5o Tahun Mungkin Tak Cukup (1)

Tepatnya tanggal 27 Juli 2006, sekitar pukul 2 siang, aku tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Untuk pertama kalinya, aku akan naik pesawat terbang: pesawat yang selama ini hanya ku lihat pada jarak sekitar 10 km di angkasa. Tidak tanggung-tanggung, sekalinya naik pesawat, tujuanku adalah Frankfurt: kota yang menjadi gerbang negara Jerman bagi dunia Internasional. Aku akan pergi ke negara Jerman dan Belanda, selama kurang lebih setengah bulan, dalam rangka field trip di bidang paleontologi manusia. Tidak sendirian, aku bersama 13 orang lainnya, termasuk 2 orang dosen dari kampusku. 

Jerman, khususnya Lembah Neanderthal, adalah salah satu situs penting, tempat ditemukannya Homo neanderthalensis yang melegenda. Sementara Belanda, ia tidak termasuk situs penting. Tapi tahukah kawan, di sana tersimpan ribuan fosil yang diambil dari Indonesia semasa penjajahan Belanda, yang sampai saat ini belum dikembalikan kepada kita. Mungkin kawan-kawan juga masih mengingat pelajaran SMP dan SMA, perihal Dr. Eugene Dubois, yang menemukan fosil Pithecanthropus erectus. Fosil yang merupakan mata rantai terpenting evolusi itu masih tersimpan baik di sana. Itu adalah milik kita, Indonesia! Sewaktu saya bertanya kepada dosen saya, “Mengapa fosil itu tidak kita ambil saja? Itu kan milik kita?”. Dengan enteng beliau menjawab, “Daripada di Indonesia tidak ada yang merawat..?!”.

“Merawat..?!”, kata itu langsung menusuk ke dalam jantung kesadaranku. Aku mengerutkan dahi untuk beberapa lama, lantas, ya..ya..ya.. Aku mengerti, secara kolektif, kita sebagai bangsa memang masih belum bisa merawat apa yang kita miliki. Fosil-fosil itu hanya sebagian kecil dari kekayaan kita yang tidak bisa kita rawat. Lihatlah hutan kita, laut kita, barang-barang tambang kita, infrastruktur publik kita, sudahkah kita bisa merawatnya?

Setelah ada instruksi dari kapten pilot, aku segera mengencangkan sabuk pengaman. Saat menoleh ke luar jendela, ku lihat betapa besar sayap dan baling-baling pesawat itu. “Benarkah benda sebesar ini bisa terbang melawan hukum gravitasi?”, “Apa yang akan terjadi seadainya pesawat ini jatuh?”, aku bertanya penuh kekhawatiran dalam hati. Membayangkannya saja aku tak sanggup. Sungguh mengerikan! Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Bulu kudukku mulai berdiri. Keringat dingin perlahan mulai keluar dari pori-pori kulit. Rasa takut mulai menjalar ke seluruh tubuh. Hatiku terus bergumam. Ketika aku naik bus dengan kecepatan tinggi, rasa takut itu ada, tapi aku masih bisa memilih tempat duduk yang aman. Tapi ini di pesawat, tidak ada tempat duduk yang paling aman, di dekat pintu darurat sekalipun. Yang ada hanyalah kepasrahan total kepada Yang Maha Menguasai hidup kita. Aku berdzikir dan beristighfar sebisanya. Aku mencoba mengingat-Nya sekhusuk mungkin, dan meminta keselamatan dan kesempatan hidup yang lebih lama, agar aku bisa mengabdi pada-Nya setelah aku turun dari pesawat ini.

Empat jam pertama penerbangan berlalu. Pesawat itu mendarat di Taipe, Taiwan. Aku transit selama kurang lebih 2 jam, selanjutnya aku melanjutkan penerbangan dengan pesawat lain. Perjalanan ke Frankfurt ditempuh dalam waktu 13 jam dari Taipe. Selama perjalanan itu, duduk di sebelahku seorang bule remaja, rambutnya lurus panjang, wajahnya manis, tubuhnya kekar. Dia tampak cuek bebek, khas orang barat. Bahkan ketika aku muntah-muntah 2 kali, dia sama sekali not respondingNo comment! Hingga tiba di Frankfurt, aku masih belum bisa mendefinisikan apakah manusia di sebelahku itu laki-laki atau perempuan.

Ku dengar kapten pilot mengumumkan tanda pesawat dalam posisi siap landing. Aku melihat ke luar jendela. Rupanya hari sudah pagi. Terhampar di bawah sana hutan subtropis yang hijau pekat. Bayanganku semula, Eropa adalah negara yang gersang, yang hanya dipenuhi kemegahan dan hiruk-pikuk peradaban, dan hanya menyisakan pohon-pohon pinus di taman atau hutan kota, atau di lereng pegunungan yang dipenuhi salju, jauh dari kota. Ternyata dugaanku keliru. Jerman bahkan tidak kalah hijau dibanding Kalimantan, yang aku lihat sewaktu pesawat baru terbang sekitar satu jam dari Jakarta. Kota-kota di sana dikelilingi oleh hutan, sehingga tampak harmoni antara alam dengan karya megah manusia. Itulah kekagumanku yang pertama pada Jerman.

Setibanya di bandara Frankfurt, kami disambut oleh dua orang bule, yang satu laki-laki jangkung mengenakan dress coklat, dan satu lagi wanita paruh baya yang tampak casual dengan celana tiga perempat dan baju tak berlengan. Setelah say hello dan basa-basi sejenak, diajaknya kami ke lantai empat gedung bandara itu,  untuk menunggu angkutan bandara. Di sana sudah menunggu kereta kecil yang dijalankan secara otomastis, tak berawak. Sophisticated! Itulah kekagumanku yang ke dua pada Jerman.   

Untuk menuju ke Kota Frankfurt, aku beserta rombongan masih harus naik kereta bawah tanah, setelah turun dari angkutan bandara tadi. Setibanya di kota Frankfurt, kami menunggu bus kota. Di halte, tampak papan “stopwatch” yang menghitung mundur kedatangan bus kota. Saat angka menunjukkan 10, 9, 8, 7….. bus kota sudah mulai terlihat. Begitu sampai pada angka 0, pintu bus kota itu terbuka persis di depan ujung sepatuku. Busyet…kok bisa ya! Sepanjang perjalanan  naik bus kota, ku perhatikan keadaan sekeliling jalan. Tak sehelai sampah pun ku temui. Konon, Frankfurt adalah kota yang paling kotor di Jerman. Lalu, bagaimana kondisi kota yang paling bersih, jika sepuntung rokok pun tidak terlihat di kota yang paling kotor? Ah, dagelan macam apa ini!

Sempat terbersit dibenakku, andai saja aku tinggal di Frankfurt ini, aku akan mengadakan lomba mengumpulkan sampah dari seluruh pelosok kota. Masing-masing peserta hanya dibekali wadah sebesar ember cucian. Peserta yang berhasil mengumpulkan sampah sebanyak ember itu dari seluruh pelosok kota, maka akan kuberikan hadiah! Tapi, Anda jangan coba-coba mengadakan lomba semacam itu di Indonesia, pasti panitia akan bangkrut, karena harus membeli wadah sebesar Waduk Jatiluhur, untuk mengumpulkan sampah dari seluruh pelosok Jakarta. Ah, semoga saja itu berlebihan.

To be continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s