Pribadi Utuh: Menggapai Keagungan (Greatness)

Tulisan sebelum ini telah mengulas tentang empat komponen penyusun manusia: fisik, pikiran (mental), emosional (perasaan) dan hati (jiwa). Untuk menggapai keagungan pribadi, empat komponen ini mesti kita berdayakan. Ini bukanlah pilihan – kita harus memberdayakan keempatnya sekaligus.

Jika kita bedah, berikut ini empat upaya yang dianjurkan oleh Covey, dan saya sependapat dengannya, untuk menuju keagungan pribadi.

Pertama: visi. Atau, orang sering menyebutnya “mimpi”. Ya, visi hidup adalah sebentuk pemberdayaan pikiran (mental), yang akan menuntun kita pada arah yang kita tuju. Tanpa visi, kita akan terus ‘menari’ mengikuti ‘gendang’ kehidupan yang seringkali ‘ditabuh’ oleh orang lain. Kita akan terus menjadi ‘korban’ pengaruh lingkungan, tren mode, kecenderungan sosial. Tanpa visi, sadar atau tidak, kita telah menyerahkan ‘kemudi’ kapal kita sendiri kepada orang lain.

Dalam 7 Habits, Covey telah memberikan panduan yang baik bagaimana menyusun visi ini. Segala sesuatu memang diciptakan dua kali: dalam alam “pikiran” dan “kenyataan”; dalam “desain” dan “realisasi”; dalam “maket” dan “konstruksi”. Juga dalam “lauh mahfudz” dan “alam dunia”. Dan saya sepenuhnya sependapat bahwa sebuah visi harus dimulai dari ujung perjalanan hidup kita: kematian. Ingin mati sebagai apakah kita? Bagaimana akhirnya manusia setelah kita – dan malaikat pencatat prestasi amal – menilai kualitas hidup kita?

Pertanyaan ini jauh lebih mendasar daripada sekedar: mau jadi apa kita? Untuk menggapai ‘kesuksesan’, pertanyaan ini mungkin cukup. Tetapi untuk sebuah ‘keagungan’ (greatness), jelas kurang memadai, karena bisa jadi pertanyaan “mau jadi apa” itu dijawab hanya dengan pencapaian sementara.

Ke dua, disiplin. Disiplin adalah pemberdayaan fisik, yang mewujud menjadi tindakan nyata yang sejalan dengan visi.  Disiplin tidak melulu identik dengan situasi protokoler: semua serba teratur dan menjemukan, tanpa spontanitas – yang justeru menjadi pelentur dan pemanis kehidupan.

Visi yang hebat selalu membutuhkan disiplin yang ketat untuk mencapainya. Disiplin adalah “harga” yang harus “dibayar” untuk menggapai visi. Disiplin juga mencerminkan ‘konsistensi’ dan ‘fokus’ yang kuat. Ia menuntut suatu kebiasaan yang sejalan dengan visi dan terus diulang-ulang. Satu penelitian bahkan menyatakan: kita butuh waktu 10 ribu jam latihan yang fokus untuk menjadi yang terhebat di bidangnya. Anggap kita berlatih 3 jam sehari, secara fokus dan konsisten tentunya, maka dibutuhkan waktu tidak kurang dari 9 tahun. Jika kita hanya bisa berlatih sejam sehari, tinggal kalikan tiga: 27 tahun!

Tanpa konsistensi dan fokus – dua nilai inti dari disiplin, visi tak ubahnya prasasti.

Ke tiga, passion. Ini adalah pemberdayaan emosional. Gairah yang menggelora adalah bahan bakar beroktan tinggi untuk menggerakkan tindakan disiplin. Tanpa passion, kita tidak akan mampu bertahan dalam kedisiplinan – konsistensi dan fokus – kita. Passion adalah harta milik orang-orang yang menjadi pemenang di bidangnya.

Namun demikian, untuk mendapatkan passion, tentu tidak mudah. Karena itu, kita perlu “berhenti” sejenak untuk berinteraksi dengan diri kita yang paling dalam, dan bertanya: apa mimpi kita sesungguhnya? Karena mimpi yang tidak menimbulkan passion adalah mimpi yang patut kita pertanyakan.

Ke empat, nurani. Ketiga komponen sebelumnya adalah pilar-pilar kesuksesan – yang hampir tak bisa ditawar. Tetapi nurani inilah yang menjadi penentu sekaligus pembeda: apakah ‘kesuksesan’ kita membawa ‘keagungan’ atau sebaliknya.

Tidak ada keberhasilan sejati yang bisa dicapai dengan mengubur nurani.

Tiga Kunci Untuk Tiga Situasi

Ada tiga kunci, kata seorang ustadz, bagi seorang muslim untuk hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Tiga kunci ini sekaligus sebagai penawar untuk tiga kondisi umum yang pasti dialami oleh setiap kita.

Situasi pertama adalah di saat kita mendapatkan nikmat, baik berupa kekayaan – meskipun sedikit, jabatan yang baik, kelapangan dan kesehatan yang prima, hubungan yang harmonis, prestasi yang membanggakan, dan sebagainya. Dalam situasi ini, kunci yang harus dipegang oleh seorang muslim, kata ustadz tadi, adalah ‘syukur’. Ya, bersyukur saat mendapatkan nikmat adalah konskuensi logis.

Syukur yang paling agung, masih kata ustadz tadi, adalah ‘membalas’ pemberian Tuhan dengan bertauhid: tidak menyekutukannya dengan apa pun! Memurnikan ketaatan kepada-Nya adalah bentuk syukur paling afdol. Ibadah-ibadah amaliah adalah konsekuensi praktisnya.

Di samping itu, orang yang benar-benar bersyukur tidak akan menggunakan nikmat yang diperolehnya itu untuk maksiat kepada-Nya. Jadi, substansi ‘syukur’ ini ternyata jauh lebih dalam dari sekedar melafalkan: “Alhamdulillah”. Syukur yang timbul dari sanubari akan memberikan keindahan tersendiri di dalam hidup kita. Inilah pangkal kebahagiaan sesungguhnya.

Situasi yang ke dua adalah di saat kita dihadapkan pada situasi sulit, tempaan musibah, kehilangan keluarga atau harta, dicabutnya nikmat sehat, drop-out atau PHK, cerai dan sebagainya. Dalam situasi ini, kata ustadz juga, kunci yang harus dipegang adalah ‘sabar’.

Allah dengan lugas menyatakannya di dalam Qur’an: agar kita mencari pertolongan melalui ‘sabar’ dan sholat, di saat kita tertimpa petaka. Kata Imam Ali, kalau saya tidak salah kutip, ‘sabar’ adalah seumpama ’kepala’ bagi keimanan seseorang. Ya, begitu sentral peran kesabaran ini di dalam menyokong keimanan. Sangat masuk akal, karena ketidaksabaran adalah salah satu titik lemah bagi robohnya keimanan.

Sama dengan ‘syukur’, untuk bersabar, kita juga perlu betul-betul meyakini bahwa memang cobaan itu adalah ‘kreasi’ Tuhan untuk menguji kita. Bahkan dalam suatu dalil dinyatakan, kurang lebih: jika Tuhan mencintai seseorang, Dia akan betul-betul mengujinya. Keyakinan ini akan mengarahkan kita pada sudut pandang yang tetap positif, seburuk apa pun situasinya. Wajar, jika dengan ‘sabar’, seseorang akan bahagia – pada akhirnya.

Situasi yang ke tiga adalah saat kita khilaf. Setiap manusia, sudah menjadi semacam aksioma, pasti tidak luput dari salah. Adalah penting untuk selalu waspada agar tidak melakukan kesalahan dan maksiat. Tetapi yang jauh lebih penting, karena aksioma tadi, adalah bagaimana tindakan kita apabila sadar telah melakukan kesalahan. Di sinilah peran kunci ke tiga: ‘taubat’.

Ya, taubat adalah ‘sahabat’ ke tiga setelah ‘syukur’ dan ‘sabar’, untuk mengarungi hidup ini. Bertebaran janji Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa Dia Maha Pengampun dan akan mengampuni dosa hambanya yang bertaubat. Karena itu, manfaatkan sifat kemuliaan-Nya ini dengan sebaik-baiknya. Tidak ada jaminan, orang yang melakukan kebaikan akan selalu masuk surga. Juga tidak ada yang tahu, bahwa yang melakukan maksiat pasti punya kavling di neraka. Ya, rahasianya adalah ‘taubat’.

Itulah sekelumit makna yang saya serap, dari khatib Jumat siang tadi.

Harta

Dalam Islam, kita sudah maklum, bahwa setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, kelak, tentang beberapa soal. Jika terkait umur, masa muda dan soal lainnya akan ditanya sekali saja, maka soal harta kita akan ditanya dua kali: dari mana harta itu kita dapatkan?; ke mana harta itu kita belanjakan?

Soal harta ini memang pelik. Banyak fitnah yang menyelimutinya. Fitnah harta, kata seorang ustadz, dapat kita pisahkan menjadi dua domain: fitnah dalam ‘mencari’ dan fitnah dalam ‘membelanjakan’. Dalam pergulatan kita mencari harta, banyak sekali duri, atau lubang, atau perangkap, atau apa lah namanya, yang bisa menjerat kita ke dalam dosa dan kehinaan. Fitnah dalam ‘mencari’ harta dikategorikan menjadi dua. Pertama, mencari harta dari ‘sumber’ maupun dengan ‘cara’ yang haram. Korupsi, suap, nodong, nipu, jual beli barang haram, dan sebagainya, adalah contoh-contoh sumber harta yang sudah jelas haram.

Harta yang haram, kata ustadz, akan membawa kerusakan bagi yang mencari dan menerimanya, baik dunia maupun akhirat. Di dunia, jelas harta itu tidak akan membawa berkah. Anak-isteri yang dinafkahi barang haram juga tidak akan memberikan kebahagiaan sejati. Banyak sudah contohnya, bagaimana harta yang haram ini meluluhlantakkan rumah tangga seseorang: isteri membangkang atau bahkan selingkuh; anak terlibat kasus obat terlarang, atau sekolahnya amburadul, dan sebagainya.

Ke dua, selain yang sudah jelas haram, juga harta yang melalaikan kita dari jalan Allah. Harta jenis yang ke dua ini juga tidak kalah daya rusaknya terhadap kehidupan sesorang, dunia maupun akhirat. Disadari atau tidak, kita seringkali lalai melaksanakan ibadah, manakala disbukkan denga urusan duniawi yang profan. Bagi saya sebagai karyawan, tentu harus lebih berhati-hati dari jenis fitnah ini, karena memang seorang karyawan tidak memiliki keleluasaan waktu. Jam kantor sudah tertentu, meskipun seringkali menerabas waktu-waktu ibadah. Atau kadang meeting yang panjang, melelahkan sekaligus melenakan. Juga bagi yang tinggal di Jakarta, seringkali di waktu-waktu sholat, kita masih terjebak di tengah belantara kemacetan.

Jadi, boleh saja kita bersyukur bahwa kita tidak mencari harta dari sumber maupun dengan cara yang haram, tetapi perhatikan betul fitnah ke dua ini:  jika itu dilakukan dengan melalaikan kewajiban transendental kita kepada Allah SWT, maka tetap saja hal itu menjadi sumber kehinaan!

Andai pun kita masih lolos dari jebakan fitnah dalam ‘mencari’ harta, maka jangan dulu merasa lega. Masih ada beberapa fitnah yang masuk dalam domain ‘membelanjakan’ harta. Pertama, bakhil, alias kikir, bin medit, saudaranya pelit, masih satu klan dengan kucrit. Tidak sedikit yang hartanya 100% halal, tetapi tidak luput dari sifat ini. Konsekuensinya serupa, yaitu kerusakan!

Ke dua, sifat tabdzir (mubazir), atau foya-foya dengan hartanya, untuk sesuatu yang minim makna. Kita memang punya justifikasi yang rasional untuk melakukannya. Karena jika harta itu halal sepenuhnya, hasil tetesan keringat sendiri, lalu saya menikmati sesuka saya, why not? Toh, tidak ada orang yang saya dzolimi? Inilah jebakan halus yang bisa merusak hidup kita, terutama para agniyaa, atau orang-orang mapan.

Patut kita ingat, bahwa di dalam Islam, harta hanya boleh dialokasikan untuk dua hal saja. Pertama, mencukupi kebutuhan hidup pribadi dan keluarga kita. Sewajarnya. Ke dua, diinfakkan ke jalan Allah. Fii sabilillah. Menabung untuk anak-anak kita sekolah, atau untuk cadangan kita berobat jika sakit, adalah termasuk kebutuhan tadi. Jika kebutuhan hidup kita sudah ‘wajar’: rumah layak, kendaraan pantas, kebutuhan sehari-hari tercukupi, anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, orang tua dan saudara-saudara kita tidak terlantar, maka sisa harta itu hukumnya wajib diinfakkan di jalan Allah.

Infak di jalan Allah tentu tidak melulu dalam bentuk sumbangan untuk mesjid, panti asuhan atau madrasah. Membangun sebuah perusahaan, dengan itikad baik untuk mengentaskan kemiskinan, memuliakan kehidupan kaum muslimin, adalah termasuk di dalamnya. Karena itu, berbahagialah mereka yang dikaruniai harta yang banyak, dan dengan hartanya itu dia banyak berinfak di jalan Allah. Abu Bakar Shidiq adalah teladan yang baik untuk hal ini. Bukan sebaliknya: hartanya menghinakan dirinya dengan serendah-rendahnya. Dan Qorun adalah role model untuk yang terakhir ini.

Itulah, sekelumit pelajaran yang saya tangkap dari sang khatib, Jumat siang tadi.

Orang Tua

Suatu sore, dalam perjalanan dengan travel dari Jakarta ke Bandung, duduk di sebelah saya seorang wanita muda dengan pakaian yang kurang bahan. Hanya sekitar 10% (lho? Sempat mengukur, begitu?) bagian teratas pahanya yang tertutupi. Itu menjadi perjalanan paling canggung yang pernah saya lalui. Dalam cuaca yang redup, jalanan yang mulus, idealnya saya bisa istirahat. Nyatanya saya merasa “terganggu”. Pertama, jelas karena celananya itu yang membuat saya ingin melek terus. Ke dua, sepanjang dua setengah jam perjalanan, dia hampir tidak berhenti bicara di telfon. Kelihatannya ada beberapa orang yang ditelfon, juga yang menelfon dia.

