Tetes Kristal dari Mata Ibu

Siang itu, matahari cukup terik. Berarak awan putih bersisik, menghias langit yang biru cerah, bagai lukisan takdir yang terbentang di atas kanvas cakrawala. Sesekali melintas sekawanan burung alap-alap yang terbang dengan garang, membentuk formasi bak jet tempur tentara sekutu. Angin bertiup dengan enggan, sesaat berhembus, lantas hilang dibalik rimbunan pohon pisang yang berbaris di sepanjang tanggul.

Irigasi basah tanpa genangan air tersisa. Hamparan padi tidak lagi luas, karena masa panen akan segera berakhir. Hanya beberapa petak sawah yang masih belum dipanen, termasuk yang dikelola oleh keluargaku. Sawah tidak lagi seramai saat puncak musim panen, hanya terlihat beberapa kerumunan petani yang tersebar hampir sejauh mata memandang.  

Siang itu aku diajak ibu ke sawah, sekedar untuk menemaninya. Sepanjang hari, aku cuma duduk di tanggul, sambil membuat kreasi patung binatang kesukaanku, yaitu kuda, dari tanah liat.

Ku buat kuda sepasang, dua-duanya jantan. Hasilnya tentu bisa ditebak. Anda, atau siapa pun, tidak akan bisa mendefinisikan binatang apa yang sedang ku buat waktu itu. Kepalanya seperti anjing, tapi tanpa leher. Badannya mirip kentongan yang belum dilubangi, dan diberi empat penyangga di depan dan belakangnya. Ekornya ku buat seperti tongkat pelari estafet. Satu-satunya ciri yang menunjukkan bahwa binatang yang ku buat itu kuda, adalah suaraku sendiri saat aku mainkan patung mungil itu. ”Ekhheee… Ekhheee…. Ekhheee….!!?”

Kuda-kuda itu seolah-olah sedang berlari berkejar-kejaran, menembus semak belukar, menerjang segala aral, mengabaikan panggilan kegagalan, meliuk dan terus berlari, hingga mencapai garis finish. Ku buat keduanya bergiliran mencapai garis finish itu, dan sepanjang jalan, ku buat keduanya saling menyalip bergantian. Suatu waktu, salah satu dari kuda itu jatuh terperosok, sehingga kuda lainnya dengan mudah menjadi pemenang. Begitu seterusnya. Untuk sesaat, aku berperan sebagai sutradara kehidupan bagi kuda-kuda itu.  

”Jo, lihat, ibu dapat apa ini…?!!”, tiba-tiba suara lantang ibuku menghentikan drama kuda yang ku mainkan. Ku lihat ibu mengangkat gumpalan jerami yang teranyam rapi, sebesar kepalan tangan ibuku. Bagian atas anyaman itu terbuka, bentuknya seperti gentong. Dari dalam benda itu terdengar suara anak burung yang mencicit meminta tolong. Aku riang bukan kepalang. Ku lempar kedua patung kuda minimalis itu. Ku berlari menuju ibuku, langsung ku sambar sarang berisi dua anak burung yang masih merah itu. Sejurus kemudian aku kembali ke tempatku semula, karena ibuku harus melanjutkan pekerjaannya.

Tidak seperti panen-panen sebelumnya, hari itu ibu memetik padi dengan anai-anai, bukan dengan arit. Sendirian. Kali ini, panen bisa dibilang gagal. Banyak padi yang tak berisi, sehingga harus dipilah. Hanya tangkai yang berisi saja yang dipotong, itu pun pucuknya saja. Pada saat seperti itu, hasil padi biasanya hanya seperlima, atau bahkan kurang, dari hasil yang didapat jika padi bisa tumbuh normal.

Aku begitu asyik dengan mainan baruku, dua anak burung yang masih merah. Ku ambil satu tangkai padi, ku petik satu biji, dan ku kupas dengan gigitan. Beras yang basah akibat ludahku itu dipotong jadi dua, lalu ku suapkan ke mulut jabang burung itu.

Setelah kedua-duanya menelan beras di mulutnya, aku bergegas mencari genangan air yang tersisa di sepanjang irigasi yang sudah mulai kering itu. Sedikit jauh, kudapati genangan air berwarna kuning kecoklatan, hanya selebar lengan mungilku.

Kuciduk air dengan kantung plastik. Secepat kilat ku berlari, kembali menemui anak-anak burung itu. Ku beri minum keduanya dengan tetesan air dari jari telunjukku yang tercelup.

Aku segera memberi tahu ibuku. ”Bu, burungnya sudah ku kasih makan dan minum..!!”.

Ibu menoleh, sambil tersenyum. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang keriput kecoklatan, tampak lebih tua dari usianya. Ku perhatikan, air matanya berlinang, menetes deras ke pipinya, hingga menitik ke dahanan padi yang tampak kering kusam.

Mukaku yang ceria mendadak mengendur lesu. Spontan aku berempati, meski sama sekali tidak mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan ibu waktu itu.

Senyumnya mulai memudar, lalu kembali merunduk, melanjutkan pekerjaannya memetik tangkai-tangkai padi yang mulai basah oleh air matanya itu. Mataku masih memperhatikan wajah ibu, yang masih terus saja menitikkan air matanya. Aku makin sedih, tapi aku juga makin tidak mengerti. Kenapa ibu menangis?

Aku beranjak bangun, berjalan pelan menuju ibu. Tepat di sampingnya, aku berdiri mematung. Ibu tampak tidak menyadari kehadiranku. Ku pegang tangan kiri ibu. ”Kenapa ibu menangis?”, tanyaku polos. Ibu sedikit terkejut, lalu menoleh. ”Ibu sakit?”, lanjutku.

Ibu segera mengusap air matanya. ”Ah, tidak Nak. Ibu tidak apa-apa.”

