Ulat dan Batu

“Sudah Bu?!” Aku menatap mata ibuku yang sudah mulai memerah dan berair, dan berharap beliau menjawab, “Sudah, sekarang kamu boleh main, sana!” Lama berselang, tidak ada jawaban sama sekali. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita paruh baya yang lusuh dan tulus itu.

Matahari mulai condong ke barat. Panasnya membakar seluruh pelosok kampung. Sementara awan tak sedikit pun menunjukkan pembelaannya. Di saat seperti itu, kebanyakan orang memilih untuk tinggal di dalam rumah, sambil menghitung bilangan hari, minggu dan bulan menuju masa panen. Atau sambil mendengarkan radio yang mendendangkan tarling: pengurang beban hidup untuk sesaat.

Mereka berharap hari-hari yang panjang itu cepat berlalu. Banyak di antara mereka yang harus menanggalkan pancinya dan hanya mengepulkan asap sehari sekali untuk mengganjal perut yang keroncongan sepanjang hari.

Di musim pasca tanam ini, atau orang setempat menyebutnya lebar tandur, banyak orang yang terpaksa harus puasa Daud. Sehari makan, sehari puasa. Tentunya tanpa sahur dan hanya buka sekenanya. Kadang mereka makan hanya dengan sebatang ubi yang harus dibagi dengan anak-anak mereka. Atau dengan nasi aking yang dimakan dengan terasi goreng. Bukan karena mereka taat agama dengan melaksanakan puasa sunah itu, melainkan karena pendapatan keluarga yang byarr–pett, bagai listrik PLN yang kekurangan suplai bahan bakar. Hari ini dapat, hari berikutnya tidak, tergantung tangan nasib yang menghampiri mereka hari itu.

Bukan. Kampung itu bukan tempat yang jauh di kepalauan tak dikenal. Bukan juga daerah di lereng pegunungan yang sepi dan miskin. Kampung itu bukan kumpulan suku primitif yang tidak mengenal teknologi dan peradaban. Bukan juga tempat para pendekar bertapa, karena banyaknya daerah yang belum dijelajahi manusia, sehingga seluruh kekuatan gaib terkonsentrasi di situ.

Kampung itu terletak di urat nadi Pulau Jawa, yang menghubungkan jalur ke Ibu Kota di ujung barat, dan kota besar ke dua Indonesia di ujung timur. Setengah jam jalan kaki dari kampung itu adalah jalur pantura, dan setengah jam naik angkutan ke arah selatan adalah sebuah kotamadya, Cirebon, yang akhir-akhir ini oleh para politisi yang gagal naik tahta akan dijadikan sebuah propinsi tersendiri.

Setengah jam dengan naik angkutan ke arah yang berlawanan, kita akan menemukan sebuah kilang minyak raksasa yang paling modern di negeri ini. Konon, orang-orang yang berada di dalamnya hidup bergelimang harta. Anjungan destilasi minyak terpancang kokoh dan angkuh, bagai menara Firaun yang dibangun untuk menyembah matahari. Kemegahan kilang tersebut mampu mengelabui siapa pun yang melewatinya: memberikan kesan bahwa penduduk di sekitar situ pasti hidup gemah ripah loh jinawi, akibat trickle down effect dari komplek emas hitam itu.

Dan setengah jam ke arah timur dengan jalan kaki, akan dijumpai paparan laut lepas yang dinamis, berwarna kecoklatan akibat turbulensi arus laut yang tak henti-hentinya menyuplai pasir ke daratan. Hamparan pasirnya hidup. Jika Anda berdiri setengah jam saja, maka mata kaki Anda sudah tidak terlihat lagi. Itulah sebab mengapa penduduk setempat kurang tertarik dengan pantai tersebut.

Lagipula, penduduk situ tidak akan punya waktu yang cukup untuk menikmati pemandangan pantai yang tidak lebih baik dari nasib mereka. Tidak seperti orang-orang mapan perkotaan, yang merencanakan liburan akhir pekan di pinggir pantai yang elok. Atau berlibur ke daerah pegunungan dengan panorama aneka bunga warna-warni, di tepi danau yang tenang, sambil menyantap makanan mewah di saung.

Pemandangan yang indah bagi penduduk setempat adalah hamparan tanaman padi yang pucuknya sudah mulai menguning: pertanda nasib baik akan segera menghampiri mereka, yaitu masa panen! Ya, itu adalah saat-saat mereka menjadi “Qorun” sesaat, dengan lumbung padi penuh sesak. Masa saat mereka akan menikahkan anak-anak perawan mereka dengan pemuda-pemuda desa yang lusuh dan kekar.