Di tengah obrolannya, ada satu dialog yang menarik. “Kamu tinggal minta apa aja sama kakak, asal sekolah kamu bener. Tapi kalau sekolah kamu enggak bener, kakak enggak mau.”

Saya kenal betul logat bicaranya. “Wanita ini pasti orang sekampung saya”, gumam saya dalam hati. Saya terus terang enggan bertanya. Memasuki daerah Pasteur, wanita itu bilang ke supir travel, “Pak, saya mau turun di hotel anu ya.” Su’udzon saya mulai timbul. Tetapi saya bisa maklum. Apalagi, dari potongan dialog tadi, saya bisa menduga dia merupakan tulang punggung ekonomi keluarga, terutama bagi adik-adiknya yang masih sekolah. Sedikit banyak dia mewarisi tipikal orang tua bagi anak-anaknya.

Di kampung, saya juga mengenal seorang yang profesinya “mengambil dan menjual” barang orang tanpa permisi (duh, repot amat mau bilang: maling!). Kebiasaan lain dia adalah “minum”. Bahkan pernah ketahuan dia mengkonsumsi “pil merah”. Dia punya anak kecil, sekitar empat atau lima tahun usianya. Suatu hari, anaknya yang masih imut-imut itu kepergok mengambil uang ibu saya. Tidak besar, hanya bisa untuk beli sepotong-dua potong jajanan kampung. Tetapi si ayah tadi marah bukan main. “Jangan ulangi lagi ya, ngambil duit orang!”, sambil “melempar” anaknya itu di tanah berlumpur, di tengah guyuran hujan. Miris melihatnya. Ibu saya kemudian melerai.

Saya bahkan pernah menyaksikan pemandangan yang mengharukan. Kalau orang biasa mengaku “hidup pas-pasan”, keluarga itu barangkali tidak seberuntung mereka yang hidup pas-pasan: mereka hidup serba kekurangan. Nasi aking adalah makanan yang biasa mereka santap. Menir juga. Sewaktu kecil hingga remaja, anak mereka sering membantu ibunya untuk “metani” batu-batu dan ulat-ulat yang ada di menir. Maklum, menir itu merupakan hasil “tapenan” dari dedak yang dibeli untuk makanan bebek. Keluarga itu memelihara bebek beberapa puluh ekor, dan harus berbagi makanan dengan hewan peliharaan mereka. Itulah satu-satunya mata pencaharian kepala keluarga mereka.

Dari 12 bulan kalender tiap tahun, barangkali hanya 2 – 3 bulan saja keluarga itu bisa makan nasi putih, sesaat setelah musim panen. Selebihnya; menir atau nasi aking. Tahukah kawan, apa lauknya? Garam tak beriodium!!

Dalam kondisi seperti itu, orang tua mereka masih memberikan dukungan kepada anaknya untuk melanjutkan sekolah ke SMP, meskipun dengan sedikit terpaksa. Dukungan itu berlanjut hingga SMA dan kuliah. Kini, anaknya sudah sarjana dan bekerja di sebuah perusahaan terkemuka.

Pelajaran penting yang bisa saya petik: apa pun kondisi orang tua, semiskin apa pun nasib mereka, sebejat apa pun profesinya, mereka pada dasarnya menyimpan harapan terselubung agar anaknya bisa lebih baik, tidak mengikuti jejak keterpurukan yang mereka alami. Inilah fitrah mereka. Meskipun bisa jadi ada beberapa orang tua yang menjadi pengecualian

Inlander

Akhirnya kesampean juga bisa jalan-jalan ke Bali. Beberapa minggu lalu, ada satu even internasional yang mempertemukan para geoscientist dari beberapa negara, meskipun mayoritas dari Indonesia. Di situ saya ikut ambil bagian, mempresentasikan satu makalah ilmiah. Alhamdulillah lancar dan respon audience cukup antusias. Diskusi jadi hidup dan berkembang. Bahkan saya mendapat satu input dari salah satu audience yang bisa saya pakai untuk menuliskan paper berikutnya. 

Tentu tidak seru kalau ke sana “hanya” sekedar ikut pertemuan formal dan ilmiah yang cenderung menjemukan. Karena itu, hari terakhir di sana saya manfaatkan untuk menikmati beberapa tempat wisata di Pulau Dewata itu, antara lain Kuta, Ubud, Tanah Lot dan diakhiri dengan dinner di Jimbaran. Beruntung, hotel tempat saya nginap persis berada di tepi pantai Kuta, sehingga tak perlu repot turun dan jalan kaki untuk menikmati pemandangan pantai yang eksotik itu. Cukup dengan membuka jendela kamar, maka salah satu potret keagungan Tuhan itu terlihat jelas. Subhanallah.

Sebelum “terlena” dengan keindahan wisata Bali, saat saya berada di Airport Ngurah Rai, saya mendapatkan satu perspektif yang unik. Saya cukup kaget saat diperlakukan “sebelah mata” oleh para penjaga loket penyewaan kendaraan. Mereka tampak “antusias” dan “ramah” sekali kepada para turis berambut pirang dan berkulit putih, sementara mereka melayani saya dengan nada yang sedikit merendahkan.

“Permisi mas…”, saya menyapa dengan nada bersahabat. Mereka masih asik “beramah-tamah” dengan tamu-tamu bule, sementara kehadiran saya mereka abaikan. Saya ulangi sekali lagi, “Permisi…”. Saat itu, salah seorang di antara mereka melirik saya dan menyuruh temannya untuk meladeni saya. “… Saya mau pesan taksi.” Dengan wajah datar, mereka tidak membalas sapaan saya. Mereka lalu menunjuk ke poster-poster yang terpasang di dinding, memampang beberapa jenis kendaraan “pertamax plus” semacam Mercedes Benz, Alphard, dan mobil-mobil “sekelas”. Yang paling “rendah” kelasnya adalah Camry.

“Adanya cuma mobil-mobil ini mas…”, sahut mereka. “Taksi anu ada…?”, tanya saya, karena saya melihat masih satu perusahaan. Kembali mereka tidak begitu antusias menjawab dan langsung menyuruh saya, “Mending jalan ke depan sana aja mas, di sana pasti dapat taksi”. Mereka menunjuk ke arah jalan raya. Dalam sekejap mereka kembali “terlena” meladeni tamu-tamu bule. Saya pun segera pergi.

Hari berikutnya, saya jalan-jalan di pusat keramaian Kuta, mencari barang-barang kerajinan yang bagus. Kebetulan saya dapat pesanan dari keluarga. Saya menghampiri satu kios kecil. Penunggunya sedang asik menata barang-barang dagangannya. Dia sama sekali tidak menyapa saya yang sudah memegang barang-barang dagangannya. “Ada bros, mas?”, tanya saya. Lagi-lagi, dengan wajah datar, sambil asik dengan pekerjaannya, dia menyahut, “Tidak ada.” Tidak lama kemudian ada seorang bule datang. Si penjaga kios tadi bergegas menghentikan aktivitasnya dan langsung menyapa, “Hai…”, selanjutnya dia menanyakan apa keperluann si bule tadi. Saya pun bergegas pergi.

Saya melanjutkan pencarian, sembari mengingat kejadian di Jogja satu minggu sebelum hari itu. Waktu itu, saya sedang mengikuti training. Trainernya dari Texas, USA. Ada juga dua orang peserta bule. Waktu itu, kami, semua peserta training yang jumlahnya 11 orang, panitia dan trainernya sedang santap makan siang. Sang panitia begitu asik meladeni bule-bule itu, sambil sesekali menawarkan, “Would you like coffee?”. Sementara kami, yang berambut hitam dan berkulit sawo matang yang ada di sebelahnya, tidak ditawari apa pun. Padahal, panitia tadi juga berambut hitam dan berkulit sawo matang seperti kami.

Jauh sebelum itu, sebetulnya saya sudah kerap menyaksikan pemandangan serupa di industri migas, khususnya di perusahaan asing. Banyak dari karyawan lokal yang bekerja di sana begitu respek kepada bule-bule mereka, sementara tidak demikian halnya dengan sesama orang lokal. Kadang, bahkan mereka lebih “bule” daripada bule sendiri. Tidak terlihat sama sekali nasionalisme mereka. Bahkan sebagian dari mereka kerap menjadi “tameng” bagi perusahaan asing untuk “bertarung” dengan sesama anak bangsa sendiri.

Dalam konteks yang lebih besar, saya juga melihat bagaimana para pemimpin dan sebagian elit bangsa ini begitu respek terhadap “bule”. Mereka begitu “ramah” kepada kepentingan negara-negara besar, tetapi bengis terhadap rakyat kecil. “Demi iklim investasi”, katanya. Atau, “demi kepercayaan dunia internasional”, alasan mereka. Semua itu mereka jadikan alibi untuk “menyambut” bule yang menguras sumberdaya alam kita, atau bule yang memberikan utang dan kemudian menyetir dan mencampuri urusan rumah tangga bangsa kita.

Malam itu saya terus berjalan menyusuri keramaian Kuta, dengan menimbang-nimbang satu kesimpulan: bangsa kita memang bangsa yang “ramah”. Yang saya maksudkan: “ramah” kepada bangsa asing, tetapi tidak terhadap sesama anak bangsa sendiri. Karena itu pula saya maklum, mengapa kita begitu lama dijajah oleh bangsa asing, akibat keberadaan para inlander itu.

Ujian Proaktifitas

Tempo hari, saya merasakan pengalaman batin yang betul-betul menguji integritas saya. Siang itu, saya mengisi sebuah acara sharing session di perusahaan tempat saya bekerja. Untuk ke sekian kalinya, dalam beberapa kesempatan yang berbeda, saya menyampaikan bedah buku Seven Habits of Highly Effective People: salah satu buku yang paling saya suka.

Kabiasaan utama dan pertama yang dianjurkan buku itu adalah sikap proaktif. Kebajikan inti dari sikap proaktif adalah: “Tidak ada seorang pun, atau suatu hal pun, yang bisa menyakiti kita, kecuali kita mengijinkannya.”

Kita bebas menentukan “respon” apa pun sesuai dengan kehendak bebas, kesadaran diri dan nurani kita, tanpa dikendalikan oleh “stimulus” yang kita terima. Boleh saja ada seseorang yang menyakiti kita, tetapi kita bebas “memilih” untuk merasa sakit atau tidak. Bisa saja ada kejadian buruk menimpa kita, tetapi kita tetap bisa “memilih” untuk merasa terpuruk atau tidak. Bisa saja orang tua kita selama ini mendidik kita dengan cara yang lembut atau bahkan sangat keras, tetapi kita tetap bisa menjadi pribadi terbaik yang kita inginkan. Boleh jadi lingkungan tempat kita tinggal dan dibesarkan itu penuh warna kultur amoral atau asusila, terbelakang, konservatif, tetapi kita tetap bisa menjadi pribadi yang santun dan progresif.  

Intinya, kita lah yang mengendalikan diri kita, karakter, sikap dan situasi emosional kita, serta respon apa yang akan kita berikan terhadap semua jenis stimulus yang menimpa kita. Itulah salah satu inti pesan moral yang saya sampaikan dalam sharing session tersebut.

Sore harinya, saya ke luar kota naik kereta. Tanpa diduga, jalur kereta yang biasa saya lalui itu bermasalah. Ada kereta yang anjlok, sehingga semua kereta yang menuju stasiun pusat di Jakarta itu dialihkan ke stasiun lainnya. Seluruh penumpang diangkut oleh bus Damri menuju stasiun yang dituju. Sedianya kereta berangkat jam 6.30 petang, tetapi kemudian molor hingga jam 10 malam. Kejadian itu cukup meresahkan penumpang. Maklum, menunggu selama 3,5 jam bukanlah waktu yang pendek. Wajar pula, jika banyak penumpang yang kesal dan mulai emosional.

Sebagai pribadi yang proaktif, kejadian itu semestinya tidak lebih sebagai stimulus negatif. Pada situasi seperti itu, saya sebetulnya bisa “memilih” untuk merasa kesal atau tidak, emosi atau tidak. Karena itu, akhirnya saya “memutuskan” untuk tidak merasa kesal atau emosi. Saya lah yang berhak mengatur dan mengendalikan situasi emosional saya sendiri, bukan stimulus negatif itu.

Selama menunggu, saya berusaha mengisi waktu luang dengan membaca surat kabar. Kebetulan topik hari itu banyak mengulas seputar perekonomian Indonesia: topik yang sedang saya dalami. Beberapa perspektif baru saya dapatkan dengan membaca beberapa artikel di surat kabar terbesar di Asia Tenggara itu. Salah satunya adalah diskursus negara versus pasar. Saat ini, kata para ekonom, bukan saatnya lagi kita membenturkan antara “negara” dan “pasar” di dalam ekonomi, tetapi bagaimana kedua “aktor” ini bisa bersinergi untuk membangun perekonomian bangsa.

Ketimbang saya larut dalam situasi yang emosional akibat harus menunggu terlalu lama, saya “memilih” memanfaatkan sepenuhnya waktu yang ada untuk menyelami khasanah pemikiran ekonomi kontemporer. Saya betul-betul “menikmati” waktu menunggu itu, sehingga menjadi terasa tidak begitu lama.

Mengenai kasus anjloknya kereta tersebut, saya jadi teringat kisah “angsa” dan “telur emas” yang juga saya sampaikan di dalam sharing session siang sebelumnya. Kisah itu sangat relevan untuk menjelaskan fenomena kereta yang anjlok sore itu.

Kebanyakan kita terlalu fokus untuk mendapatkan “telur emas”, dan melupakan “angsa” yang menghasilkan telur emas itu sendiri. Seringkali suatu perusahaan terlalu fokus bagaimana menghasilkan tingkat produksi yang besar, biaya yang efisien, tetapi lupa mengalokasikan waktu dan biaya yang cukup untuk merawat mesin-mesin mereka, mengelola sumberdaya manusia mereka secara baik, hingga mereka mampu meraup laba (“telur emas”) yang besar di satu sisi, tetapi membiarkan kondisi mesin-mesin dan manusia (“angsa”) mereka yang sekarat di sisi lain. Dalam jangka pendek, langkah itu mungkin akan efektif, tetapi pasti akan menjadi bom waktu yang suatu saat justeru akan menuntut pengeluaran biaya, bahkan mungkin menimbulkan kerugian, yang jauh lebih besar.