”Lalu kenapa ibu menangis?”, desakku. ”Tidak ada apa-apa, kok. Sudah! kamu kasih makan lagi itu burungnya. Nanti dia nangis lho..!?”. Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan.

”Tapi ibu kasih tahu aku dulu, kenapa ibu nangis?”. Ibu terdiam sejenak. ”Nanti ibu kasih tahu. Sudah sana! Itu burungnya sudah minta minum tuh.. tuh…?!”, Ibu mencoba menghalau pertanyaanku.

”Tapi ibu janji akan ngasih tahu aku ya?!”. ”Iya… sudah sana!”. Aku kembali meladeni burung-burung yatim piatu itu.

Tak terasa, matahari mulai condong ke barat. Bayanganku sudah sama panjangnya dengan tubuhku. Tak sehelai tirai pun yang menghalangi sinarnya yang keemasan. Langit sore makin cerah saja. Birunya belum juga pudar. Para petani mulai bersiap-siap meninggalkan sawah ladangnya.

Ku lihat ibu sedang berkemas, mengikat karung-karung yang telah berisi penuh tangkai padi. Dari arah barat, tampak seorang paruh baya bersepeda dengan tenangnya. Laki-laki itu mengenakan topi coklat gelap, kaos abu-abu kehijauan, dan celana panjang hitam, tanpa alas kaki. Wajahnya persegi, kumis dan janggut cukup tebal, kulit warna gelap kecoklatan. Dari kejauhan, tampak laki-laki itu menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Dia tampak luwes dan santun. Pasti banyak orang kampung yang mengenalnya.

Semakin lama, laki-laki itu semakin mendekat. Sesampainya di tempat kami, dia berhenti. Dia sandarkan sepedanya di pohon, lalu bergegas menghampiri kami. Dialah ayahku, yang bermaksud menjemput aku dan ibu. Ayah yang paling hebat di dunia!

“Sudah selesai bu?”, tanya ayah.

“Eh… bapak. iya pak, ini sudah selesai. Tinggal diikat saja.”, rupanya ibu tidak menyadari kehadiran ayahku. “Biar bapak saja yang mengikat Bu. Ibu istirahat saja dulu, sambil mengemasi barang-barang.” Ayah segera mengambil alih karung-karung itu. ”Jo, bantu ibu mengemasi barang-barang ya?!”, pinta ayah padaku.

”Baik pak.” Aku segera memasukkan anak-anak burung beserta sarangnya itu ke dalam rantang yang terbuka, bekas tempat nasi yang kami bawa dari rumah.

Tak lama berselang, kami selesai berkemas. Ayahku sudah mengangkat tiga karung tangkai padi itu ke atas sepedanya. Lalu kami bergegas meninggalkan petak sawah yang belum selesai dipanen itu. Ibuku akan melanjutkan memetik padi esok paginya.

Selama perjalanan pulang, aku naik di atas sepeda bersama karung-karung itu. Ayahku menuntun sepeda, sementara ibu mendorongnya dari belakang.

”Pak..?!”, sambil jalan pulang, ibuku memulai pembicaraan. “…Genjo kan minggu depan mau disunat. Sementara, sampai saat ini, kita belum punya uang. Bagaimana ini pak?”.

Ayahku cuma terdiam. ”Bapak kan tahu, panen kita kali ini gagal. Paling banyak kita dapat dua kwintal pak, itu cuma cukup untuk menyediakan berasnya saja. Belum lagi harus dibagi dengan pemilik tanah. Telur-telur bebek itu pun cuma cukup untuk makan dan bayar utang pada Bu Haji Marsiti.”

Ayahku masih membisu. ”Apa tidak sebaiknya bapak pergi ke rumah Kang Ratiyo, untuk minta pinjaman? Siapa tahu dia mau bantu, Pak. Dia kan sudah hidup enak di sana. Mobil dia sudah punya, rumahnya bagus, jadi lurah lagi.”

”Sudah, Bu. Bapak sudah menitipkan pesan ke Kang Munir, agar disampaikan ke Kang Ratiyo, kalau kita mau pinjam uang. Tapi…”, ayahku terdiam sejenak.  ”Tapi apa Pak…?!”, ibuku penasaran. ”Ah, sudahlah Bu. Sebaiknya kita cari cara lain saja untuk mendapatkan uang itu.”

Ibuku hanya diam. Air matanya kembali mengalir, laksana tetesan kristal kesucian cinta kasih yang takkan lekang termakan kurun.

Usiaku sudah menginjak enam tahun. Khitan adalah suatu kewajiban, sekaligus ritual sakral bagi anak laki-laki, terutama seusiaku. Ibu dan ayahku berniat untuk melaksanakan hajat itu.

Sudah menjadi tradisi pula, bahwa segala hajatan, entah walimatul khitan, atau malimatul ’ursy, dilaksanakan sesaat setelah masa panen. Tradisi itu menemukan logikanya sendiri, ketika melihat kondisi sosial-ekonomi masyarakat kampung kami yang amat bergantung pada sektor pertanian padi. Energi ekonomi berpusar pada titik masa panen, dengan batas terluar pusaran itu adalah masa paceklik.

Bagi kami, hajatan bukan persoalan kecil, jika diukur dari resiko biaya yang harus dikeluarkan. Tahun 1989, pilar ekonomi keluargaku masih bertumpu pada dua sektor: sekawanan bebek dan sepetak sawah, hasil sewa dengan sistim bagi hasil dengan tuan tanah. Pendapatan dari kedua sektor itu masih jauh dari cukup untuk makan dan tinggal secara layak. Tidak terbayangkan jika keluargaku harus menyiapkan uang ratusan ribu rupiah, untuk meng-khitan-ku.

To be continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s