Masa itu akan dinantikan oleh siapa pun, bukan hanya oleh tuan tanah yang akan memetik hasil padi berton-ton. Masa itu akan dinantikan oleh buruh tani, yang dengan senang hati memanen padi milik sang tuan tanah. Masa itu juga dinantikan oleh para sesepuh, agar mereka bisa berbagi cerita legenda desa setempat dengan penuh suka cita, sambil menghisap kelobot. Masa itu juga akan dinantikan oleh muda-mudi, karena banyaknya hiburan kampung yang diadakan pada masa panen. Biasanya hiburan itu dimulai dengan pesta mapag sri yang diadakan di balai desa.

*****

“Oh, ya sudah sana! Sudah hampir selesai kok.” Sahut ibu setelah sadar bahwa aku berbicara padanya. “Ibu tinggal napeni sekali lagi, karena ulat dan batunya sudah tidak kelihatan lagi. Tinggal sisa dedaknya yang perlu dibuang”.

Aku hendak lari menemui teman-temanku yang suda lama menunggu. Tapi sorot mataku tertuju pada tumpukan batu halus berukuran pasir yang bercampur ulat putih kekuningan, seukuran bijih beras, menari-nari genit karena dicampakkan di tanah begitu saja. Mungkin itu tanda protes kepada kami: aku dan ibuku. Menjijikkan, tapi juga terlihat lucu dan imut. Aku membayangkan seandainya ulat-ulat ini manis rasanya, pasti aku emut bak permen karet, sebelum akhirnya ku telan bersama ludahku yang sudah membuncah karena belum makan dari pagi tadi. Ah, sepertinya lezat rasanya!

Ulat-ulat dan batu-batu itu baru saja kami pisahkan dari menir berbau apek. Tahukah kawan, menir itu adalah beras yang telah hancur berkeping-keping, hasil penggilingan padi yang mesinnya sudah bobrok. Biasanya bercampur dengan dedak.

Menir apek, berbaur ulat dan batu itu, merupakan hasil ayakan yang kami pisahkan dari makanan bebek. Ayahku memelihara beberapa puluh ekor bebek. Sekitar satu bulan sekali, dua karung seberat setengah kuintal berisi makanan bebek tersebut habis. Sebagiannya diayak untuk makanan kami sekeluarga di musim paceklik, termasuk musim lebar tandur ini.

“Tolong ambilkan sapu!” Ibu menyuruhku, karena melihat aku belum juga beranjak dari situ. Sejurus kemudian, aku sudah kembali dengan sapu yang terbuat dari sabut kelapa. Sapu itu tidak terlalu panjang, tapi tubuhku hanya beberapa sentimer lebih tinggi dari sapu itu. Aku tidak menyerahkannya pada ibuku, karena aku tahu maksud ibu dengan sapu itu. Langsung ku korek butiran batu dan ulat itu, ku satukan, lalu ku masukkan ke dalam kantong plastik hitam dengan tanganku, lalu ku buang ke tempat sampah di halaman belakang rumah.

Sementara itu, ibu melanjutkan membersihkan dedak yang masih tersisa, dengan tampah berdiameter sekitar delapan puluh sentimeter. Tampah adalah sejenis alat pengayak yang terbuat dari anyaman bambu. Bentuknya melingkar datar. Di pinggirannya dibatasi oleh sayatan batang bambu yang lebih tebal, selebar empat sentimeter, berdiri tegak menyamping, dan dikaitkan dengan tali dari bambu pula.

Ibu mulai mengayun tampah itu naik-turun berirama, dengan gerakan agak memutar, hingga gaya sentrifugal bersama hembusan angin mampu menghempaskan serpihan sekam dari beras – kalau memang itu layak disebut beras.

Aku langsung meninggalkan ibuku sendiri di dekat pintu dapur yang masih asyik dengan ritual sebelum makan itu. Biasanya itu berlangsung sekitar satu jam, dari mulai ayakan pertama hingga dalam kondisi siap dimasak. Setengah jam berikutnya, barulah hidangan yang paling lezat di dunia ini siap kami santap, menjelang jam dua siang. Nasi hasil olahan yang paling unik di seantero jagat ini dihidangkan bersama kristal garam tak beriodium yang ditumbuk halus, dibumbui irisan bawang beberapa siung, dan digoreng dengan minyak jelantah. Hasilnya luar biasa: rasanya seperti makan di restoran mewah di Bandung, dengan harga sebesar penghasilan keluarga kami selama sebulan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s