Pihak pengelola kereta api barangkali terlalu fokus pada tingkat penjualan tiket dan efisiensi biaya operasional, tanpa mengalokasikan waktu dan biaya yang cukup untuk merawat mesin-mesin lokomotif, rangkaian gerbong dan rel kereta. Jika situasi demikian terus berlanjut, maka anjloknya kereta berikutnya barangkali tinggal menunggu waktu saja.

India

Saya punya adik perempuan. Semasa remaja, waktu itu adik saya mulai menginjak remaja, kami sering bersitegang. Masalahnya sepele. Adik perempuan saya gandrung dengan lagu-lagu india. Dia seringkali menyalakan radio di dekat telinganya hingga tertidur, ditemani senandung lagu-lagu hindustan yang, kala itu, masih merajalela. Sampai program radio selesai, lewat tengah malam, tinggallah suara kresek-kresek: bunyi radio yang masih memancarkan frekwensi, sementara programnya telah usai. Esok paginya, atau kadang saya memergokinya tengah malam, saya matikan radio itu. Tentu sambil ngomel-ngomel. Adik saya sering tidak terima, tetapi reaksinya kerap hanya cemberut, tak berani melawan kakak lelakinya ini. Itu terjadi sekitar pertengahan tahun 90-an. Adik saya hanya salah satu dari sekian banyak penikmat lagu-lagu India yang begitu populer pada masa itu.

Selain musik, industri film India juga waktu itu merangsek pasar film nasional sedemikian kuat, khususnya segmen pasar masyarakat pinggiran. Sampai anak-anak dan remaja di kampung saya, kala itu, mengenal Amitabh Bachan sama baiknya dengan mengenal Rhoma Irama, atau mengenal Sri Devi sama akrabnya dengan Elvy Sukaesih. Itulah kehebatan India yang pertama kali saya kenal. Industri hiburan mereka sudah melanglangbuana. Saya tidak yakin film-film Rhoma Irama, Barry Prima atau Roy Marten, dikenal oleh anak-anak dan remaja India pada waktu itu.

Meskipun demikian, dari latar film-film mereka, saya bisa memprediksi bahwa kehidupan sosial-ekonomi masyarakat India tak jauh beda dengan Indonesia: pemukiman kumuh, pedagang kaki lima dan pasar tradisional, kekentalan budaya dan tradisi, hingga mental polisi yang korup.

Sepuluh tahun berlalu. Saya sudah lulus dari perguruan tinggi. Dalam proses rekruitmen sebuah perusahaan Amerika terkemuka, seorang eksekutif muda menjelaskan dengan bahasa inggris yang amat fasih, tentang prospek perusahaan itu. Dia orang India. Dari situ saya bisa melihat bagaimana profesionalitasnya. Sayangnya, atau mungkin untungnya, saya tidak lolos seleksi di perusahaan itu.

Empat tahun kemudian, saya mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh perusahaan tadi. Dari sekian banyak bule yang ada, ternyata keynote speaker-nya adalah orang India. Yang membuat saya berdecak, ternyata eksekutif muda India itu langsung didatangkan dari Colorado, AS, untuk memberikan materi pelatihan yang ilmunya masih langka di Indonesia itu. Ternyata dia memang bagian dari segelintir orang di dunia ini yang benar-benar piawai di bidang CBM – Coalbed Methane.

Dalam forum lainnya, saya juga beberapa kali mengikuti workshop singkat tentang CBM. Yang memberikan materi juga orang India. Saya jadi bertanya, kenapa begitu banyak pakar CBM dari India? Sampai saat ini, di Indonesia, yang dianggap betul-betul ahli di bidang CBM adalah salah seorang India yang bekerja di perusahaan minyak patungan AS – Inggris.

Dalam konferensi CBM Internasional di Jakarta, saya sempat ngobrol dengan seorang peneliti dan akademisi salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta. Saya katakan padanya, “Pakar-pakar CBM dunia kebanyakan orang India”. Saya sedikit tersentak ketika dia mengatakan, “Bukan hanya CBM.” Lalu dia melanjutkan, “…hampir di semua bidang, India memiliki seabreg pakar dan eksekutif-profesional yang menyebar ke seluruh dunia”. Mulai dari bidang IT, perminyakan, mesin dan otomotif, keuangan dan sebagainya. Atasan saya sendiri di kantor pernah bilang, “Sewaktu saya ikut konferensi CBM internasional di Singapore, sekitar 60% peserta yang hadir adalah orang India”.

Pada tulisan saya sebelum ini, yakni tentang kilang minyak Jamnagar, juga memotret salah satu ambisi India untuk merajai bisnis hilir migas dunia.

Sampai di situ, meskipun saya berdecak kagum pada India, tetapi saya tidak berusaha untuk mempelajari tentang India lebih jauh: apa yang sudah dicapai India, apa latar belakang pencapaiannya, strategi apa yang sedang mereka kembangkan, serta nilai atau spirit apa yang mereka pegang teguh, sehingga mereka menjelma menjadi sekumpulan manusia yang betul-betul haus akan kemajuan di segala bidang.

Sampai saya ketemu bukunya Thomas L. Friedman: The World is Flat. Dalam banyak bagian di bukunya, Friedman selalu mengangkat India sebagai contoh bahwa bumi ini “datar”, akibat kolaborasi unik antara para teknisi India dan perusahaan terkemuka AS. Bangalore menjadi semacam “silicon valley” bagi India. Di kota kecil itulah berkumpul pakar dan teknisi IT yang menjadi salah satu penyokong perkembangan IT dunia. Bangalore menjadi tempat outsourcing pilihan raksasa-raksasa IT Amerika Serikat, dari awal perkembangannya hingga saat ini. Bangalore juga menjadi tempat inovasi berbagai produk game komputer, yang mengerjakan pesanan dari daratan Eropa dan Amerika. Yang menghentakkan, bahkan pekerjaan penghitungan pajak warga AS juga dilakukan di India, dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi.

Jika ditelusuri sejarahnya, Nehru memang telah membangun pondasi pembangunan SDM India dengan cukup baik. Tahun 1951, dia membangun 7 institut teknologi di India, yang akan menyeleksi ratusan juta manusia India yang penuh ambisi. Karena ekonomi India masih berkiblat ke Soviet, yang kurang memungkinkan para lulusan itu terserap di negaranya, maka sejak itu puluhan ribu lulusannya bermigrasi ke Amerika, untuk mengaktualisasikan ilmu dan keahlian mereka di perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi di sana.

Tahun 1991, menteri keuangan India, Manmohan Singh, membuka ekonomi negaranya terhadap investasi asing. Secara perlahan, seiring dengan runtuhnya imperium Soviet, kiblat ekonomi India berpaling ke Barat. Dari situlah kemudian terjadi dua konvergensi kekuatan besar: jutaan lulusan perguruan tinggi India yang berbakat dan penuh ambisi, dengan aliran modal atau investasi asing yang mulai merangsek. Jadilah mereka seperti kesetanan mengejar kemajuan di segala bidang. Hampir semua perusahaan multinasional berteknologi tinggi ada di India. Mereka benar-benar melihat India sebagai tempat subur yang dipenuhi tenaga profesional berkualitas dengan tingkat upah seperempat atau sepertiga tenaga kerja AS atau Eropa, dengan kualifikasi yang sama.

Hasilnya bisa kita lihat: ekonomi India tengah menggeliat!

Suka Duka Bersama Sepeda

Break sejenak dari tulisan-tulisan “berat”. Kali ini, saya ingin bernostalgia, mengenang masa-masa bersama sepeda di kampung halaman dulu. Bukan tanpa maksud. Tulisan ini sengaja saya persembahkan untuk Hamberqu, yang sedang menanti partisipasi kawan-kawan blogger untuk menceritakan pengalaman uniknya dalam bersepeda. Bismillah, saya akan membuka file sekitar tahun 1988 atau 1989, yang terselip di labirin otak ini.

Pada tahun-tahun itu, saya memang baru bisa naik sepeda. Bapak saya membelikan saya sepeda mini. Second, karatan, tetapi masih pantas untuk dinaiki. Warnanya merah agak tua, tetapi terlihat lusuh. Tidak ada rem atau standar. Pedal pun sudah lepas, tinggal tersisa besi agak runcing yang jadi pijakan kaki untuk mengayuh sepeda itu. Sebetulnya itu sangat berbahaya. Jika ingin berhenti, saya cukup menurunkan kedua kali ke tanah, sebagai “rem organik” (maksudnya ngerem dengan organ tubuh!). Setelah kecepatan berkurang, saya tinggal menjatuhkan sepeda itu ke samping, diikuti sedikit manuver ke kiri. Kaki kiri saya jadi tumpuan, agar tidak ikut jatuh di saat sepeda sudah merebah di tanah. Akrobat kecil-kecilan!

Meskipun kondisinya minim seperti itu, saya bangga naik sepeda itu. Saking bangganya, saya sering ngebut keliling jalan desa, sekalian pamer pada kawan-kawan seusia yang belum bisa bersepeda. “Inilah saya! Saya bisa naik sepeda dengan satu tangan. Ngebut pula!”, kira-kira seperti itu sikap saya, waktu itu, kalau diterjemahkan ke dalam kalimat. Belakangan saya sadar, model sepeda seperti itu cocoknya untuk anak perempuan!

Suatu sore, seperti yang sering saya lakukan pada hari-hari sebelumnya, saya naik sepeda. Sedikit ngebut. Rencananya  akan keliling-keliling agak jauh, hanya untuk mengekspresikan kemahiran yang baru didapat: bersepeda ria. Sampailah di jalanan yang agak menurun. Sebetulnya saya terbiasa melalui jalanan itu, karena letaknya tidak jauh dari mulut gang yang menuju gubuk saya di kampung. Entah kenapa, sore itu, saya lengah. Begitu sampai di jalanan menurun itu, kecepatan belum saya kurangi.

Pontang-panting saya berusaha untuk mengerem, secara “organik” tentunya, tetapi saya betul-betul kehilangan kendali waktu itu. Saya mulai panik. Setir sudah mulai berguncang. Dalam kondisi kecepatan yang masih relatif tinggi, saya hilang keseimbangan. Sepeda itu meluncur cepat ke arah sungai. Dan………GUBRAAAKKK!! Sepeda membentur buk dan berhenti seketika. Tubuh mungil saya terpelanting ke tengah sungai: JGGEERRR…!!

Sontak, saya shock bukan main. Waktu itu, tahukah kawan, saya belum bisa berenang sama sekali! Dalam keadaan panik setengah mati, saya berusaha untuk tetap mengambang di air. Berteriak pun tidak bisa, karena setengah wajah sudah terendam. Megap-megap. Hanya lambaian tangan saya yang membuat orang mengenali, kalau saya kebelet butuh pertolongan. Lima menit saja tidak ada pertolongan, nasib saya wallahu a’lam.

Rupanya takdir berbicara lain. Dari seberang sana, seorang lelaki paruh baya langsung meloncat. Sungai itu tidak begitu lebar, hanya sekitar 5 meteran, sehingga lompatan lelaki itu hampir menghantam tubuh saya. Bagi pria dewasa, sungai itu sebenarnya tidak terlalu dalam. Mungkin sekitar 2 meteran. Dia langsung meraih tangan dan merengkuh tubuh saya. Setelah kepala dan dada saya terangkat di atas air, saya langsung meronta, menangis sejadi-jadinya. Orang-orang di sekitar TKP berkerumun dalam hitungan detik, akibat sirine keras dari mulut saya. “Ada apa? Ada apa? Ada apa?”, teriakan mereka.

Itulah sepenggal kisah unik, atau mungkin lebih tepatnya: tragis, yang menimpa saya dan sepeda kebanggan. Sayangnya sepeda itu sudah lapuk dimakan usia, sehingga tidak bisa saya tampilkan di blog ini. Oya, tahukah kawan, siapa pria yang menolong saya waktu itu? Namanya Pak Kastum! Dialah yang “diutus” Allah untuk menyelamatkan nyawa saya waktu itu.

Terima kasih tak terhingga untuk Pak Kastum. Jasamu begitu besar dan rasanya tak mungkin saya bisa membalas. Engkau pun mungkin lupa, kalau engkau pernah menolong seorang bocah kecil yang kecebur sungai. Kalaupun engkau ingat, mungkin engkau juga lupa siapa yang engkau tolong waktu itu. Saya lah orangnya!

Kejutan di Rabu Sore yang “Redup”

Sebelum saya cerita tentang apa kejutan itu, saya coba jelaskan dulu maksud dari “redup” pada judul di atas. Pertama, sore itu memang cuaca betul-betul redup. Mentari kehilangan teriknya, tertutup oleh awan abu-abu kehitaman yang menggelayuti angkasa. Ke dua, sore itu, kebetulan pikiran saya juga lagi “redup”, akibat ulah mitra bisnis yang menjengkelkan. Terlebih, itu menyangkut komitmen-moral. Yang dirugikan bukan saya sebagai pribadi, tetapi menyangkut komitmen pengelolaan sumberdaya alam, yang akan berimbas pada kehidupan banyak orang, kelak.

Lagi redup-redupnya, tiba-tiba mbak reseptionist datang ke meja saya, menyampaikan bingkisan sampul coklat. Bungkusnya terlalu lebar dibandingkan isinya. Tetapi saya dengan mudah menebak barang apa yang bersembunyi di baliknya, setelah tahu siapa pengirim bingkisan itu. Di sebelah kiri atas tertera: “Pengirim: Yayat Sudrajat, Jl. Anu, No Sekian, Daerah Itu, Kota Surabaya”. Wah, akhirnya datang juga, bingkisan yang ditunggu-tunggu itu.

