Divergensi Peran, Konvergensi Visi: Perspektif Memaknai KALBU

‘Dimensi Organisasi’ dan ‘Dimensi Manusia’ Kalbu: Paradoks Pertama

Untuk menganalisis Kalbu secara lebih tajam, kita harus terlebih dahulu mengenali ‘dimensi organisasi’ dan ‘dimensi manusia’nya. Tujuan hakiki dari pendirian Kalbu sesungguhnya adalah menyangkut ‘dimensi manusia’nya (sebagaimana pernah saya tekankan pada artikel sebelumnya).  Pengembangan ‘dimensi organisasi’ Kalbu sejatinya diarahkan untuk mendukung pembangunan ‘dimensi manusia’nya.

Sebagian anggota Kalbu mungkin menilai, bahwa kegiatan Kalbu akhir-akhir ini mulai surut. Gegap gempitanya mulai redup. Keaktifan anggotanya menyusut. Milisnya makin sepi. Kerjasama dengan organisasi mahasiswa Indramayu lainnya mulai tidak nampak. Dan yang vital, intensitas silaturahim antar anggota mulai berkurang. Perlu diketahui, selain persoalan yang terakhir disebutkan, sebagian besar ‘realitas-realitas’ tersebut menyangkut ‘dimensi organisasi’ Kalbu. Artinya, itu adalah persoalan-persoalan sekunder Kalbu, meskipun bukan berarti kita abaikan sama sekali.

Sewaktu saya menanyakan kepada salah seorang pengurus Kalbu, “Kenapa Kalbu kok sepi-sepi aja?”. Dia menjawab, “Kita masih fokus ngurusin beasiswa kang, khususnya untuk anak-anak 2008 yang terancam DO”. Saya terenyuh. Jika memang benar, saya menilai apa yang dilakukan oleh pengurus Kalbu sudah tepat. Mengapa? Itulah salah satu contoh persoalan primer yang menyangkut ‘dimensi manusia’ Kalbu. Sampai di sini, sepintas mungkin akan samar membedakan ‘dimensi manusia’ Kalbu dengan ‘kepentingan pribadi’ anggotanya, sebagaimana tersirat dari persoalan beasiswa tadi. Untuk itu, mari kita lihat di mana ‘irisan’nya.

Bila ada seorang mahasiswa asal Indramayu terancam DO, secara langsung, memang itu persoalan pribadi (juga keluarganya). Orang sekitarnya pun secara simultan akan tergerak membantu karena empati dan naluri kemanusiaan. Namun, konsekuensi persoalannya kadang tidak sesederhana itu. Tengoklah beberapa pertanyaan berikut. Bagaimana jika ia sebenarnya anak yang berbakat, bahkan berpotensi menjadi ‘orang besar’? Bagaimana jika anak itu sebenarnya memendam obsesi yang agung untuk memajukan masyarakatnya? Bukankah di masa depan ia akan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya? Akankah peran-peran besarnya di masa depan terhalang oleh himpitan finansial ‘semata’? Jika memang demikian kondisinya, Indramayu patut sedih.

Pertanyaan-pertanyaan di atas menggambarkan bahwa benang merah antara keduanya (‘kepentingan Kalbu’ dan ‘kepentingan pribadi anggotanya’) adalah ‘peran anggota Kalbu di masa depan’. Mengapa? Analogi berikut ini mungkin akan memperjelas maksud saya.

Ada dua tebing terjal yang dipisahkan oleh ngarai yang menganga dan dalam. Sisi tebing yang satu adalah ‘kepentingan pribadi’, sisi lainnya adalah ‘kepentingan masyarakat Indramayu’ (kepentingan sosial dalam konteks Kalbu), dan ngarai itu adalah ego dan ambisi pribadi! Kedua tebing itu dihubungkan oleh jembatan ‘kontribusi’, atau bahasa lainnya ‘peran’. Keberadaan ‘dimensi organisasi’ Kalbu adalah untuk membangun dan mengokohkan jembatan ‘peran’ anggota Kalbu bagi Indramayu. Ego dan ambisi pribadi tentu tidak bisa dihilangkan sepenuhnya (sebagaimana kita tidak mungkin mengurug ngarai yang memisahkan dua tebing), tapi ‘peran’ itulah yang akan menjembataninya.

Peran-peran besar tentu harus ditopang oleh prestasi-prestasi besar dari manusia-manusia yang punya kelimpahan mental untuk berbagi terhadap sesamanya. Dari sini terlihat ada dua aspek mendasar yang harus dibangun dalam diri ‘manusia Kalbu’. Pertama, pengembangan kapasitas. Ke dua, pengembangan moralitas. Pengembangan kapasitas diri menyangkut wawasan, keahlian, profesionalisme, jaringan, serta kemampuan untuk menghasilkan karya-karya positif. Pengembangan moralitas menyangkut pembangunan mental-spiritual yang mengarah kepada semangat untuk berbagi serta keberanian mengambil peran di tengah masyarakat, tentunya setelah ditopang oleh kapasitas tadi. Pada titik inilah, ‘kepentingan (yang seolah-olah) pribadi’ bagi anggota Kalbu menjadi ‘kepentingan Kalbu’. Inilah letak paradoksnya.

