Reorientasi ‘Perspektif’ dan ‘Dimensi’ Kalbu Indramayu

Kalbu Indramayu adalah salah satu forum mahasiswa asal Indramayu, yang anggotanya tersebar di berbagai kota: Bandung, Jogja, semarang, dan Jakarta. Forum ini didirikan pada tahun 2004, sebagai kumpulan mahasiswa penerima beasiswa dari Pemda Indramayu. Komitmen Kalbu Indramayu adalah untuk menghasilkan alumni-alumni yang diharapkan mampu memberikan kontribusi ril bagi kemajuan Indramayu di masa-masa mendatang.

Ketika akan merintis KALBU, saya mencoba memproyeksikan diri ke ‘alam masa depan’, untuk masa 10 – 20 tahun ke depan. Saya mencoba menangkap ‘pesan filosofis’ dari program learning camp yang sudah kita lalui bersama, tentunya juga dengan perspektif jangka panjang.

Di sisi lain, saya juga sadar, bahwa kita hidup pada masa sekarang; saat ini, di sini. Oleh karena itu, konteks ke-kini-an juga tidak bisa kita abaikan.

Dengan berlandaskan dua perspektif tadi, lalu saya susun satu untaian pemikiran, untuk menghimpun alumni-alumni learning camp ke dalam suatu wadah moral. Hasilnya adalah KALBU, dengan segenap kekurangan dan sedikit kelebihannya.

Jadi, sebelum jauh kita mengulas KALBU secara mendalam, perspektif kita harus utuh; jangka pendek dan jangka panjang. Munculnya stigma negatif tentang KALBU disebabkan karena perspektif jangka pendek tadi. Tidak salah memang, karena orang-orang di luar KALBU, bahkan mungkin sebagian warga KALBU sendiri, belum bisa melihat perspektif jangka panjang tersebut.

Lantas apa perspektif jangka panjang yang dimaksud? Tidak lain adalah “kiprah alumni KALBU di masa depan, di Indramayu khususnya, dan di tengah-tengah masyarakat pada umumnya”.

Dari sini terlihat, bahwa KALBU semestinya dilihat dari dimensi ‘manusia’nya, bukan ‘organisasi’nya. Sering saya katakan bahwa KALBU adalah ‘organisasi’ yang berorientasi ‘kepemimpinan’, kepemimpinan yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin (saya tentu tidak akan mengulas definisi ‘pemimpin’. Sudah cukup banyak pakar dan buku yang bisa dibaca untuk memahami istilah ini). Konsekuensi logisnya adalah: wujud KALBU merupakan ‘organisasi pembinaan’ yang orientasinya ‘ke dalam’.

Satu-satunya output utama yang diharapkan dari KALBU adalah lahirnya pemimpin-pemimpin tadi, baik dalam perspektif jangka pendek, maupun jangka panjang. Sekali lagi, bukan terletak pada performance ‘organisasi’nya, melainkan ‘manusia’nya.

Itu dulu dipahami.

Selanjutnya saya akan mengulas konteks jangka pendek – jangka panjang tadi secara lebih mendalam.

Perspektif Jangka Panjang

Saya teringat kata-kata Sang Proklamator negeri ini yang amat populer. Meski sudah bias, tapi kira-kira bunyinya seperti ini: “Beri aku sepuluh orang tua, maka aku akan angkat sebuah gunung. Tapi beri aku sepuluh orang pemuda, maka akan ku goncangkan dunia”. Saya berpikir sejenak, benarkah ‘hanya’ sepuluh orang? Tidakkah berlebihan bahwa jumlah yang amat sedikit bisa membuat suatu perubahan sedemikian besar? Lantas saya coba sedikit melongok ke masa-masa awal kemerdekaan RI, masa pada saat Sang Proklamator tadi hidup. Saya melihat fakta sederhana, bahwa sejarah hanya mengukir sedikit nama di balik peristiwa 1945 yang jadi tonggak lahirnya bayi bernama ‘Indonesia’. Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, M. Natsir, adalah bagian dari yang sedikit tadi.

Pada tahun 1957, Indonesia mulai mengirimkan beberapa mahasiswa ke USA, tepatnya di Univ. Berkeley. Mereka mendalami bidang ekonomi, dengan biaya dari Ford Foundation. Kira-kira 10 tahun kemudian, pada masa awal pemerintahan Soeharto, mereka kembali sebagai ‘arsitek’ ekonomi Indonesia. Soemitro, Widjojo, Emil Salim, JB. Soemarlin adalah bagian dari golongan yang sedikit, yang menentukan wajah ekonomi Indonesia hingga 32 tahun kemudian. Bahkan hingga 10 tahun setelah masa reformasi, 2008, jejak pondasi ekonomi yang mereka ‘cetak’ masih mengakar kuat. Kaderisasi pun berlanjut hingga Dorodjatun Koentjoro Jakti, dan terakhir Sri Mulyani, yang ditengarai masih satu aliran dengan sesepuhnya. Anda tentu tahu istilah ‘Mafia Berkeley’? Merekalah orangnya.