Sahabat semua pasti tahu yang saya maksud. Ya, bingkisan itu adalah apresiasi dari Kang Yayat, yang telah mengadakan hajatan tentang “manfaat blog” tempo hari. Yang bikin saya betul-betul terkejut, karena saya menang pada kategori “undian”. Perlu sobat ketahui, saya sekarang ini sudah putus asa dengan yang namanya undian. Bukan apa-apa. Setiap kali ada sebentuk apresiasi yang diadakan lewat undian, saya tidak pernah dapat!  Karenanya, saya mungkin termasuk barisan orang yang resisten terhadap berbagai bentuk iklan semacam ini: “Tingkatkan terus saldonya, raih hadiah undiannya..”, atau “Beli terus produk anu, siapa tahu anda yang beruntung..”, dan sebagainya.

Termasuk pada saat mengikuti kontes menulis “manfaat blog” a la Kang Yayat itu. Saya sama sekali tidak punya mimpi untuk mendapat penghargaan, apalagi untuk kategori undian. Semuanya saya ikuti tanpa asa apa pun, selain silaturahim dan ikut meramaikan hajatan itu. Thok. Tetapi rupanya nasib saya tidak semendung cuaca dan pikiran saya sore itu.

Saya dapat buku yang judulnya lumayan mengobsesi: “5 Giant Steps to Successful Business Writing”. Di dalamnya dibahas secara komprehensif, tentang prinsip-prinsip komunikasi bisnis dalam bentuk tulisan. Semacam pelajaran bahasa Inggris, cuma topiknya spesifik. Kebetulan, kemampuan bahasa inggris saya memang masih “senen-kemis”. Padahal, mitra bisnis kantor kebanyakan bule Australi, Londo atau UK. Sebagian China. Ngeyel-ngeyel lagi! Duh, saya mesti improving lagi nih cas-cis-cus-nya, biar bisa ngomel dengan pede di depan mereka.

Jadi, ngomong-ngomong, hadiah dari Kang Yayat ini, selain merupakan tali asih yang cukup berkesan, juga sekaligus mengingatkan saya agar lebih baik lagi dalam belajar internasional language itu. Hikmah lainnya adalah: saya semakin semangat nge-blog, karena teman-teman di dunia “maya” ini ternyata “nyata”, lho!

Terima kasih Kang Yayat..

Mimpi Itu tentang “Menjadi”, bukan “Memiliki”

Masih tentang mimpi. Setiap kali saya menyampaikan kepada adik-adik saya, bahwa di dalam hidup ini kita perlu memiliki ‘mimpi’, hampir selalu saja muncul pertanyaan semacam ini: “Buat apa kita bermimpi? Toh, kalau tidak tercapai, kita akan kecewa.” Dalam logika sebagian kita, bahwa semakin tinggi mimpi, semakin sakit jatuhnya, jika mimpi itu tidak kesampean. So, mending biarkan hidup ini ‘mengalir’ apa adanya. Tak perlu mimpi. Tak perlu neko-neko. Jika takdir sudah menentukan, kita akan sampai juga.

Hal senada, tetapi lebih bernada optimistis dan positif, saya dengar dari seorang CEO majalah mingguan ternama. Beliau menyampaikan kepada saya, dan juga beberapa orang kawan lainnya, bahwa kita tidak perlu bermimpi yang terlalu kompleks, muluk dan mengawang-awang, katanya. Tugas kita, masih katanya, adalah melakukan semua hal dengan sungguh-sungguh, di mana pun kita bertugas dan diberi amanah. Niscaya, katanya lagi, kita akan diberi tugas dan amanah yang lebih tinggi lagi. Proses itu akan mengalir, hingga kita mencapai tangga tertinggi. Kadang, puncak tangga itu tidak bisa kita perkirakan sebelumnya. Itulah ‘keberuntungan’ bagi siapa yang melakukan semua hal yang ada di hadapannya dengan sungguh-sungguh.

Penjelasan itu cukup logis dan menggugah pusat kesadaran kritis saya. Mungkin itu bisa menjadi paradigma alternatif bagi mereka yang betul-betul ingin menggapai puncak kemuliaan hidup, dan tidak puas dengan keadaan “biasa-biasa” saja. Tetapi buat saya, sampai sejauh ini, mimpi masih memegang peranan kunci bagi kesuksesan pribadi. Mimpi, yang betul-betul merupakan mimpi, bukan sekedar angan-angan, akan membangun kekuatan dan semangat dari dalam diri. Ia adalah sumber motivasi internal yang tak kan lekang, meski situasi eksternal kuat menggerus dan mendemotivasi.

Lalu, bagaimana agar mimpi-mimpi kita itu tidak membuat kita kecewa di ujung hari, apabila kita gagal meraihnya? Jawaban normatif, sekaligus bisa menghibur diri, mungkin cukup banyak. Kita bisa mengatakan bahwa itu adalah “kesuksesan yang tertunda”, atau “mungkin bukan hal yang terbaik buat kita”, atau “sabar dan tawakallah, semua pasti ada hikmahnya”. Tetapi bagi saya, selama ini, jawaban-jawaban normatif itu belum cukup memuaskan. Lantas, pertanyaan ini selalu menggelayut di dalam benak: “Bagaimana caranya kita memiliki mimpi, tetapi, apa pun hasilnya, pasti kita tidak akan kecewa di kemudian hari?”

Selama pertanyaan itu masih muncul, ada hal yang paradoksal di dalam diri saya. Di satu sisi, saya memiliki keyakinan, bahwa mimpi itu adalah kunci pertama kesuksesan. Kunci berikutnya, tentu, adalah kesungguhan dalam meraihnya. Tetapi di sisi lain, muncul getaran halus ketakutan di dalam hati, bagaimana jika mimpi itu tidak tercapai? Akan kecewakah saya? Jujur, sampai mendekati ujung usia kepala dua ini, di saat orang lain sudah mampu menikmati puncak kesuksesan mimpi-mimpinya, saya secara internal masih membahas, “apa dan bagaimana mimpi itu?” Bahkan kadang masih muncul pertanyaan, “apa mimpi saya sesungguhnya?”. Sebagian kawan lama, yang memang tahu persis bagaimana awalnya saya, memang sudah menganggap saya saat ini sudah sukses. Tetapi, ah, rasanya diri ini masih jauh dari kata sukses yang sesungguhnya. Saya masih belum puas, kawan!

Beberapa tahun belakangan, saya mulai menemukan jawabannya. Dan ternyata itu sederhana: mimpi itu tentang “menjadi”, bukan “memiliki”. Bedanya? Mari kita lihat. Apakah Anda bisa menjelaskan, apa perbedaan antara ”menjadi presiden” dan “menjadi negarawan”? Maksud saya, bukan perbedaan antara presiden dan negarawan, tetapi perbedaan makna kata “menjadi” pada kedua frase itu?

Pengertian “menjadi…” yang pertama sesungguhnya bukanlah “menjadi”, melainkan “memiliki”. Ya, kata “menjadi presiden” itu makna sebenarnya adalah “memiliki” jabatan presiden. ”Memiliki” terkait dengan hal-hal yang ada di luar kita, sedangkan “menjadi” adalah segala sesuatu yang menjelaskan: “siapa diri kita”? Dan “menjadi” itu adalah perubahan yang ada di dalam diri, bukan sesuatu di “luar sana” yang melekati diri kita: harta, pangkat, jabatan, pasangan, relasi, dan sebagainya.

“Menjadi negarawan” adalah betul-betul tentang “menjadi…”, karena ia melambangkan kualitas dan kapasitas diri kita secara internal. Ia bukan jabatan, atau gelar yang disematkan di depan nama kita.  Tentu, negarawan hanyalah salah satu contoh mimpi tentang “menjadi”. Masih banyak contoh-contoh lainnya yang lebih “kecil”. Misalnya, “menjadi ahli penyakit dalam” (bedakan dengan “menjadi dokter spesialis penyakit dalam”), “menjadi ahli kebumian” (bedakan dengan “menjadi dosen geologi”), dan sebagainya. Intinya, gali substansi kemuliaan dari mimpi kita itu. Lupakan bungkusnya.

Menjadi bupati adalah bungkusnya, membangun daerah adalah substansinya. Menjadi dokter adalah bungkusnya, menolong orang sakit adalah substansinya. Menjadi kiyai adalah bungkusnya, menyadarkan atau menjadi sarana hidayah bagi orang lain adalah substansinya. Memiliki kekayaan melimpah adalah bungkusnya, membantu sebanyak mungkin fakir miskin adalah substansinya.

Sekali lagi, lupakan bungkusnya dan temukan kemuliaan substansinya. Itulah yang seharusnya menjadi mimpi kita. Dan itulah makna terdalam dari kata “menjadi”.

Jika kita memiliki mimpi untuk “menjadi” seseorang, betul-betul yang perlu dirubah adalah diri kita sendiri, bukan sesuatu “di luar sana”. Dan karenanya kita tidak akan pernah kecewa. Yakinlah itu!

Membangun Mimpi di 2010

Bahwa akhir-akhir ini sedang nge-top film Sang Pemimpi, itu kebetulan saja. Jauh sebelum Andrea Hirata menulis novel, saya termasuk orang yang hobi bermimpi.  Meskipun mimpi itu “tidak besar”, dan berubah-ubah sepanjang waktu. Tapi tak mengapa. Mimpi ibarat tujuan dalam perjalanan. Ke mana pun engkau berjalan, tujuan adalah hal pertama yang harus didefinisikan. Jangan sekali-kali engkau naik bus, atau angkot, atau sepeda motor, tanpa tujuan. Berbahaya. Setidaknya engkau akan menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Tidak nyasar saja sudah untung.

Mimpi yang berubah-ubah, itu tak jadi soal buat saya. Yang penting, tidak sedetik pun perjalanan hidup ini dilalui tanpa mimpi. Sewaktu SD, saya ingin sekali menjadi tentara. Maklum, anak-anak memang selalu mengidolakan seorang jagoan yang gagah berani dalam membela kebenaran. Bagi saya, dulu, tentara adalah sosok yang cukup mewakili seorang jagoan. Gagah berani membela bangsa dan tanah air, dari serangan penjajah. Meskipun belakangan saya sadar, bahwa tentara juga bisa dipakai untuk membela penguasa haus darah.

Sewaktu SMP, saya putar haluan: ingin menjadi guru matematika. Saya melihat figur guru adalah sosok ‘jagoan’ yang lain, yang dengan ulet mendidik anak-anak bangsa agar menjadi pintar, cerdas dan berbudi. Meskipun gaji tak seberapa, hidup pun sederhana, tetapi profesi guru amat menentramkan di mata saya. Mimpi itu bertahan hingga kelas tiga SMA. Setelah saya sadar bahwa biaya kuliah tidak ada, saya berusaha untuk mere-set kembali mimpi dan angan-angan itu. Butuh waktu cukup lama, sampai pada suatu ketika, program beasiswa dari Pemda Indramayu itu datang. Akhirnya saya bisa kuliah, di jurusan yang tidak terbersit sama sekali sejak SD dulu, sejak saya mengidolakan tentara dulu.

Di waktu kuliahlah akhirnya mimpi-mimpi itu dibangun kembali, setelah menjadi puing-puing akibat keterbatasan ekonomi. Di jurusan yang baru, saya mendapatkan input-input baru, tentang ranting-ranting kehidupan yang kemungkinan bisa saya lalui. Di atas sana tergambar pucuk-pucuk kemuliaan hidup. Saya tinggal menentukannya, pucuk mana yang hendak saya capai. Setelah ditimbang-timbang dalam waktu yang cukup panjang, akhirnya terdefinisikan sudah pucuk itu. Tetapi engkau tidak perlu tahu, pucuk mana yang saya maksud, kawan! Karena itu masih menjadi rahasia saya.

Maksud tulisan ini sebenarnya hanya ingin menuangkan satu penggalan saja, dari tangga mimpi-mimpi itu. Di tahun 2010, saya, dan tentunya engkau juga, kawan, ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dari tahun 2009 yang lalu. Untuk menyusun mimpi yang baik, saya banyak belajar dari tulisan Stephen Covey, tentang “merujuk pada tujuan akhir“. Bahwa, apa pun mimpi saya itu, harus saya awali dengan pertanyaan, “apa yang akan dikenang oleh orang-orang terdekat kita, jika kita sudah tiada?”

Kita bisa mengambil makna dari kematian Gus Dur, tentang pelajaran “merujuk pada tujuan akhir” itu. Orang-orang kini mengenangnya sebagai “tokoh perdamaian”, atau “tokoh toleransi dan pluralisme beragama”. Sederet pujian mengalir dari penjuru tanah air, meskipun semasa ia menjabat RI1, cacian datang bertubi-tubi. Orang justeru akan bisa melihat jati diri kita yang asli, ketika kita sudah meninggalkan mereka. Itulah mengapa pertanyaan, “…..apabila kita sudah tiada?” itu penting dalam membangun mimpi-mimpi dalam kehidupan kita.

Kembali ke mimpi 2010. Di tahun itu, semoga Allah berkenan, mimpi saya adalah mempersembahkan hadiah terbaik bagi orang-orang terdekat saya, terutama kedua orang tua. Apa itu bentuknya, mungkin tidak perlu saya share di sini. Saya yakin, kawan-kawan blogger pun memiliki satu impian jangka panjang: kelak akan sampai di pucuk mana. Tetapi jangan lupa, mimpi jangka panjang itu terdiri dari potongan-potongan terkecil. Potongan terkecil seperti apa di tahun 2010 ini?

Selamat menyongsong tahun baru 2010, dengan mimpi-mimpi yang memuliakan hidup kita…

Mengapa Saya Nge-Blog?

Oleh beberapa kawan pengunjung, blog ini dianggap “berat” tulisan-tulisannya. Nuansanya serius. Tulisan-tulisannya idealis. Betul tidak ya? Nah, kali ini, saya ingin rekreasi sejenak dan memberikan gambaran kepada kawan-kawan blogger, mengapa saya gandrung nulis yang “berat-berat”. Ini terutama terkait dengan motivasi saya dalam membuat blog ini. Tulisan ini sekaligus juga saya buat dalam rangka meramaikan ‘hajatan’ seorang kawan blogger.