Divergensi Peran, Konvergensi Visi: Paradoks ke Dua

Dengan menekankan pada aspek pengembangan ‘dimensi manusia’ Kalbu, setidaknya ada dua konsekuensi yang melekat. Pertama, Kalbu mewujud menjadi semacam ‘organisasi pembinaan’. Tentu, maksud pembinaan di sini sama sekali tidak terkait dengan ideologi tertentu, layaknya sekte-sekte religi, atau ‘isme-isme’ sosial. Pembinaan di sini difokuskan pada bagaimana agar anggota Kalbu memiliki visi pribadi dan visi sosial yang jelas. Selanjutnya, bagaimana agar tangga demi tangga untuk mencapai visi itu mulai dipijak dan dirintis bersama.

Ke dua, karena pada dasarnya setiap individu punya kecenderungan, bakat-bakat, serta cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuannya, maka pembinaan di Kalbu sifatnya persuasif dan terdiversifikasi. Kalbu tidak hendak memaksakan, atau bahkan sekedar memberikan pilihan terbatas, pada anggotanya. Kalbu juga tidak menghendaki adanya ‘penyeragaman’ yang melucuti karakter. Memang, Kalbu menginginkan setiap anggotanya memiliki visi, tetapi apa pun visinya, itu sepenuhnya merupakan kehendak bebas dari nurani masing-masing. Kalbu harus membiarkan, sekaligus memberikan program-program yang mendukung, pertumbuhan bakat setiap anggotanya.

Kita tahu bahwa kehidupan bermasyarakat dan barbangsa memiliki banyak dimensi: ekonomi, politik, sosial-budaya, agama, serta sektor-sektor turunannya. Dalam lingkup wilayah yang lebih kecil pun, misalnya kabupaten, tidak akan banyak mereduksi kompleksitas bidang-bidang tersebut, kecuali intensitas atau mungkin cakupannya saja. Oleh karenanya, membangun atau memajukan kehidupan suatu masyarakat, pada tataran apa pun, jelas bukanlah perkara sederhana.

Namun demikian, jika kita cermati, setiap bidang-bidang kehidupan tersebut memiliki ‘aktor-aktor kunci’. Karena sifatnya ‘kunci’, tentu tidak banyak sosok dalam lingkaran tersebut. Pertengahan dekade 1990-an, hampir setiap anak bangsa ini menyaksikan karya besar seorang Habibie, yang berhasil menerbangkan N250, pesawat jet komersil yang bisa disejajarkan dengan produk Boeing (AS) maupun Airbus (Eropa). N250 hanyalah puncak gunung es dari serangkaian prestasi pengembangan teknologi yang dilakukan Habibie di Indonesia. Sayangnya, gunung es itu harus meleleh oleh arus panas yang mengalir deras dari kubangan ekonomi-politik.

Dalam bidang ekonomi, kita pun mengenal ‘aktor kunci’ yang lain, Widjojo, yang diyakini sebagai arsitek sekaligus peletak batu pertama pondasi ekonomi orde baru. Begitu sentralnya peran Widjojo, sampai pada masa itu berkembang istilah “widjojonomics”. Ide dan pemikiran ekonominya kemudian diwariskan dan dikembangkan secara turun temurun oleh ‘mafia berkeley’. Salah satu aktor kunci yang bisa kita saksikan kiprahnya hari ini, di antaranya ialah Sri Mulyani, sosok menteri keuangan terbaik di Asia, yang diyakini punya peran besar dalam pembangunan ekonomi pada periode SBY. Siapa pun yang mengamati kondisi departemen keuangan saat ini, akan sulit membantah prestasi kepemimpinan ekonom UI yang satu ini.

Dalam bidang-bidang yang lain, kita pun akan dengan mudah menemukan aktor-aktor kunci. Yang jadi persoalan, kadang di antara aktor-aktor kunci ini tidak terjalin kesamaan visi, keharmonisan langkah, atau bahkan sekedar ‘empati sektoral’ (saling memahami urgensi bidang yang lain), apalagi kerjasama yang saling menguatkan satu sama lain. Dekade 1990-an, masih menceritakan kiprah sosok di atas, kita menyaksikan ‘perang dingin’ antara dua paham: “widjojonomics” versus “habibienomics”, yang berakhir dengan rontoknya “habibienomics”. Andai saja keduanya bisa bersinergi, tentu kondisinya akan jauh lebih baik.