Mungkin saya cukupkan penjelasan saya sampai di sini, untuk meyakinkan bahwa: Tidak dibutuhkan banyak orang untuk membuat perubahan besar, pada tataran apa pun. Bahwa suatu perubahan butuh momentum dan banyak dukungan, ya !! Tapi hanya sedikit orang yang bisa membidani lahirnya momentum dan menarik dukungan tadi.

Langkah Bupati Indramayu untuk menyekolahkan ‘segelintir’ orang dari Indramayu, tentu didasari hasrat akan adanya perubahan besar. Lantas perubahan besar apa yang dikehendaki Pemda Indramayu? Tentu bukan pertanyaan yang penting untuk dijawab. Yang terpenting adalah, perubahan besar apa yang bisa diberikan oleh orang-orang yang disekolahkan tadi untuk Indramayu?

Kalau mau disederhanakan, KALBU adalah ‘tempat duduk’ untuk memikirkan, merenungi dan merencanakan jawaban atas pertanyaan tersebut. Setelah ketemu jawabannya, barulah ‘silahkan berdiri’ untuk melangkahkan kaki menjemput puncak perubahan. Jadi, jejak KALBU pada jiwa anggotanya adalah jawaban atas pertanyaan: “perubahan besar apa yang bisa saya berikan untuk Indramayu?”. Tidak lebih. Karena selebihnya Anda sendiri yang menentukan, dalam bidang apa, dengan cara apa dan dari mana memulainya.

Apakah berarti ke depan kita akan berjalan sendiri-sendiri untuk menyongsong perubahan besar tadi? Nah, inilah poin inti yang ingin saya sampaikan. Fakta sederhana yang ke dua adalah: perjuangan untuk suatu perubahan, betapa pun kecilnya, ia selalu bersifat ‘kolektif’, bukan ‘individual’. Untuk itulah dibutuhkan pertanyaan lanjutan, “langkah kolektif apa yang bisa kita lakukan untuk suatu perubahan besar di Indramayu?”.

Pengangguran, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, adalah sedikit dari akar persoalan yang melanda Indramayu. Bukankah tidak asing lagi kita mendengar “TKW asal Indramayu mengalami ini dan itu?”, “para petani dan nelayan di Indramayu gagal itu dan anu?”, “tingkat prostitusi, penjualan wanita dan anak di Indramayu masih begitu?”, dan seterusnya? Meskipun fakta-fakta seputar itu sekarang tertutupi oleh gegap gempita keberhasilan Pemerintah Daerah dalam membangun pilar-pilar simbolis.

Dibutuhkan langkah kolektif dan terintegrasi untuk mengatasi seabreg persoalan tersebut, tidak sepotong-sepotong, dan bergerak dari sendi yang paling dasar. Impossible itu semua bisa dilakukan, tanpa manusia-manusia yang punya ‘kapasitas besar’. Impossible itu semua bisa dilakukan, tanpa keselarasan langkah.

Indramayu butuh Soekarno-Hatta-Natsir-Syahrir yang baru, yang akan membebaskan Indramayu dari ‘penjajahan kemiskinan dan kebodohan’. Indramayu butuh “Mafia Berkeley” yang baru, yang akan menjadi ‘arsitek’ ekonomi-pertanian di Indramayu, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang hakiki.

Oleh karena itu, mari selaras dan serasikan langkah menggapai Indramayu masa depan yang jauh lebih baik dan bermartabat, di bawah naungan ridho dari Allah SWT.

Perspektif Jangka Pendek

Sebelum kita jauh terbuai oleh romantisme masa depan tersebut, mari kita kembali ucek-ucek mata kita, untuk menyadari keberadaan kita saat ini. Karena inilah yang seringkali menjadi ‘kerikil’ yang akan mematahkan langkah kaki perjuangan kita selamanya. Orang seringkali selamat dari batu sandungan yang besar, tapi tidak jarang yang terperosok jatuh akibat kerikil yang kecil.