Pertama, saya menyadari betul bahwa untuk membuat tulisan, apalagi yang berbobot, kepala kita harus “terisi”. Dengan membuat blog, saya akan menulis. Agar bisa membuat tulisan yang bagus, saya perlu mempunyai ide yang bagus. Ide yang bagus lahir dari perenungan yang tajam, sekaligus ditopang oleh wawasan yang cukup. Untuk itu, saya membutuhkan referensi. Jadi, mau tidak mau, saya dituntut untuk membaca. Semakin berbobot tulisan yang akan kita buat, tuntutan untuk membaca semakin tinggi. Kesimpulannya, saya nge-blog agar saya semakin hobi dan banyak membaca.

Ke dua, belakangan, saya mulai hobi menulis. Sarana untuk menulis yang paling baik menurut saya adalah dengan nge-blog. Tidak berhenti sampai di situ. Asal menulis saja tentu tidak cukup bagi saya. Saya ingin menemukan sendiri “gaya tulisan” saya, tentunya yang berbeda dari yang lainnya. Untuk keperluan itu, saya belajar banyak dari tulisan-tulisannya Mas Emha Ainun Najib, Pak Goenawan Muhammad, Bung  Anis Matta, atau belakangan muncul Andrea Hirata. Mereka adalah orang-orang yang secara tidak langsung menginspirasi saya, agar saya menemukan gaya tulisan saya sendiri, sebagaimana mereka juga punya karakter tulisan yang khas.

Ke tiga, saya berharap, suatu saat ide-ide yang terserak di dalam blog ini memiliki benang merah yang bisa saya satukan ke dalam sebuah buku. Memang ini bukan sesuatu yang istimewa, mengingat sudah cukup banyak buku-buku yang lahir dari kumpulan tulisan di dalam blog. Tetapi bagi saya, yang sampai saat ini masih kesulitan untuk membuat sebuah buku, potongan-potongan tulisan ini cukup berarti. 

Barangkali itu tujuan utama saya nge-blog. Ada pun silaturahim, mengenal sesama kawan blogger, tingkat pengunjung blog, bahkan menambah wawasan dari tulisan-tulisan blogger lainnya, itu adalah bonus-bonus yang saya terima dari nge-blog ini. Saya senang bisa menerima bonus-bonus itu. Saya bersyukur bisa mengenal dan bersilaturahim dengan kawan-kawan blogger, meskipun awalnya itu bukan tujuan. Semoga media ini bisa menyatukan hati-hati kita, meskipun tidak pernah bertatap muka. Salam.

50 Tahun Mungkin Tak Cukup (4)

Sesampainya di Stasiun Utrecht, Belanda, kami transit. Kami harus menunggu kereta sekitar setengah jam. Suguhan pertama buat kami adalah kereta yang terlambat hampir lima belas menit. Aku berpikir refleks, “Ooh.. pantes. Belanda saja begini, apalagi negara jajahannya!” Mungkin itu kesimpulan yang gegabah, tapi memang terlihat perbedaan yang agak jauh, meski sama-sama negara Eropa, antara Jerman dan Belanda.

Dari Utrecht, kami menuju ke Leiden. Stasiun Leiden letaknya tak jauh dari Universitas Leiden, tempat para intelektual muda Indonesia bersekolah sewaktu masa kolonial dulu. Bung Hatta termasuk salah satunya. Meski tidak lebih baik dari Jerman, tapi aku masih bisa belajar banyak dari negeri mantan penjajah itu. Di situ aku melihat banyak sekali sepeda yang diparkir. Memoriku kembali terbang ke Indonesia. Aku melihat bagaimana orang-orang di kampungku sudah tak mau lagi memakai sepeda. Untuk jarak dekat pun, mereka menggunakan sepeda motor, bahkan untuk keperluan yang sama sekali tidak penting. Kalau di kampung saja sudah demikian, lalu bagaimana dengan kota besar seperti Jakarta atau Bandung? Ironis memang.

Tak lama setelah kami melihat-lihat sekeliling stasiun, jemputan dari hotel datang. Aku lihat sopirnya mengenakan dasi dan jas hitam. Sangat keren.  Tak sedikitpun ciri-ciri sopir tergurat di wajahnya. Dia tampak ramah memperlakukan kami. Aku sempat berpikir, “Wah, pasti kami akan menginap di hotel yang mewah nih. Sopirnya aja begini!”. Ternyata dugaanku keliru. Hotel itu sekelas melati.

Esok paginya, kami berkunjung ke Museum Leiden. Aku lihat gedung museum itu cukup megah. Bayangkan, gedung  lima belas lantai itu semuanya terisi fosil! Beberapa lantai mereka sediakan untuk fosil dari Afrika, Amerika selatan, Asia, termasuk Indonesia.

Setengah hari pertama kunjungan kami, diisi dengan seminar tentang manusia purba yang ditemukan di Indonesia: Phytecanthropus erectus. Siangnya kami lanjutkan dengan melihat-lihat koleksi fosil dari Indonesia. Prof. John de Vos menemani kami, sambil menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami. Sebagian besar fosil yang kami lihat, dulu ditemukan di lembah Bengawan Solo: sekitar daerah Sangiran, Trinil, Mojokerto, dan sebagainya. Fosil-fosil itu tampak apik dirawat oleh mereka.

Hari terakhir kunjungan kami di Belanda, ditutup dengan rekreasi di pantai Laut Utara (North Sea). Lautnya tampak biru jernih dan dingin, tapi pantainya gersang bukan main. Tak ada pohon yang tumbuh, kecuali sejenis rumput ilalang hampir setinggi manusia. Pantas saja pantai di wilayah ini bukan pilihan mereka untuk berlibur. Pantas saja Bali jauh lebih mereka sukai.

Meskipun hanya beberapa minggu, banyak pelajaran yang bisa ku ambil. Selama di sana, alih-alih menikmati suasana, aku malah lebih banyak berpikir dan merenung: “Berapa lama lagi bangsaku bisa seperti mereka…?”. Suara lembut itu berbisik menjawab, “5o tahun lagi mungkin tak cukup…”.

50 Tahun Mungkin Tak Cukup (3)

Negara (dan warga negara) Jerman memang terbilang sangat maju. Aku bisa melihatnya dari beberapa sisi. Pertama, mereka memiliki kesadaran yang sangat tinggi terhadap pentingnya menjaga ekosistem. Batas terluar kota mereka adalah hutan. Sungai-sungai yang membelah kota mereka menjadi habitat yang nyaman bagi tumbuhan dan hewan, termasuk unggas liar. Sepanjang “lantai” kota mereka bersih dari onggokan sampah.

Ke dua,  tata kota mereka terlihat sangat canggih. Sophisticated! Mobil, sepeda, pejalan kaki, semua memiliki track tersendiri. Transportasi publik luar biasa nyaman dan canggih. Bus kota dan kereta datang tepat waktu, predictable. Semua kendaraan harus lulus uji emisi.

Ke tiga, dan ini pelajaran yang sangat “memukul”, yaitu perihal kejujuran. Yang aku tahu, sebagian besar mereka adalah manusia-manusia rasionalis. Agama bagi mereka tidak lebih dari “aksesoris” budaya. Ku lihat bagaimana gereja-gereja di sana kosong. Mesjid pun belum pernah ku temui.  Akan tetapi, kejujuran mereka melebihi umat yang Nabinya bergelar “Al-Amin”. Malu aku dibuatnya.

Mereka tidak menempatkan seorangpun untuk menjaga mesin tiket bus kota. Di dalam bus kota pun tidak ada yang mengecek apakah kita memiliki tiket atau tidak. Jika seseorang ketinggalan dompet atau barang berharga lainnya, pun tak seorang mengambilnya. Dari mana mereka mendapat pelajaran moral yang mulia itu?

Kali ini, di tulisan ke tiga ini, aku akan berbagi tentang bagaimana mereka membangun infrastruktur di seluruh pelosok negeri.

Setelah beberapa hari kami berada di Frankfurt, kami berkelana ke beberapa wilayah di Jerman, dengan menggunakan mini bus. Kami akan mengunjungi beberapa lokasi, yang merupakan tempat ditemukannya fosil manusia purba di sana.  Perjalanan ke luar kota “dikawal” oleh jalan yang luas dan nyaman. Ku tanyakan pada doesnku, “Di sini ada jalan tol?”. “Tidak ada”, sahutnya. Tapi ku lihat sepanjang jalan itu tak ubahnya jalan tol.

Sampai di situ, aku masih berpikir, “Ah, ini kan masih di kota. Kalau sudah sampai ke pelosok, mungkin lain ceritanya.” Dulu, sewaktu aku pertama kali melintas di Jalan Sudirman – Thamrin – Rasuna Said, yang merupakan kawasan Segi Tiga Emas Jakarta, aku sempat berpikir, “Segi Tiga Emas adalah pusat kemegahan Jakarta, sekaligus ironi besar bangsa ini.” Tak jauh sebelum masuk kawasan itu, yang ku temui adalah debu hitam di jalanan, sampah terserak, kaki lima yang semrawut, pengemis dan pengamen kota yang lusuh, pemukiman kumuh di sudut kota dan kolong jembatan.  “Sudirman – Thamrin – Rasuna Said adalah kedok. Kemegahan bangunan, keindahan jalan dan taman kota di sana juga kedok.  Wajah asli Jakarta ada di pinggiran kota, dan wajah asli Indonesia ada di luar Jakarta. Semakin jauh dari Segi Tiga Emas, semakin asli wajah Indonesia.” 

Logika yang sama masih melekat pada penilaianku terhadap Jerman. “Wajah asli Jerman ada di pinggiran dan di luar kota Frankfurt”, pikirku. Namun, logika itu sama sekali tak benar di sana. Setelah jauh meninggalkan kemegahan Frankfurt, jalanan di luar kota masih sama bagusnya: tak ubahnya jalan tol. Sepanjang jalan juga tampak bersih. Rumah-rumah kumuh sama sekali tak terlihat. Hutan-hutan dan lahan pertanian mereka sungguh indah, tak kalah indah dengan hutan dan lahan pertanian tropis, yang belum dijamah illegal logging dan alih fungsi lahan. Bahkan ketika jalanan mulai menanjak ke perbukitan, jauh dari pemukiman, kualitas jalan dan rambu-rambunya sama sekali tak berubah. Aku jadi kangen dengan jalanan berlubang di negeriku sendiri.. :)

Di hari entah ke berapa, mini bus yang mengantar kami, pulang. Kami harus naik kereta, untuk menuju Belanda. Perjalanan ke belanda menempuh jarak sekitar seribu kilometer. Kalau di Indonesia, kurang lebih Jakarta – Surabaya. Kami akan berkunjung ke sebuah museum. Di sana tersimpan ribuan fosil yang dikumpulkan dari negeri jajahannya selama puluhan tahun, termasuk Indonesia.  

Di perjalanan, ku lihat indikator kecepatan di dekat toilet kereta. Aku sempat kaget, karena angkanya menunjukkan 308 km/jam. Rupanya aku sedang melaju dengan kecepatan pembalap F1! Pantas saja, perjalanan hampir seribu kilometer itu ditempuh kurang dari empat jam. Sepanjang jalan, kereta itu melewati beberapa terowongan yang menembus perbukitan. Terowongan terpanjang yang aku lewati hampir delapan kilometer. Luar biasa, bukit sebesar itu mereka lubangi!

 

50 Tahun Mungkin Tak Cukup (2)

Di depan youth hostel tempat kami menginap, terbentang Sungai Mein yang sangat jernih, jauh dari kesan terkena polusi, atau limbah pabrik, atau bahkan sekedar potongan sampah yang mengapung. Tampak beberapa kelompok unggas liar yang bebas berenang di sungai itu. Mereka seolah nyaman di tengah-tengah kemegahan kota. ”Luar biasa hebat, bagaimana masyarakat negeri ini mampu menjaga dan melindungi ekosistem mereka sendiri”. Terlintas dalam benak, bagaimana kondisi Sungai Ciliwung di Jakarta, atau Sungai Cikapundung di Bandung. Unggas-unggas liar di pedalaman Pulau Jawa saja sudah sulit ditemui, apalagi di tengah kota. Semua punah diburu oleh manusia rakus.

Di pagi yang sangat dingin, meski saat itu puncak musim panas di Eropa, aku beserta rombongan bersiap-siap untuk mengikuti seminar hari pertama di Universitas Frankfurt (J.W. Goethe University). Kami berjalan kaki beberapa ratus meter, menuju halte bus kota terdekat. Tidak jauh dari halte, tampak seonggok benda elektronik, mirip mesin ATM. Ternyata itu adalah mesin yang mencetak tiket untuk naik bus kota. Anda harus memasukkan beberapa koin, sesuai tarif yang berlaku, untuk mendapatkan tiket. Tidak ada orang yang mengawasi anda di situ. Jadi, jangan takut kalau terlihat gaptek.. :)

Saat berada di dalam bus kota, ku perhatikan, tak ada satu pun kondektur. “Lantas, siapa yang akan mengecek tiket ini?”. Aku pikir, ah, mungkin pas turun dari bus, kita harus menyerahkan tiket itu ke sopir. Lagi-lagi dugaanku keliru. Aku lihat penumpang yang turun, ternyata mereka langsung turun. Begitu pun saat giliran kami turun. “Emang gak ada yang ngecek tiket kita?”, aku tanyakan pada dosenku yang memang lulusan Jerman. “Tidak ada.” “Kalau kamu ketinggalan dompet atau lainnya, kamu tinggal balik lagi. Dompet kamu pasti masih ada di situ.” Lanjutnya.

“Really..?”

5o Tahun Mungkin Tak Cukup (1)

Tepatnya tanggal 27 Juli 2006, sekitar pukul 2 siang, aku tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Untuk pertama kalinya, aku akan naik pesawat terbang: pesawat yang selama ini hanya ku lihat pada jarak sekitar 10 km di angkasa. Tidak tanggung-tanggung, sekalinya naik pesawat, tujuanku adalah Frankfurt: kota yang menjadi gerbang negara Jerman bagi dunia Internasional. Aku akan pergi ke negara Jerman dan Belanda, selama kurang lebih setengah bulan, dalam rangka field trip di bidang paleontologi manusia. Tidak sendirian, aku bersama 13 orang lainnya, termasuk 2 orang dosen dari kampusku. 