Meski lingkupnya jauh lebih besar, uraian pendek tentang ‘aktor-aktor kunci’ di atas memberikan beberapa pelajaran penting bagi Kalbu. Pertama, jika kita ingin memiliki ‘peran besar’ dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Indramayu, kita harus berani bervisi untuk menjadi ‘aktor kunci’. Ke dua, agar efektif, aktor-aktor kunci ini harus tersebar di berbagai bidang. Ke tiga, aktor-aktor kunci ini harus mampu bersinergi. Di sinilah paradoksnya: kita harus menyebar ke berbagai bidang (divergensi peran) dan, pada saat yang sama, kita harus memiliki satu visi (konvergensi visi). Visi yang dimaksud adalah membangun Indramayu.

Melihat ‘prestasi’ akademik yang dimilikinya, saya cukup yakin bahwa anggota Kalbu punya potensi untuk menjadi ‘aktor-aktor kunci’, khususnya dalam lingkup Indramayu. Namun, seberapa banyak yang bisa menjadi aktor kunci, bergantung pada seberapa banyak yang mau mengembangkan potensinya. Inilah tantangan terbesar Kalbu.

Background jurusan yang beragam juga menjadi peluang bagi anggota Kalbu untuk berkiprah dalam berbagai bidang. Pertanyaan besarnya, sudahkan kita punya visi yang jelas, dalam bidang apa kita akan berperan? Pertanyaan ini menuntut konsekuensi yang lain, yaitu: kompetensi apa yang kita miliki dan akan kita kembangkan?

Apa pun bentuk programnya, Kalbu harus bisa membantu anggotanya untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, karena “peran anggota Kalbu bagi Indramayu di masa depan” adalah makna terdalam dari ‘dimensi manusia’ Kalbu. Dan inilah persoalan pimer yang harus kita pecahkan bersama. Oleh karenanya, sepinya ‘kegiatan’ Kalbu tidak lebih merisaukan dibandingkan sepinya ‘prestasi’ anggota Kalbu.

2 thoughts on “Divergensi Peran, Konvergensi Visi: Perspektif Memaknai KALBU

  1. Pada dasarnya saya sepakat dengan apa yang digambarkan Mas Dira tentang Kalbu. Namun sejauh yang saya tahu, pemahaman-pemahaman yang seperti ini belum tersampaikan kepada anggota sepenuhnya. Bahkan sebagian besar anggota masih merasa bingung tentang keberadaan Kalbu itu sendiri (1).

    Kalau menurut saya, jika Kalbu memang mengarahkan pergerakan organisasi ke arah pembangunan “dimensi manusia” nya, maka ke depan, Kalbu seharusnya perlu membuat sebuah desain yang terintegrasi dan sistematis dalam upaya pembangunan anggota-anggotanya serta komponen-komponen apa saja yang sebaiknya diberikan kepada anggota (2).

    Dari dulu saya selalu berharap akan adanya suatu momem khusus yang bertujuan untuk membahas kedua hal di atas (1 dan 2) yang di dalamnya dihadiri oleh seluruh anggota Kalbu bersama dengan beberapa orang yang memang tahu betul bagaimana latar belakang pendirian Kalbu. Dari momen tersebut saya berharap bahwa anggota Kalbu termasuk saya dapat mengerti betul kemana dan bagaimana arah pergerakannya.

    Walaupun saya memposisikan diri saya sebagai tokoh yang antagonis di Kalbu, saya tetap berharap bahwa ke depan, Kalbu akan tetap berdiri di antara teman-teman mampu memecahkan persoalan-persoalan tersebut.

    Saya rasa cukup seperti itu aja komentar dari saya,,,

    btw, kapan maen ke Bandung Mas?

  2. Saya sadar pemahaman2 mendasar ini belum sepenuhnya tersampaikan. Apalagi bagi anggota baru yg belum sempat berinteraksi langsung. Untuk itu blog ini sengaja saya buat sebagai salah satu referensi bagi anggota Kalbu. Di samping itu, anggota2 yang lebih dulu mengenal Kalbu juga sebaiknya ikut mensosialisasikannya (termasuk kamu Khris🙂 ).
    Oiya, kalau sempat, insyaAllah akan saya sampaikan pada acara suksesi Kalbu, mengenai konsep awal bagaimana pengembangan Kalbu ‘pasca kampus’. Masukan dari anggota Kalbu, khususnya yang akan memasuki periode ‘pasca kampus’ sangat diharapkan.
    Trims atas masukannya Khris.
    InsyaAllah akhir Maret ini saya mau ke Bandung lagi, sudah kangen euy dengan ‘dinginnya’ Kota Kembang, meski sudah mulai panas juga :)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s