjalanan hampir seribu kilometer itu ditempuh kurang dari empat jam. Sepanjang jalan, kereta itu melewati beberapa terowongan yang menembus perbukitan. Terowongan terpanjang yang aku lewati hampir delapan kilometer. Luar biasa, bukit sebesar itu mereka lubangi!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s