Jerman, khususnya Lembah Neanderthal, adalah salah satu situs penting, tempat ditemukannya Homo neanderthalensis yang melegenda. Sementara Belanda, ia tidak termasuk situs penting. Tapi tahukah kawan, di sana tersimpan ribuan fosil yang diambil dari Indonesia semasa penjajahan Belanda, yang sampai saat ini belum dikembalikan kepada kita. Mungkin kawan-kawan juga masih mengingat pelajaran SMP dan SMA, perihal Dr. Eugene Dubois, yang menemukan fosil Pithecanthropus erectus. Fosil yang merupakan mata rantai terpenting evolusi itu masih tersimpan baik di sana. Itu adalah milik kita, Indonesia! Sewaktu saya bertanya kepada dosen saya, “Mengapa fosil itu tidak kita ambil saja? Itu kan milik kita?”. Dengan enteng beliau menjawab, “Daripada di Indonesia tidak ada yang merawat..?!”.

“Merawat..?!”, kata itu langsung menusuk ke dalam jantung kesadaranku. Aku mengerutkan dahi untuk beberapa lama, lantas, ya..ya..ya.. Aku mengerti, secara kolektif, kita sebagai bangsa memang masih belum bisa merawat apa yang kita miliki. Fosil-fosil itu hanya sebagian kecil dari kekayaan kita yang tidak bisa kita rawat. Lihatlah hutan kita, laut kita, barang-barang tambang kita, infrastruktur publik kita, sudahkah kita bisa merawatnya?

Setelah ada instruksi dari kapten pilot, aku segera mengencangkan sabuk pengaman. Saat menoleh ke luar jendela, ku lihat betapa besar sayap dan baling-baling pesawat itu. “Benarkah benda sebesar ini bisa terbang melawan hukum gravitasi?”, “Apa yang akan terjadi seadainya pesawat ini jatuh?”, aku bertanya penuh kekhawatiran dalam hati. Membayangkannya saja aku tak sanggup. Sungguh mengerikan! Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Bulu kudukku mulai berdiri. Keringat dingin perlahan mulai keluar dari pori-pori kulit. Rasa takut mulai menjalar ke seluruh tubuh. Hatiku terus bergumam. Ketika aku naik bus dengan kecepatan tinggi, rasa takut itu ada, tapi aku masih bisa memilih tempat duduk yang aman. Tapi ini di pesawat, tidak ada tempat duduk yang paling aman, di dekat pintu darurat sekalipun. Yang ada hanyalah kepasrahan total kepada Yang Maha Menguasai hidup kita. Aku berdzikir dan beristighfar sebisanya. Aku mencoba mengingat-Nya sekhusuk mungkin, dan meminta keselamatan dan kesempatan hidup yang lebih lama, agar aku bisa mengabdi pada-Nya setelah aku turun dari pesawat ini.

Empat jam pertama penerbangan berlalu. Pesawat itu mendarat di Taipe, Taiwan. Aku transit selama kurang lebih 2 jam, selanjutnya aku melanjutkan penerbangan dengan pesawat lain. Perjalanan ke Frankfurt ditempuh dalam waktu 13 jam dari Taipe. Selama perjalanan itu, duduk di sebelahku seorang bule remaja, rambutnya lurus panjang, wajahnya manis, tubuhnya kekar. Dia tampak cuek bebek, khas orang barat. Bahkan ketika aku muntah-muntah 2 kali, dia sama sekali not respondingNo comment! Hingga tiba di Frankfurt, aku masih belum bisa mendefinisikan apakah manusia di sebelahku itu laki-laki atau perempuan.

Ku dengar kapten pilot mengumumkan tanda pesawat dalam posisi siap landing. Aku melihat ke luar jendela. Rupanya hari sudah pagi. Terhampar di bawah sana hutan subtropis yang hijau pekat. Bayanganku semula, Eropa adalah negara yang gersang, yang hanya dipenuhi kemegahan dan hiruk-pikuk peradaban, dan hanya menyisakan pohon-pohon pinus di taman atau hutan kota, atau di lereng pegunungan yang dipenuhi salju, jauh dari kota. Ternyata dugaanku keliru. Jerman bahkan tidak kalah hijau dibanding Kalimantan, yang aku lihat sewaktu pesawat baru terbang sekitar satu jam dari Jakarta. Kota-kota di sana dikelilingi oleh hutan, sehingga tampak harmoni antara alam dengan karya megah manusia. Itulah kekagumanku yang pertama pada Jerman.

Setibanya di bandara Frankfurt, kami disambut oleh dua orang bule, yang satu laki-laki jangkung mengenakan dress coklat, dan satu lagi wanita paruh baya yang tampak casual dengan celana tiga perempat dan baju tak berlengan. Setelah say hello dan basa-basi sejenak, diajaknya kami ke lantai empat gedung bandara itu,  untuk menunggu angkutan bandara. Di sana sudah menunggu kereta kecil yang dijalankan secara otomastis, tak berawak. Sophisticated! Itulah kekagumanku yang ke dua pada Jerman.   

Untuk menuju ke Kota Frankfurt, aku beserta rombongan masih harus naik kereta bawah tanah, setelah turun dari angkutan bandara tadi. Setibanya di kota Frankfurt, kami menunggu bus kota. Di halte, tampak papan “stopwatch” yang menghitung mundur kedatangan bus kota. Saat angka menunjukkan 10, 9, 8, 7….. bus kota sudah mulai terlihat. Begitu sampai pada angka 0, pintu bus kota itu terbuka persis di depan ujung sepatuku. Busyet…kok bisa ya! Sepanjang perjalanan  naik bus kota, ku perhatikan keadaan sekeliling jalan. Tak sehelai sampah pun ku temui. Konon, Frankfurt adalah kota yang paling kotor di Jerman. Lalu, bagaimana kondisi kota yang paling bersih, jika sepuntung rokok pun tidak terlihat di kota yang paling kotor? Ah, dagelan macam apa ini!

Sempat terbersit dibenakku, andai saja aku tinggal di Frankfurt ini, aku akan mengadakan lomba mengumpulkan sampah dari seluruh pelosok kota. Masing-masing peserta hanya dibekali wadah sebesar ember cucian. Peserta yang berhasil mengumpulkan sampah sebanyak ember itu dari seluruh pelosok kota, maka akan kuberikan hadiah! Tapi, Anda jangan coba-coba mengadakan lomba semacam itu di Indonesia, pasti panitia akan bangkrut, karena harus membeli wadah sebesar Waduk Jatiluhur, untuk mengumpulkan sampah dari seluruh pelosok Jakarta. Ah, semoga saja itu berlebihan.

To be continued…

Demokrasi Jatah

Tidak biasanya, lepas maghrib, rumah itu mulai ramai dipadati orang. Mereka berkelompok, sesuai dengan wilayahnya masing-masing. Sebagian mereka memadati ruang tamu, duduk melingkar merapat ke tembok, beralas karpet yang digelar sepenuh ruangan. Umumnya mereka memakai peci hitam mengkilat, ujung depan runcing bak setrika arang. Sebagian mereka memakai peci putih, pertanda sudah pernah menginjak tanah suci Makkah. Peci itu pula yang menjadi simbol kelas sosial di kampung kami.

Kemeja batik yang mereka pakai tampak glamour, meski tak bisa menyembunyikan harga murahnya. Sarung mereka tampak disetrika rapi, meski itu bukan kebiasaan kampung kami. Mereka adalah pemuka-pemuka RT-RW dan tokoh masyarakat.

Para pemuda dan warga ‘kelas dua’ duduk memenuhi teras rumah. Bukan karena ada pembedaan dengan warga ’kelas satu’, tapi biasanya mereka secara simultan mengidentifikasi diri sendiri: di kelas mana dia pantas duduk. Sementara yang datang belakangan, mereka terpaksa duduk di pelataran, hanya beralaskan terpal plastik putih kusam, terbuat dari puluhan potongan karung beras yang dijahit menjadi satu. Mereka terdiri dari beberapa kelompok pemuda, kelompok tani dan nelayan, grup tukang becak, sekawanan seniman kampung berbakat, serta sekelompok grup bola voli.

Suasana riuh rendah. Mereka asyik becakap-cakap, mengumbar selera canda dan saling lempar makian ringan sesama kawan. Terlihat akrab dan hangat. Sesekali terdengar tawa terbahak sekelompok orang, entah apa yang sedang mereka tertawakan. Mungkin sedang menertawakan impian kosong mereka sendiri.

Rumah itu terletak di ujung utara kampung kami. Tidak jauh dari rumah itu, tampak bangunan SD yang tua dan asri, tempatku sekolah dulu. Pemilik rumah itu adalah Pak Jumaidi.

Kampungku akan mengadakan hajatan demokrasi terbesar, yaitu pemilihan kepala desa. Pak Jumaedi menjadi satu-satunya orang yang mencalonkan diri. Namun, aturan pemilihan kepala desa memungkinkan itu terjadi. Konsekuensinya, calon yang ada akan diadu dengan “bumbung kosong”.

*****

Meski kondisi masyarakat masih miskin, taraf hidup mereka tentu jauh dari standar Bank Dunia, yakni hidup dengan dua dolar AS per hari, tapi siapa sangka, menjadi calon kepala desa membutuhkan biaya yang amat besar. Tidak kurang dari enam puluh juta rupiah dana yang dihabiskan, atau setara dengan tujuh ribu dolar AS. Untuk ukuran kampung kami, itu cukup untuk membeli sawah satu setengah hektar. Bahkan, aku pernah mendengar cerita dari seorang kawan, di desa tetangga, seorang calon kepala desa menghabiskan duit sekitar satu milyar. Itu jumlah yang cukup untuk membeli sawah dua puluh lima hektar.

Hingga kini, aku tidak pernah benar-benar mengerti, apa motif segelintir orang kampung itu, hingga mereka rela mengorbankan harta yang mereka kumpulkan selama puluhan tahun, bahkan beberapa generasi, hanya karena obsesi politik kelas keroco macam itu.

Masalah ini sempat menarik perhatianku. Aku mencoba menyelidik, seolah jadi detektif intelektual, atau seorang pengamat politik kelas teri yang sedang mencari tahu faktor apa saja yang menyebabkan munculnya politik biaya tinggi itu. Aku fokuskan penelitianku pada psikologi serta pandangan masyarakat seputar pesta demokrasi pada lokus terkecil itu.

Layaknya mahasiswa program doktoral bidang sosial, meski ketika itu baru kelas tiga SMA, aku mulai penelitianku dengan terjun mewawancarai beberapa orang kampung untuk mengumpulkan data. Ku ambil sampel secara acak, namun representatif, pikirku. Kulakukan itu secara diam-diam dan natural.

Metodenya ku awali dengan obrolan ringan, saling basa-basi, menanyakan kabar keluarga mereka, perkembangan benih padi di sawah mereka, membincangkan kondisi cuaca, mengeluhkan kenakalan pemuda kampung yang semakin tidak keruan saja, serta topik-topik lain yang paling diminati.

“Hai Man…!?”. Sapaku pada seorang lelaki berusia mendekati empat puluh, tapi masih lajang. Lelaki itu tak berbaju, mengenakan celana jeans hitam lusuh yang dipotong di bawah lutut, dan sarung yang dililitkan dari pinggang hingga ke lututnya yang ditekuk ke depan. Dia duduk sambil bersandar di pos siskamling di tepi sungai yang membelah kampung kami.

Meski usianya terpaut lima belas tahun lebih di atasku, pria itu kawan setiaku. Kami biasa ngobrol selepas isya hingga hampir tengah malam di pos siskamling itu untuk mendiskusikan berbagai topik, dari mulai isu di level RT, hingga isu-isu global, tentunya sebatas nalar yang bisa kami jangkau dan informasi yang bisa kami akses. ”Obsesi menjadi pengamat politik kampung”, mungkin itu ungkapan yang pantas untuk menjuluki obrolan kami yang jauh mengawang, tak berpijak di bumi itu.

Karena sudah akrab, saling tahu gaya obrolan dan tingkat kegombalan masing-masing, aku langsung to the point, tak perlu basa-basi lagi.

”Gimana menurutmu Man, apa calon kepala desa kita ini layak memimpin kampung kita?”, tanyaku bak presenter televisi.

”Menurutku sih, kurang layak. Orang lembek begitu mana bisa memimpin kampung kita.” Jawabnya enteng.

Dia memang sering meniru gelagat pakar politik yang ingin segera direkrut oleh partai besar untuk duduk di singgasana tanpa modal besar, selain mulut besar.

”Ingat Dir, calon pemimpin itu harus memenuhi tiga syarat!”, Rasman mulai mengumbar gombalitasnya. Aku banyak belajar dari pria yang satu ini. Meski tidak sekolah, pengalamannya bisa dibilang cukup luas untuk ukuran pemuda kampung yang tak kenal komputer sama sekali itu.

”Tiga syarat!”, dia mengulangi lagi frase terakhir kalimatnya itu. ”Ooo…, apa itu Man?”, aku tak heran melihat sok tahunya, tapi dia sering membuatku kaget dengan teori-teorinya itu.

”Pertama, kapasitas. Atau kemampuan”, dia menuturkan dengan lugas. ”Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan, alias otaknya harus waras… !!”.

”Lho, gak nyambung..!!”, bantahku refleks.

”Karena dengan otak yang waras, dia mampu membedakan mana tindakan yang merugikan rakyat, dan mana yang menguntungkan rakyat. Dengan otak yang waras, dia juga bisa membedakan mana yang menjadi milik pribadi, dan mana yang menjadi milik negara. Dengan otak yang waras, dia juga akan mampu membedakan mana yang merupakan kepentingan pribadi dan kelompok, dan mana yang merupakan kepentingan publik”, Rasman membuatku terperanjat.

Wah, hebat kamu Man. Dapat dari mana penjelasan itu?”, tanyaku penasaran, meskipun penjelasannya sama sekali tidak nyambung dengan judulnya.

”Itu yang aku maksud kemampuan”, lanjutnya. Ia sedikit pun tak menghiraukan pertanyaanku.

”Ke dua, moralitas!”. ”Wah, apalagi tuh Man?”, tanyaku spontan mengikuti penjelasannya.

Lah, kalau pemimpin cuma bisa membedakan, tapi tidak bisa menentukan tindakan mana yang diambil, buat apa? Ya toh?”, sambil mengangkat alis dan bahu, dia mengajukan pertanyaan retoris itu padaku. Aku cuma menatapnya heran.

