Desaku Oh Desaku…

Untuk sebuah desa, ukuran kampungku cukup besar. Dengan helicopter view, akan terlihat bentuknya bujursangkar, dengan luas tak kurang dari satu kilometer persegi. Itu belum termasuk sawah-sawah yang mengitarinya. Jumlah penduduknya lebih dari tiga ribu orang. Aku tahu itu dari guru SD-ku, setelah aku sekolah beberapa waktu kemudian.

Dari jumlah penduduk yang demikian banyak itu, mungkin hanya sebagian kecil keluarga yang bisa makan dengan layak pada musim paceklik seperti ini. Makan sekali sehari dengan beras putih bersih saja sudah untung, apalagi bisa dua kali lengkap dengan sayur dan lauk pauk. Amboi nikmatnya!

Beras, pada masa paceklik, menjadi barang mewah bagi keluarga seperti kami. Padahal, masa-masa pahit itu hanya berlangsung beberapa tahun setelah negeri ini dinobatkan oleh FAO sebagai negara swasembada beras, tahun 1984 lalu. Pada tahun ini, 1989, produksi beras mungkin cukup, tapi kami tidak punya akses untuk memperoleh beras itu. Kami terlalu miskin untuk membeli beras yang sekonyong-konyong menjadi butiran-butiran emas putih itu.

Sesaat setelah masa panen, penduduk harus segera beralih mata pencaharian. Sebagian dari mereka pergi ke kotamadya terdekat, Cirebon, untuk menarik becak. Harapan terindah buat mereka adalah mendapatkan penumpang bule yang tidak tahu tarif becak. Biasanya para penarik becak itu akan segera pulang, meskipun hari masih pagi, bila mereka ditumpangi makhluk aneh berambut pirang dan berhidung mancung, yang memberi mereka uang puluhan ribu rupiah, untuk tarikan jarak dekat. Atau, mereka berharap ada dompet penumpang yang tertinggal di jok becaknya, berisi gulungan kertas bergambar R. A. Kartini yang terlipat rapi dan tebal. Beberapa hari setelah itu mereka tidak akan pergi menarik becak, selain karena uang temuan haram itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya beberapa hari kemudian, mereka juga takut akan dicari oleh penumpang!

Sebagian warga lainnya, khususnya para pemuda yang kekar berotot, akan pergi melaut. Mereka pergi ke desa tetangga, Desa Dadap, sekitar dua puluh kilometer dari kampung kami, untuk ikut mengais rejeki di lepas pantai yang biru kehijauan, mencari ikan teri nasi untuk dijual ke tengkulak yang rakus dan nakal. Di kampung kami tidak ada muara sungai yang bisa menjadi tempat bersandar perahu-perahu besar. Pantainya tidak begitu bersahabat dan sepanjang tahun mengalami pendangkalan, hingga pantainya semakin menjauh dari kampung kami. Mungkin ia tidak tega melihat nasib kami, atau merasa malu karena tidak bisa berbuat sesuatu untuk kami. Jika pantai saja merasa malu karena tidak bisa mengatasi persoalan rakyat kecil seperti kami, tidak demikian halnya dengan para penguasa saat itu.

Sawah di daerah kami hanya tadah hujan. Tidak ada irigasi. Ketika musim hujan berhenti, berhenti pulalah aliran air yang menjadi darah kehidupan pertanian kami. Panen hanya sekali, dan hasilnya hanya bisa dinikmati selama tiga bulan pertama. Sembilan bulan berikutnya akan jadi petualangan panjang kami dalam bergulat dengan nasib, sekedar untuk bertahan hidup dan melanjutkan regenerasi.

Jika petani yang punya sebidang tanah saja sudah kewalahan menghadapi ganasnya musim tropis yang sebenarnya baik hati itu, maka bagaimana dengan keluargaku yang tidak punya sawah semeter pun? Namun keluargaku tidak sendirian, meski juga bukan mayoritas.

Saat panen, Ibu dan Ayahku menjadi buruh tani, ikut memetik padi milik para tuan tanah, dengan upah seperlima dari hasil padi yang bisa kami kumpulkan. Catu, orang setempat menyebutnya demikian, adalah upah berupa padi itu. Pada mulanya kami hanya mengandalkan hidup dari catu yang kami kumpulkan selama masa panen. Setelah tak lagi tersisa, kami sepenuhnya mengandalkan telor-telor biru yang jatuh dari anus sang binatang penyalur rejeki: bebek kami tercinta.

*****

Para pemuda desa menghabiskan malam-malam mereka dengan jalan kaki keliling kampung, bukan untuk ronda, melainkan menyelinap di halaman rumah para gadis desa, dengan harap-harap cemas akan ada yang sudi menerimanya mampir untuk sekedar ngobrol. Siapa tahu dari situ jodoh datang, dan mereka segera merencanakan pernikahan pada musim panen berikutnya. Pakaian mereka layaknya orang kota, tapi dipakai dengan cara yang amat kampungan. Celana merek Jeans, Lea atau Cardinal imitasi, sandal Swallow, kaos dalam lusuh dibalut kemeja yang hanya dikancing dua bagian bawahnya, agar tampak dada dan bahunya yang kekar. Mungkin itulah satu-satunya daya pikat mereka, untuk meyakinkan gadis desa yang ditemui bahwa ia pemuda yang bisa memberinya makan dengan otot-ototnya itu, atau sebagai jaminan masa depan mereka setelah menikah. Di leher mereka tertanggal sarung batik ibunya yang dililit dan dihempaskan ke punggung. Biasanya itu mereka pakai untuk menutupi wajahnya ketika kepergok pacaran.

