Mahasiswa dan Abdi Negara Dalam Pusaran Penyimpangan

Belum lama ini, seorang kawan bercerita tentang kisah sebuah kemahasiswaan daerah. Dia bertutur dengan luapan emosi yang mendalam, pertanda itu muncul dari jeritan polos hatinya. Tergambar dari ceritanya itu, benih-benih kerusakan moral di kalangan muda-intelektual pewaris bangsa. Mereka baru saja mewarisi satu sistem kemahasiswaan daerah yang memiliki kebiasaan ’bermain api’ dengan penguasa lokal tempat mereka berasal.

Pada dasarnya, apa yang dilihat dan dialaminya, ibarat sebutir pasir di hamparan gurun penyimpangan di negeri ini. Andai saja tiap individu mampu menghempaskan sebutir pasir itu bersama angin benua, niscaya bangsa ini akan keluar dari persoalan paling akut.

Sayangnya, yang terjadi tidaklah demikian. Perjuangan melawan korupsi – kolusi adalah jalan senyap dan marginal, kecuali bagi individu-individu yang diberkati kemuliaan dan kekuatan adikodrati. Biasanya, mereka yang tetap berpegang pada nurani dan kebajikan, melakukan upaya perlawanan itu dengan rigid bersama sekelompok kecil manusia-manusia langka. Mereka inilah para patriot dan pembaharu peradaban.

Namun demikian, upaya itu takkan banyak bermakna bila dilakukannya seorang diri. Sikap dan pendiriannya hanya akan jadi model moralitas yang tidak membumi. Kehadirannya di tengah-tengah pranata sosial hanya akan jadi duri dalam daging yang penuh lemak dosa.

Sebagai mahasiswa daerah, sepatutnya mereka mengkristalkan idealisme, bukan malah menjadi pion dalam percaturan politik kelas bulu. Sebagai generasi muda, semestinya mereka bermetamorfose menuju pematangan karakter, bukan malah mengebiri dan menggadaikannya kepada para pialang tahta. Sebagai entitas penyeimbang kebijakan publik, khususnya di daerah, semestinya mereka secara proaktif – serta dengan kepala tegak – melakukan dialog-dialog cerdas dan empatik dengan pemangku otoritas, bukan malah membungkuk menjadi ’abdi dalem’ berkedok kemahasiswaan.

Selalu Ada Justifikasi!

Perlu kita mafhum, bahwa orang yang melakukan kolusi – korupsi (atau deal-deal kotor apa pun) selalu memiliki justifikasi/pembenaran. Bisa jadi ’kondisi lingkungan’, termasuk di dalamnya keluarga, yang jadi kambing hitam. Atau, ada semacam ketakutan akan hari esok, seolah nasib tidak akan berpihak kepadanya, jika ia tidak melakukan tindakan amoral itu. Tapi itu manipulatif!

Seorang pemulung, yang sengaja mengambil barang yang masih menjadi milik sah orang lain, punya pembenaran. Bisa saja ia menyalahkan takdir, atau ketidakdermawanan si kaya, atau ketidakadilan penguasa, atau lingkungan yang menindas keras tulang punggungnya yang semakin renta. Atau ada semacam ketakutan jika keluarganya tidak bisa makan, bahkan mati kelaparan!! Seolah hukum mencuri menjadi sah karena alasan dramatis itu. Ah, skenario ’Si Ifrit’ kerapkali mengundang simpati dan iba.

Seorang eksekutif madya perusahaan, melakukan entertain – bentuk paling halus dari kolusi – terhadap klien, juga punya justifikasi. Keberlangsungan bisnis menjadi alasan empuk dan melenakan. Seolah, jika ia tidak melakukan itu, rejeki dari langit akan tertahan, bisnis tidak akan mulus, perusahaan akan pailit. Atau, ada semacam ketakutan, jika ia tidak melakukan itu, target-target nominal yang dibebankan kepadanya tidak akan tercapai, dan ia akan dipecat! Lantas jika itu terjadi, bagaimana dengan nasib keluarganya? Ah, lagi-lagi ’mahluk yang mengeluarkan Adam dari surga’ itu membuat kita mengangguk dua – tiga kali.

Seorang pejabat publik yang melakukan penyalahgunaan wewenang, juga punya daftar panjang justifikasi. Menerima suap dengan dalih ’uang terima kasih’. Memberikan suap dengan alasan ’kelancaran operasional’ atau demi ’kepentingan bersama’. Melahap uang negara dengan dalih ’kompensasi kinerja’ atau ’jatah wajar’ karena telah menyukseskan megaproyek infrastruktur publik. Dia menjadikan semua kerabatnya ’berseragam abdi negara’ – meski nir kompetensi, wan prestasi, dengan dalih menolong dan mengangkat martabat orang-orang terdekatnya. Atau, ikut menerima ’jatah bagi rata’ sebagai bonus fiktif lembaga atas jasanya menggolkan masuknya kontraktor tertentu dalam proyek-proyek negara. Ketakutan menentang arus, konsekuensi pengucilan dari mainstream, atau fobi mutasi oleh atasan, menjadi pelengkap eloknya drama teatrikal kebejatan moral itu!