”Moralitas akan selau menuntunnya untuk mengambil tindakan yang selalu berpihak kepada rakyat. Kuncinya adalah pada hati yang bersih, bersih dari nafsu uang dan jabatan”, penjelasannya makin mantap, aku makin heran!

”Ke tiga, akseptabilitas”, bahasanya makin tinggi, aku makin kebingungan. ”Artinya pemimpin itu harus bisa diterima oleh rakyat, oleh berbagai kalangan. Jelas, untuk itu dia harus menyatu dengan rakyat, bukan cuma duduk di singgasana, tunjuk sana, tunjuk sini. Dia harus tahu penderitaan rakyat Dir, tidak seperti kebanyakan pemimpin kita di atas sana, yang cuma mengunjungi rakyat saat menjelang pemilu”.

”Betul, betul sekali Man. Tapi aku heran, dari mana kamu belajar itu?”, tanyaku polos. ”Wuiss, dari mana aja. Kamu enggak perlu tahu. Lha, kamu kan anak sekolahan, mestinya banyak baca dong! Masa, kalah sama aku. Bikin malu aja!”, makiannya bikin telingaku berdenyut.

”Terus, dari tiga hal tadi, menurutmu calon kepala desa kita ini layak?”, tanyaku mengalihkan ke persoalan inti, setelah diajaknya berputar-putar di belantara intelektualitas yang tak jelas juntrungannya.

”Ya jelas tidak toh! Coba kamu lihat, ada tidak karakter dia yang sesuai dengan penjelasanku tadi? Tidak ada toh?”, dia memaksakan penilaiannya padaku.

”Terus, berarti menurutmu calon kepala desa kita ini pasti tidak terpilih?”, tanyaku penuh tendensi.

”Ya jelas pasti terpilih toh!”, dia menjawab dengan lugas.

Lho, kok kesimpulannya jadi beda dengan pemaparan tadi?”, tanyaku makin heran.

”Ya iya, itu penjelasanku tadi itu kan kondisi ideal seorang pemimpin. Pemimpin yang seperti itu hanya bisa muncul dari masyarakat yang sudah berpikir rasional. Lha, masyarakat desa kita ini masih feodal kok. Lagipula, calon kepala desa kita itu kan dari keluarga terhormat, saudaranya banyak, tanahnya luas, duitnya juga banyak”.

”Wah, berarti nanti kita juga kecipratan duitnya dong Man?”, tanyaku meledek.

Ngarep…!!!”

*****

Pagi itu, giliran ku temui dua orang ibu-ibu yang tengah asyik berbincang di teras rumah. Sangat kebetulan, mereka sedang membicarakan pemilihan kepala desa yang akan berlangsung di kampung kami.

“Punten…”. Sapaku.

“Mangga…”. Hampir serentak mereka menjawab. “Eh… Dira. Mau ke mana Dir?”. Bu Isem mencoba menyambutku. “Enggak…, saya cuma mau lewat kok, tapi tadi saya dengar ibu sedang ngobrol mengenai pemilihan kepala desa. Saya jadi tertarik ikutan dengerin, siapa tahu saya bisa dapat informasi. Itung-itung silaturahim. Kebetulan saya sudah lama tidak main ke rumah Ibu.” Aku mencoba berkelit, untuk menutupi misi rahasiaku.

Dulu, waktu aku masih SD, aku memang sering main di pekarangan belakang rumahnya yang luas dan rindang, untuk mengumpulkan daun kayu jaran yang akan ku gunakan sebagai uang mainan.

Ah, kamu ini ada-ada saja. Masa mau ngobrol sama ibu-ibu. Pemuda mestinya ngobrol sama pemudi, toh. Hehehe…”, Bu Isem meledek.

“Lagipula, kamu ini kan anak sekolahan. Pantesnya kamu itu diskusi sama Pak Ugeng sana, apalagi untuk ngobrolin masalah pemilihan kepala desa. Wong, kita ini cuma ngerumpi saja kok. Biasa lah, ibu-ibu. Apalagi sudah sore begini. Liwet sudah mateng, mau apa lagi kalau enggak ngerumpi, sambil nunggu suami pulang dari sawah.” Bu Murija menyambung.

“Ibu bisa saja. Sama saja kok, Bu. Apa saya tidak boleh ikutan nih…?”.

“Ngawur kamu! Masa ngobrol aja enggak boleh. Ya boleh aja toh”.

“Eh, Bu Isem, dapat bagian berapa dari Pak Jumaedi?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan ke topik inti. Aku langsung menanyakan itu, karena ku tahu tadi obrolan mereka sampai di situ, sebelum aku bergabung.

Ah, boro-boro. Rokok buat suami aja enggak di kasih. Masa mau nyalon kepala desa kok enggak modal begitu.” Bu Isem menggerutu. Rupanya, meski kepala desa itu termasuk orang yang berpunya, tapi dia sangat pilih-pilih dalam membagi jatah.

“Iya tuh. Dasar medit!”, Ibu Murija memanas-manasi.

“Coba lihat Desa Bedulan, di sana itu, kalau ada yang mau nyalon lurah, satu keluarga bisa dapet seratus ribu. Bahkan, tahu enggak Dir, di Desa Cangkingan itu, satu keluarga bisa dapet tiga ratus ribu!” Bu Isem seolah menyesal karena calon kepala desa kok tidak bagi-bagi duit.

“Wah, enak ya…” Sahut Bu Murija.

Lho kok enak Bu…. Bukannya itu berarti kolusi?”, sahutku serius, tapi ku buat seolah bercanda, agar tidak menyinggung.

“Kolusi itu barang apaan Dir?” Tanya Bu Murija lugu.

“Hehe.., makanya sekolah kamu Mur.” Bu Isem meledek. “Kolusi itu sama saja dengan menyuap, alias nyogok!”.

“Ooo….” Bibir coklat tua yang keriput itu hampir melingkar dan monyong sempurna.

“Tapi Dir, mau bagaimana lagi, wong kalau sudah jadi lurah juga lupa sama rakyat kok. Lagian, bagaimana nanti kalo sudah jadi lurah, belum jadi aja gak peduli sama kita. Makanya…, mumpung dia lagi butuh, ya kita manfaatkan. Kalau perlu kita minta jatah! Urusan milih kan nomor sebelas. Ya gak..???”

Desaku Oh Desaku…

Untuk sebuah desa, ukuran kampungku cukup besar. Dengan helicopter view, akan terlihat bentuknya bujursangkar, dengan luas tak kurang dari satu kilometer persegi. Itu belum termasuk sawah-sawah yang mengitarinya. Jumlah penduduknya lebih dari tiga ribu orang. Aku tahu itu dari guru SD-ku, setelah aku sekolah beberapa waktu kemudian.

Dari jumlah penduduk yang demikian banyak itu, mungkin hanya sebagian kecil keluarga yang bisa makan dengan layak pada musim paceklik seperti ini. Makan sekali sehari dengan beras putih bersih saja sudah untung, apalagi bisa dua kali lengkap dengan sayur dan lauk pauk. Amboi nikmatnya!

Beras, pada masa paceklik, menjadi barang mewah bagi keluarga seperti kami. Padahal, masa-masa pahit itu hanya berlangsung beberapa tahun setelah negeri ini dinobatkan oleh FAO sebagai negara swasembada beras, tahun 1984 lalu. Pada tahun ini, 1989, produksi beras mungkin cukup, tapi kami tidak punya akses untuk memperoleh beras itu. Kami terlalu miskin untuk membeli beras yang sekonyong-konyong menjadi butiran-butiran emas putih itu.

Sesaat setelah masa panen, penduduk harus segera beralih mata pencaharian. Sebagian dari mereka pergi ke kotamadya terdekat, Cirebon, untuk menarik becak. Harapan terindah buat mereka adalah mendapatkan penumpang bule yang tidak tahu tarif becak. Biasanya para penarik becak itu akan segera pulang, meskipun hari masih pagi, bila mereka ditumpangi makhluk aneh berambut pirang dan berhidung mancung, yang memberi mereka uang puluhan ribu rupiah, untuk tarikan jarak dekat. Atau, mereka berharap ada dompet penumpang yang tertinggal di jok becaknya, berisi gulungan kertas bergambar R. A. Kartini yang terlipat rapi dan tebal. Beberapa hari setelah itu mereka tidak akan pergi menarik becak, selain karena uang temuan haram itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya beberapa hari kemudian, mereka juga takut akan dicari oleh penumpang!

Sebagian warga lainnya, khususnya para pemuda yang kekar berotot, akan pergi melaut. Mereka pergi ke desa tetangga, Desa Dadap, sekitar dua puluh kilometer dari kampung kami, untuk ikut mengais rejeki di lepas pantai yang biru kehijauan, mencari ikan teri nasi untuk dijual ke tengkulak yang rakus dan nakal. Di kampung kami tidak ada muara sungai yang bisa menjadi tempat bersandar perahu-perahu besar. Pantainya tidak begitu bersahabat dan sepanjang tahun mengalami pendangkalan, hingga pantainya semakin menjauh dari kampung kami. Mungkin ia tidak tega melihat nasib kami, atau merasa malu karena tidak bisa berbuat sesuatu untuk kami. Jika pantai saja merasa malu karena tidak bisa mengatasi persoalan rakyat kecil seperti kami, tidak demikian halnya dengan para penguasa saat itu.

Sawah di daerah kami hanya tadah hujan. Tidak ada irigasi. Ketika musim hujan berhenti, berhenti pulalah aliran air yang menjadi darah kehidupan pertanian kami. Panen hanya sekali, dan hasilnya hanya bisa dinikmati selama tiga bulan pertama. Sembilan bulan berikutnya akan jadi petualangan panjang kami dalam bergulat dengan nasib, sekedar untuk bertahan hidup dan melanjutkan regenerasi.

Jika petani yang punya sebidang tanah saja sudah kewalahan menghadapi ganasnya musim tropis yang sebenarnya baik hati itu, maka bagaimana dengan keluargaku yang tidak punya sawah semeter pun? Namun keluargaku tidak sendirian, meski juga bukan mayoritas.

Saat panen, Ibu dan Ayahku menjadi buruh tani, ikut memetik padi milik para tuan tanah, dengan upah seperlima dari hasil padi yang bisa kami kumpulkan. Catu, orang setempat menyebutnya demikian, adalah upah berupa padi itu. Pada mulanya kami hanya mengandalkan hidup dari catu yang kami kumpulkan selama masa panen. Setelah tak lagi tersisa, kami sepenuhnya mengandalkan telor-telor biru yang jatuh dari anus sang binatang penyalur rejeki: bebek kami tercinta.

*****

Para pemuda desa menghabiskan malam-malam mereka dengan jalan kaki keliling kampung, bukan untuk ronda, melainkan menyelinap di halaman rumah para gadis desa, dengan harap-harap cemas akan ada yang sudi menerimanya mampir untuk sekedar ngobrol. Siapa tahu dari situ jodoh datang, dan mereka segera merencanakan pernikahan pada musim panen berikutnya. Pakaian mereka layaknya orang kota, tapi dipakai dengan cara yang amat kampungan. Celana merek Jeans, Lea atau Cardinal imitasi, sandal Swallow, kaos dalam lusuh dibalut kemeja yang hanya dikancing dua bagian bawahnya, agar tampak dada dan bahunya yang kekar. Mungkin itulah satu-satunya daya pikat mereka, untuk meyakinkan gadis desa yang ditemui bahwa ia pemuda yang bisa memberinya makan dengan otot-ototnya itu, atau sebagai jaminan masa depan mereka setelah menikah. Di leher mereka tertanggal sarung batik ibunya yang dililit dan dihempaskan ke punggung. Biasanya itu mereka pakai untuk menutupi wajahnya ketika kepergok pacaran.

Pada setiap musim panen, menjelang fajar, pemuda-pemuda itu akan dibangunkan oleh orang tuanya, lalu bergegas memakai baju dinas persawahan. Sepeda ontel yang telah disiapkannya, dikeluarkan. Di samping kanan roda belakang sepeda, tampak perlengkapan dinas mereka berupa gebodan, terpal, arit dan anai-anai yang diikat jadi satu dengan air minum dan rantang berisi makanan penuh karbohidrat tak bergizi, sekedar mengenyangkan. Adik atau kakak perempuannya segera dibonceng dan meluncur menerobos kegelapan dini hari, menuju hamparan padi yang menguning, namun masih samar dan pekat. Sang ayah membonceng ibunya, melakukan hal yang sama.

Biasanya, tak lama berselang, adzan subuh berkumandang, mengalun sepi, memecah keheningan kampung dan hiruk-pikuk sawah yang telah dipenuhi deretan sepeda-sepeda perkasa nan karatan. Mereka mengabaikan panggilan ilahi itu demi memenuhi panggilan lumbung padi yang sudah lama tak terisi. Atau demi menyambung hidup di masa paceklik kelak, seperti masa-masa sekarang ini. Mereka punya pembenaran untuk itu, sebagaimana orang-orang kaya pun punya pembenaran yang sama, hanya berbeda tipe dan kelas sosial setan yang menggodanya. Mereka terlalu sibuk di siang dan sore hari untuk mengurusi bisnis dan kekayaan mereka, sehingga terlalu letih untuk menyembah-Nya.

Di mesjid desa dan mushola-mushola RT biasanya hanya tersisa manula yang sudah kesusahan untuk menahan berat tubuhnya sendiri, beserta anak-anak kampung yang tiap malam tidur di mushola, karena tidak punya tempat tidur di rumahnya. Mereka terlalu besar untuk tidur bersama orang tuanya, tapi juga terlalu kecil untuk ikut mengais padi di sawah. Di samping itu, entah sejak kapan, hal itu sudah menjadi tradisi. Menjelang magrib, anak-anak pergi ke mushola untuk mengaji ke kiyai kampung. Setelah isya berlalu, mereka nonton satu-satunya stasiun televisi nasional di rumah orang yang berpunya di dekat mushola. Malam harinya mereka kembali ke mushola dan tidur beralaskan karpet kasar nan suci itu, tanpa bantal. Selimut mereka adalah sarung yang berfungsi ganda, melindungi mereka dari kedinginan dan gigitan nyamuk. Aku termasuk bagian dari anak-anak itu.