KALBU yang masih ringkih, hadir di tengah-tengah komunitas kemahasiswaan Indramayu lainnya. Meski diawali dengan satu niatan tulus dan idealisme yang tinggi, tetap saja tidak pernah lepas dari kontroversi. Apa saja yang menjadi kontroversi tersebut? Itu tidak akan saya ulas di sini. Saya hanya mengajak KALBU untuk menempati posisi yang tepat, agar tidak terkesan ‘mengancam teritori’ organisasi lainnya, atau pun menyentil ego kemapanan kultural dan struktural kemahasiswaan Indramayu.

Sebagaimana saya uraikan di awal, hendaknya KALBU dilihat dari dimensi ‘manusia’nya, bukan ‘organisasi’nya. Saya sama sekali tidak keberatan, kalau ‘organisasi KALBU’ raib. Toh, paling lambat 2015, ketika kebijakan learning camp berakhir bersama Pak Yance di 2010, ‘organisasi KALBU’ akan pamitan juga. Tapi saya cukup risau, ketika ‘manusia KALBU’ yang luntur. Kalaupun harus memilih, biarlah ‘organisasi KALBU’ menghilang, tapi ‘manusia KALBU’ tetap utuh, daripada saya harus memilih sebaliknya.

Ingat, ‘manusia KALBU’ di sakunya ada 2 pertanyaan: (1) Perubahan besar apa yang bisa SAYA berikan untuk Indramayu?, dan (2) Langkah kolektif apa yang bisa KITA lakukan untuk perubahan besar di Indramayu?. Karena letaknya ada di ‘saku’, pertanyaan itu bisa Anda buang dengan mudah, jika mau. Tapi sebaiknya itu tidak Anda lakukan. Mengapa? Ada 2 alasan, (1) Pertanyaan itulah salah satu sumber kemuliaan hidup, yang bahkan Rasulullah sendiri memujinya, “sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia”. (2) Pertanyaan itulah yang merupakan ‘pesan filosofis’ dari program learning camp yang saya maksudkan di awal.

Kalau kita proyeksikan 2 pertanyaan tadi ke dalam perspektif jangka pendek, maka pertanyaannya menjadi: (1) Perubahan besar apa yang bisa SAYA berikan untuk kemahasiswaan Indramayu? Dan (2) Langkah kolektif apa yang bisa KITA lakukan untuk memajukan kemahasiswaan Indramayu?.

Terlihat paradoks memang. Satu sisi kita mendirikan ‘organisasi KALBU’, tapi semangatnya bukan membangun ‘organisasi KALBU’, melainkan untuk membangun ‘selain KALBU’. Sebenarnya kalau kita cermati ambiguitas ini, akan tersibak dengan jelas hakikat keberadaan KALBU bagi organisasi mahasiswa Indramayu lainnya. Tapi syaratnya kita harus benar-benar bisa membedakan antara ‘dimensi manusia’ dan ‘dimensi organisasi’ KALBU itu sendiri.

KALBU hadir bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih besar, yaitu ‘kemahasiswaan Indramayu’. Itu tidak lain, karena ‘dimensi manusia’nya yang berperan. KALBU akan sangat bangga ketika ‘manusia’nya menjadi pelopor di IKA DHARMA AYU, menjadi penggerak di HIKMI, menjadi motor di KAPMI, serta menjadi agen-agen perubahan dalam kemahasiswaan Indramayu di mana pun.

Dengan semangat itu, kita akan menempatkan persoalan-persoalan yang sifatnya ‘formal-kelembagaan’ antara KALBU dengan organisasi mahasiswa Indramayu lainnya, ke dalam prioritas ke sekian, mungkin ke seribu. Dan dengan perspektif demikian pula, maka segala friksi dan gesekan-gesekan ‘kekanakan’ akan bisa kita sikapi dengan lebih bijak.

Terakhir, bagi siapa pun yang ingin ‘maju’ membangun KALBU, bangunlah ‘manusia’nya, bukan ‘organisasi’nya. Namun demikian, bukan berarti kita abaikan sama sekali. Bangunlah dimensi organisasi Kalbu dengan elok dan elegan, karena itu akan diperlukan untuk membangun dimensi manusianya.