Sekumpulan mahasiswa melakukan sejumlah deal politik dengan politisi lokal, menjadi kepanjangan tangan penguasa haus tahta dan lapar kuasa, juga punya cerita tersendiri. Kepentingan organisasi seringkali menjadi alasan yang terdengar ’sopan’, untuk menutupi ketidaksantunan prilaku organisasi. ”Bagaimana nasib organisasi kita nanti, jika subsidi itu dicabut, proposal dipersulit, dana kesekretariatan tidak ada? Bukankah itu akan menyulitkan gerak kita dan adik-adik kita nanti? Organisasi kita akan mati!”. Ehm, nice argue, mengundang simpati, tapi betul-betul mengelabui nurani!

Muasal Penyimpangan

Kawan, saya tidak bermaksud menguliahi, tapi perkenankan saya goreskan beberapa pesan moral di sini, sebagai refleksi dari pengembaraan pribadi dalam mengais makna.

Saya melihat, seringkali orang melakukan tindakan amoral, bukan karena dia jahat secara genetik, atau faktor hereditas. Bukan juga karena ia memang terlahir sebagai tokoh antagonis dalam drama panjang kehidupan, atau semacam rahwana dalam epik ramayana.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kita melakukan tindakan penyimpangan, khususnya yang bertalian erat dengan kolusi – korupsi. Mungkin ini terlalu menyederhanakan persoalan, tapi Anda bisa lakukan assesment terhadapnya.

Pertama, sistem atau lingkungan yang buruk. Sebagaimana saya urai di atas, lingkungan acapkali menjadi kambing hitam. Terlepas dari patut atau tidak menyalahkan lingkungan, tetapi memang lingkungan senantiasa berdialog dengan nilai-nilai individu dalam wujud stimulus – respon yang dinamis dan ekspansif! Tidak jarang, seorang yang ’bersih’ pada awalnya, menjadi tidak lagi pada akhirnya. Ia mulai terlibat ’aksi panas’ itu. Sekali, hati kecilnya berontak. Dua kali, hati kecilnya teriak. Tiga kali, hati kecilnya bicara. Empat kali, hati kecilnya berbisik. Lima kali, nyaris tak terdengar. Enam kali, sambil bersiul. Tujuh kali, sekalian promosi!!

Sulit untuk mengatakan bahwa orang ini ’tidak baik’, karena sebenarnya semua keturunan Adam punya nurani sebagai neraca moral. Dawai hati itu akan tetap bergetar, meski dalam frekwensi yang amat halus, menyuarakan ”korupsi adalah dosa, kolusi adalah nista!”. Tetapi, pembiasaan yang diajarkan lingkungan benar-benar meresap ke dalam sum-sum tulang belakang dan membutakan mata batinnya.

Ke dua, dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ini juga seringkali menjadi perangkap maya bagi seseorang hingga ’terpaksa’ mencicipi manisnya kolusi – korupsi. Satu contoh kecil, sebuah organisasi mahasiswa daerah, terlibat kongkalingkong dengan pialang tahta (calo politik) selama beberapa kurun, hingga membudaya. Masing-masing pihak merengkuh keuntungan semu yang tak seberapa, tapi benar-benar memperdaya. Bagi sang pialang, transaksi itu bisa mengukuhkan posisi di mata ’paduka’nya, bahwa dia memang pemilik simpul massa strategis, atau kutub pergerakan mahasiswa yang siap menggoyang singgasana tanpa kompromi. Alhasil, sang pialang bisa tetap melenggang di sekeliling pusar kekuasaan.

Sementara bagi organisasi mahasiswa daerah, simbiose mutualistis – pragmatis itu bisa memberikan kenyamanan fiktif yang mampu meninabobokkan pusat kesadaran kritisnya. Jaminan dana kesekretariatan, licinnya proposal kegiatan, dan sejumlah kemudahan lainnya, menjadi setetes madu yang bisa membius mahasiswa-mahasiswa tunakreativitas dan miskin idealisme! Ajaibnya, para mahasiswa tadi benar-benar menikmati dependensi yang memalukan itu. Enggan lepas. Bagai seekor gajah yang sedari kecil terbelenggu rantai, sampai rantai itu dianggap penjaga hidupnya. Tanpa rantai, gajah tadi malah panik tak keruan. Aneh.

Tapi, siapa sangka, dari kacamata para mahasiswa itu, putusnya ’rantai gajah’ tersebut dianggap petaka. Seolah, tanpa itu, segalanya berakhir nestapa bagi organisasi dan generasi pewarisnya.

Tidak dipungkiri, bagi segelintir mereka yang masih menyisakan idealisme di relung sanubarinya, ’rantai gajah’ adalah kenistaan. Untuk itu, ia mesti dilibas hingga berkeping-keping. Baginya, ’rantai gajah’ amat dilematis. Dilepas tak tega, direngkuh dosa.

Ke tiga, rapuhnya karakter. Jelas, ketika stimulus destruktif datang dari segala penjuru, dan ketika tidak ada lagi ruang untuk berkelit, yang menentukan hanya daya tahan karakter. Semakin rapuh, semakin cepat terkorosi. Sesaat saja ter-sibghah, menjelmalah ia menjadi sosok pragmatis. Na’udzubillah

5 thoughts on “Mahasiswa dan Abdi Negara Dalam Pusaran Penyimpangan

  1. gw suka tulisan lo…sangat menyentuh kesadaran…
    semoga getar halus dawai hati orang-orang yang korupsi yang walopun dalam frekuensi rendah terus menyadarkan mereka untuk kembali ke Rob-nya, kembali ke jalan yang diridhoi-Nya…Amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s