Pada setiap musim panen, menjelang fajar, pemuda-pemuda itu akan dibangunkan oleh orang tuanya, lalu bergegas memakai baju dinas persawahan. Sepeda ontel yang telah disiapkannya, dikeluarkan. Di samping kanan roda belakang sepeda, tampak perlengkapan dinas mereka berupa gebodan, terpal, arit dan anai-anai yang diikat jadi satu dengan air minum dan rantang berisi makanan penuh karbohidrat tak bergizi, sekedar mengenyangkan. Adik atau kakak perempuannya segera dibonceng dan meluncur menerobos kegelapan dini hari, menuju hamparan padi yang menguning, namun masih samar dan pekat. Sang ayah membonceng ibunya, melakukan hal yang sama.

Biasanya, tak lama berselang, adzan subuh berkumandang, mengalun sepi, memecah keheningan kampung dan hiruk-pikuk sawah yang telah dipenuhi deretan sepeda-sepeda perkasa nan karatan. Mereka mengabaikan panggilan ilahi itu demi memenuhi panggilan lumbung padi yang sudah lama tak terisi. Atau demi menyambung hidup di masa paceklik kelak, seperti masa-masa sekarang ini. Mereka punya pembenaran untuk itu, sebagaimana orang-orang kaya pun punya pembenaran yang sama, hanya berbeda tipe dan kelas sosial setan yang menggodanya. Mereka terlalu sibuk di siang dan sore hari untuk mengurusi bisnis dan kekayaan mereka, sehingga terlalu letih untuk menyembah-Nya.

Di mesjid desa dan mushola-mushola RT biasanya hanya tersisa manula yang sudah kesusahan untuk menahan berat tubuhnya sendiri, beserta anak-anak kampung yang tiap malam tidur di mushola, karena tidak punya tempat tidur di rumahnya. Mereka terlalu besar untuk tidur bersama orang tuanya, tapi juga terlalu kecil untuk ikut mengais padi di sawah. Di samping itu, entah sejak kapan, hal itu sudah menjadi tradisi. Menjelang magrib, anak-anak pergi ke mushola untuk mengaji ke kiyai kampung. Setelah isya berlalu, mereka nonton satu-satunya stasiun televisi nasional di rumah orang yang berpunya di dekat mushola. Malam harinya mereka kembali ke mushola dan tidur beralaskan karpet kasar nan suci itu, tanpa bantal. Selimut mereka adalah sarung yang berfungsi ganda, melindungi mereka dari kedinginan dan gigitan nyamuk. Aku termasuk bagian dari anak-anak itu.

*****

Kampungku dibelah oleh sungai intermitten, yang hanya berair pada musim hujan. Pada masa lampau, mungkin sungai itu masih bagian dari distributary channel Delta Cimanuk, karena jika dilihat dari peta, kampung kami terlihat menjorok ke arah pantai. Kini, hulu sungai itu sulit ditelusuri, karena sudah dijadikan alur irigasi dan tertimbun pemukiman.

Sungai itu menjadi aliran darah kampung kami. Penduduk menggunakan air sungai itu untuk mandi, mencuci pakaian dan bahan makanan, tempat buang air, hingga menjadi tempat mencari ikan air tawar. Pada musim hujan, airnya berwarna coklat pekat penuh koloid. Menjelang musim kemarau, air mulai berwarna hijau akibat tumbuh suburnya alga hijau. Airnya tidak pernah jernih, yang terjadi hanya perubahan dari satu warna ke warna lainnya. Yang jelas, apa pun warnanya, fungsinya tetap sama bagi kami.

Aku, dan anak-anak seusiaku pada umumnya, sangat suka berenang di sungai itu. Sungai itulah yang sempat menenggelamkanku, sekaligus mengajariku berenang setelahnya. Di sungai itu pula aku terbiasa mencari kerang air tawar, untuk kami jadikan salah satu menu terfavorit, baik dihidangkan bersama nasi putih berseri, maupun disandingkan bersama nasi aking yang kecoklatan.

Pada musim kemarau, sungai menjadi kering kerontang. Saat tidak ada air seperti itu, penduduk biasanya menggali sumur di dasar sungai itu. Satu keluarga menggali satu lubang untuk kebutuhannya sendiri, atau juga bisa dipakai untuk beberapa keluarga dengan kesepakatan sebelumnya.

Badan sungai itu biasanya dijadikan taman bermain, bahkan bermain bola, oleh anak-anak kampung. Meski tanpa air, penduduk tetap menggunakan badan sungai itu sebagai tempat buang air, sehingga bau tak sedap itu berkeliaran tak terkendali.

5 thoughts on “Desaku Oh Desaku…

  1. assalamu’alaikum, salam kenal….wah deskripsi tentang desanya bagus banget….tpi kok nama desa ne laka mas…?

  2. waalaikumsalam, salam kenal juga mbak rahayu. iya, nama desane sengaja diumpetaken, isin…🙂
    arane desa krangkeng, terletak di kecamatan krangkeng, indramayu bagian timur.

  3. oh..iya.., kerangkeng iku sing karangampel belok kanan ya arah meng cerbon kan….?
    era thun 90-an, ada sodara yg pernah jdi camat d kerangkeng tpi beliau meninggal krena kecelakaan…..
    bravo….jarang2 lho warga indramayu yg menganalisi indramayu sedemikian rupa….ok..smoga indramayu kita tambah maju dan sejahtera…amin..

  4. iya, persis, krangkeng iku perbatasan indramayu – cirebon.
    kesuwun atas dukungane mbak. bravo juga buat mbak rahayu. moga indramayu makin maju dan sejahtera…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s