Wallahu a’lam

7 thoughts on “Reorientasi ‘Perspektif’ dan ‘Dimensi’ Kalbu Indramayu

  1. Assalamuallaikum,
    Mohon maaf saya mungkin bodoh dalam menangkap gegap gempita nya kata-kata dalam tulisan ini, mungkin juga saya awam dalam memahami cita-cita luhur ini, tapi terus terang saya belum melihat bagunan besar apa yang sedang dirancang tuk mengubah dan memperbaiki kondisi “Pengangguran, kemiskinan, kebodohan keterbelakangan,TKW asal Indramayu mengalami ini dan itu?, “para petani dan nelayan di Indramayu gagal itu dan anu?”, “tingkat prostitusi, penjualan wanita dan anak di Indramayu masih begitu?”, dan seterusnya?.

    langkah kolektif yang bagaimana yang mampu memberi warna baru dan harapan baru buat indramayu? kasih saya model bangunannya dan mari kita diskusikan dan lakukan langkah-langkah kecilnya dari sekarang bersama, dengan yang lain,karena harus kita sadari membangun indramayu bukan serta-merta hak ekslusif warga kalbu indramayu tapi juga hak orang lain di luar kalbu yang juga peduli indramayu.

    Sekedar nambahain permohonan, harapan saya sih bukan cuma gambaran bangunan besarnya secara umum tapi juga langkah mekanistis dan realistis untuk wujudin itu. hatur nuhun kang..

    Waalamuallaikum, wr.wb
    manusia biasa yang peduli indramayu

    • Wa’alaikumsalam..
      Seperti yg Junarih sampaikan, bahwa membangun Indramayu bukan hak ekslusif warga Kalbu Indramayu, maka menyusun bangunan/gambaran besarnya, serta langkah mekanistis dan realistisnya juga bukan hak ekslusif saya..🙂
      Itulah salah satu fungsi Kalbu, yaitu menghimpun pemikiran dari warganya utk menyusun bangunan besar, langkah mekanistis dan realistisnya bersama-sama. Sebagai catatan, kita tentu tdk berambisi utk menyelesaikan persoalan itu secara keseluruhan di pundak kita (Kalbu Indramayu). Ada porsi orang lain/komunitas lain. Titik tekan ide sy di atas adalah “dalam bidang apa kita bisa berkontribusi?”, dan itu perlu pemikiran dan langkah bersama utk mewujudkannya. Pemikiran dan ide satu orang (saya pribadi) tentu jauh dari cukup..
      Btw, kerja di mana sekarang kamu Jun?

  2. Ping balik: Kumpulan Artikel Al-Wordpressi Mengenai Mafia Berkeley « ARIEFMAS's WEBLOG

  3. Ping balik: Kumpulan Artikel Wordpress Mengenai Mafia Berkeley « ARIEFMAS's WEBLOG

  4. Assalamu’alaikum.

    Knp cuma hmpunan anak2 learng camp aja?
    Pdhl g hnya mhsswa alumni learngcamp aj yg brpotensi..
    Knp g d kmbngkan hmpunan mhsswa se imy?
    Jd smw mhsswa imy jg bsa gabung/jd pngurus.. G cuma yg alumni learngcamp aja…
    Kesuwun..

    • Waalaikumsalam..
      “Knp cuma himpunan anak2 learng camp aja?”
      Jawab; karena saya ada di komunitas learning camp. Setiap kita punya “wadah” dan “tempat berpijak” masing2 untuk “memulai” bergerak dan berkontribusi. 1000 langkah selalu dimulai dari langkah pertama. Karena itu, yg realistis adalah: mulailah dari lingkup terkecil di mana kita berada di dalamnya.

      “Padahal g hnya mhsswa learng camp aj yg berpotensi”
      Jawab: betul 1000%. Tdk ada tulisan saya yg mengklaim bhw mahasiswa “di luar learning camp” tdk berpotensi. Karena itu silahkan yg di luar learning camp jg “bekerja”, dan bila ada hal yg bisa dilakukan bersama, mari bersinergi.

      “kenapa g d kembangkan himpunan mhsswa se imy?”
      Saya tdk berwenang menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan yg ideal memang, tetapi faktanya tdk mudah “menyatukan” kemahasiswaan Indramayu seluruhnya. Lagipula, sudah ada inisiatif dari beberapa org alumni learning camp utk membentuk “AMIN (Aliansi Mahasiswa Indramayu Nusantara” bersama wadah organisasi lainnya. Ini salah satu bentuk konkrit kepedulian mahasiswa “learning camp” untuk mendekati konsep “himpunan mahasiswa se imy”.

      “… G cuma alumni learng camp aja…”
      Jawab: betul. Kalau Hana ada di dalam lingkungan learng camp, mari gabung. Tetapi kalau di luar learng camp, silahkan bergabung dg wadah apa saja selagi tujuannya positif utk membangun Indramayu. Membentuk “wadah tunggal” bagi semuanya adalah impian kosong. Yg realistis, sekali lagi, adalah “bersinergi”. Satu wadah dan wadah lainnya bersinergi….

      Kesuwun masukane.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s