*****

Kampungku dibelah oleh sungai intermitten, yang hanya berair pada musim hujan. Pada masa lampau, mungkin sungai itu masih bagian dari distributary channel Delta Cimanuk, karena jika dilihat dari peta, kampung kami terlihat menjorok ke arah pantai. Kini, hulu sungai itu sulit ditelusuri, karena sudah dijadikan alur irigasi dan tertimbun pemukiman.

Sungai itu menjadi aliran darah kampung kami. Penduduk menggunakan air sungai itu untuk mandi, mencuci pakaian dan bahan makanan, tempat buang air, hingga menjadi tempat mencari ikan air tawar. Pada musim hujan, airnya berwarna coklat pekat penuh koloid. Menjelang musim kemarau, air mulai berwarna hijau akibat tumbuh suburnya alga hijau. Airnya tidak pernah jernih, yang terjadi hanya perubahan dari satu warna ke warna lainnya. Yang jelas, apa pun warnanya, fungsinya tetap sama bagi kami.

Aku, dan anak-anak seusiaku pada umumnya, sangat suka berenang di sungai itu. Sungai itulah yang sempat menenggelamkanku, sekaligus mengajariku berenang setelahnya. Di sungai itu pula aku terbiasa mencari kerang air tawar, untuk kami jadikan salah satu menu terfavorit, baik dihidangkan bersama nasi putih berseri, maupun disandingkan bersama nasi aking yang kecoklatan.

Pada musim kemarau, sungai menjadi kering kerontang. Saat tidak ada air seperti itu, penduduk biasanya menggali sumur di dasar sungai itu. Satu keluarga menggali satu lubang untuk kebutuhannya sendiri, atau juga bisa dipakai untuk beberapa keluarga dengan kesepakatan sebelumnya.

Badan sungai itu biasanya dijadikan taman bermain, bahkan bermain bola, oleh anak-anak kampung. Meski tanpa air, penduduk tetap menggunakan badan sungai itu sebagai tempat buang air, sehingga bau tak sedap itu berkeliaran tak terkendali.

Ulat dan Batu

“Sudah Bu?!” Aku menatap mata ibuku yang sudah mulai memerah dan berair, dan berharap beliau menjawab, “Sudah, sekarang kamu boleh main, sana!” Lama berselang, tidak ada jawaban sama sekali. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita paruh baya yang lusuh dan tulus itu.

Matahari mulai condong ke barat. Panasnya membakar seluruh pelosok kampung. Sementara awan tak sedikit pun menunjukkan pembelaannya. Di saat seperti itu, kebanyakan orang memilih untuk tinggal di dalam rumah, sambil menghitung bilangan hari, minggu dan bulan menuju masa panen. Atau sambil mendengarkan radio yang mendendangkan tarling: pengurang beban hidup untuk sesaat.

Mereka berharap hari-hari yang panjang itu cepat berlalu. Banyak di antara mereka yang harus menanggalkan pancinya dan hanya mengepulkan asap sehari sekali untuk mengganjal perut yang keroncongan sepanjang hari.

Di musim pasca tanam ini, atau orang setempat menyebutnya lebar tandur, banyak orang yang terpaksa harus puasa Daud. Sehari makan, sehari puasa. Tentunya tanpa sahur dan hanya buka sekenanya. Kadang mereka makan hanya dengan sebatang ubi yang harus dibagi dengan anak-anak mereka. Atau dengan nasi aking yang dimakan dengan terasi goreng. Bukan karena mereka taat agama dengan melaksanakan puasa sunah itu, melainkan karena pendapatan keluarga yang byarr–pett, bagai listrik PLN yang kekurangan suplai bahan bakar. Hari ini dapat, hari berikutnya tidak, tergantung tangan nasib yang menghampiri mereka hari itu.

Bukan. Kampung itu bukan tempat yang jauh di kepalauan tak dikenal. Bukan juga daerah di lereng pegunungan yang sepi dan miskin. Kampung itu bukan kumpulan suku primitif yang tidak mengenal teknologi dan peradaban. Bukan juga tempat para pendekar bertapa, karena banyaknya daerah yang belum dijelajahi manusia, sehingga seluruh kekuatan gaib terkonsentrasi di situ.

Kampung itu terletak di urat nadi Pulau Jawa, yang menghubungkan jalur ke Ibu Kota di ujung barat, dan kota besar ke dua Indonesia di ujung timur. Setengah jam jalan kaki dari kampung itu adalah jalur pantura, dan setengah jam naik angkutan ke arah selatan adalah sebuah kotamadya, Cirebon, yang akhir-akhir ini oleh para politisi yang gagal naik tahta akan dijadikan sebuah propinsi tersendiri.

Setengah jam dengan naik angkutan ke arah yang berlawanan, kita akan menemukan sebuah kilang minyak raksasa yang paling modern di negeri ini. Konon, orang-orang yang berada di dalamnya hidup bergelimang harta. Anjungan destilasi minyak terpancang kokoh dan angkuh, bagai menara Firaun yang dibangun untuk menyembah matahari. Kemegahan kilang tersebut mampu mengelabui siapa pun yang melewatinya: memberikan kesan bahwa penduduk di sekitar situ pasti hidup gemah ripah loh jinawi, akibat trickle down effect dari komplek emas hitam itu.

Dan setengah jam ke arah timur dengan jalan kaki, akan dijumpai paparan laut lepas yang dinamis, berwarna kecoklatan akibat turbulensi arus laut yang tak henti-hentinya menyuplai pasir ke daratan. Hamparan pasirnya hidup. Jika Anda berdiri setengah jam saja, maka mata kaki Anda sudah tidak terlihat lagi. Itulah sebab mengapa penduduk setempat kurang tertarik dengan pantai tersebut.

Lagipula, penduduk situ tidak akan punya waktu yang cukup untuk menikmati pemandangan pantai yang tidak lebih baik dari nasib mereka. Tidak seperti orang-orang mapan perkotaan, yang merencanakan liburan akhir pekan di pinggir pantai yang elok. Atau berlibur ke daerah pegunungan dengan panorama aneka bunga warna-warni, di tepi danau yang tenang, sambil menyantap makanan mewah di saung.

Pemandangan yang indah bagi penduduk setempat adalah hamparan tanaman padi yang pucuknya sudah mulai menguning: pertanda nasib baik akan segera menghampiri mereka, yaitu masa panen! Ya, itu adalah saat-saat mereka menjadi “Qorun” sesaat, dengan lumbung padi penuh sesak. Masa saat mereka akan menikahkan anak-anak perawan mereka dengan pemuda-pemuda desa yang lusuh dan kekar.

Masa itu akan dinantikan oleh siapa pun, bukan hanya oleh tuan tanah yang akan memetik hasil padi berton-ton. Masa itu akan dinantikan oleh buruh tani, yang dengan senang hati memanen padi milik sang tuan tanah. Masa itu juga dinantikan oleh para sesepuh, agar mereka bisa berbagi cerita legenda desa setempat dengan penuh suka cita, sambil menghisap kelobot. Masa itu juga akan dinantikan oleh muda-mudi, karena banyaknya hiburan kampung yang diadakan pada masa panen. Biasanya hiburan itu dimulai dengan pesta mapag sri yang diadakan di balai desa.

*****

“Oh, ya sudah sana! Sudah hampir selesai kok.” Sahut ibu setelah sadar bahwa aku berbicara padanya. “Ibu tinggal napeni sekali lagi, karena ulat dan batunya sudah tidak kelihatan lagi. Tinggal sisa dedaknya yang perlu dibuang”.

Aku hendak lari menemui teman-temanku yang suda lama menunggu. Tapi sorot mataku tertuju pada tumpukan batu halus berukuran pasir yang bercampur ulat putih kekuningan, seukuran bijih beras, menari-nari genit karena dicampakkan di tanah begitu saja. Mungkin itu tanda protes kepada kami: aku dan ibuku. Menjijikkan, tapi juga terlihat lucu dan imut. Aku membayangkan seandainya ulat-ulat ini manis rasanya, pasti aku emut bak permen karet, sebelum akhirnya ku telan bersama ludahku yang sudah membuncah karena belum makan dari pagi tadi. Ah, sepertinya lezat rasanya!

Ulat-ulat dan batu-batu itu baru saja kami pisahkan dari menir berbau apek. Tahukah kawan, menir itu adalah beras yang telah hancur berkeping-keping, hasil penggilingan padi yang mesinnya sudah bobrok. Biasanya bercampur dengan dedak.

Menir apek, berbaur ulat dan batu itu, merupakan hasil ayakan yang kami pisahkan dari makanan bebek. Ayahku memelihara beberapa puluh ekor bebek. Sekitar satu bulan sekali, dua karung seberat setengah kuintal berisi makanan bebek tersebut habis. Sebagiannya diayak untuk makanan kami sekeluarga di musim paceklik, termasuk musim lebar tandur ini.

“Tolong ambilkan sapu!” Ibu menyuruhku, karena melihat aku belum juga beranjak dari situ. Sejurus kemudian, aku sudah kembali dengan sapu yang terbuat dari sabut kelapa. Sapu itu tidak terlalu panjang, tapi tubuhku hanya beberapa sentimer lebih tinggi dari sapu itu. Aku tidak menyerahkannya pada ibuku, karena aku tahu maksud ibu dengan sapu itu. Langsung ku korek butiran batu dan ulat itu, ku satukan, lalu ku masukkan ke dalam kantong plastik hitam dengan tanganku, lalu ku buang ke tempat sampah di halaman belakang rumah.

Sementara itu, ibu melanjutkan membersihkan dedak yang masih tersisa, dengan tampah berdiameter sekitar delapan puluh sentimeter. Tampah adalah sejenis alat pengayak yang terbuat dari anyaman bambu. Bentuknya melingkar datar. Di pinggirannya dibatasi oleh sayatan batang bambu yang lebih tebal, selebar empat sentimeter, berdiri tegak menyamping, dan dikaitkan dengan tali dari bambu pula.

Ibu mulai mengayun tampah itu naik-turun berirama, dengan gerakan agak memutar, hingga gaya sentrifugal bersama hembusan angin mampu menghempaskan serpihan sekam dari beras – kalau memang itu layak disebut beras.

Aku langsung meninggalkan ibuku sendiri di dekat pintu dapur yang masih asyik dengan ritual sebelum makan itu. Biasanya itu berlangsung sekitar satu jam, dari mulai ayakan pertama hingga dalam kondisi siap dimasak. Setengah jam berikutnya, barulah hidangan yang paling lezat di dunia ini siap kami santap, menjelang jam dua siang. Nasi hasil olahan yang paling unik di seantero jagat ini dihidangkan bersama kristal garam tak beriodium yang ditumbuk halus, dibumbui irisan bawang beberapa siung, dan digoreng dengan minyak jelantah. Hasilnya luar biasa: rasanya seperti makan di restoran mewah di Bandung, dengan harga sebesar penghasilan keluarga kami selama sebulan.

Tetes Kristal dari Mata Ibu

Siang itu, matahari cukup terik. Berarak awan putih bersisik, menghias langit yang biru cerah, bagai lukisan takdir yang terbentang di atas kanvas cakrawala. Sesekali melintas sekawanan burung alap-alap yang terbang dengan garang, membentuk formasi bak jet tempur tentara sekutu. Angin bertiup dengan enggan, sesaat berhembus, lantas hilang dibalik rimbunan pohon pisang yang berbaris di sepanjang tanggul.

Irigasi basah tanpa genangan air tersisa. Hamparan padi tidak lagi luas, karena masa panen akan segera berakhir. Hanya beberapa petak sawah yang masih belum dipanen, termasuk yang dikelola oleh keluargaku. Sawah tidak lagi seramai saat puncak musim panen, hanya terlihat beberapa kerumunan petani yang tersebar hampir sejauh mata memandang.  

Siang itu aku diajak ibu ke sawah, sekedar untuk menemaninya. Sepanjang hari, aku cuma duduk di tanggul, sambil membuat kreasi patung binatang kesukaanku, yaitu kuda, dari tanah liat.

Ku buat kuda sepasang, dua-duanya jantan. Hasilnya tentu bisa ditebak. Anda, atau siapa pun, tidak akan bisa mendefinisikan binatang apa yang sedang ku buat waktu itu. Kepalanya seperti anjing, tapi tanpa leher. Badannya mirip kentongan yang belum dilubangi, dan diberi empat penyangga di depan dan belakangnya. Ekornya ku buat seperti tongkat pelari estafet. Satu-satunya ciri yang menunjukkan bahwa binatang yang ku buat itu kuda, adalah suaraku sendiri saat aku mainkan patung mungil itu. ”Ekhheee… Ekhheee…. Ekhheee….!!?”

Kuda-kuda itu seolah-olah sedang berlari berkejar-kejaran, menembus semak belukar, menerjang segala aral, mengabaikan panggilan kegagalan, meliuk dan terus berlari, hingga mencapai garis finish. Ku buat keduanya bergiliran mencapai garis finish itu, dan sepanjang jalan, ku buat keduanya saling menyalip bergantian. Suatu waktu, salah satu dari kuda itu jatuh terperosok, sehingga kuda lainnya dengan mudah menjadi pemenang. Begitu seterusnya. Untuk sesaat, aku berperan sebagai sutradara kehidupan bagi kuda-kuda itu.  

”Jo, lihat, ibu dapat apa ini…?!!”, tiba-tiba suara lantang ibuku menghentikan drama kuda yang ku mainkan. Ku lihat ibu mengangkat gumpalan jerami yang teranyam rapi, sebesar kepalan tangan ibuku. Bagian atas anyaman itu terbuka, bentuknya seperti gentong. Dari dalam benda itu terdengar suara anak burung yang mencicit meminta tolong. Aku riang bukan kepalang. Ku lempar kedua patung kuda minimalis itu. Ku berlari menuju ibuku, langsung ku sambar sarang berisi dua anak burung yang masih merah itu. Sejurus kemudian aku kembali ke tempatku semula, karena ibuku harus melanjutkan pekerjaannya.

Tidak seperti panen-panen sebelumnya, hari itu ibu memetik padi dengan anai-anai, bukan dengan arit. Sendirian. Kali ini, panen bisa dibilang gagal. Banyak padi yang tak berisi, sehingga harus dipilah. Hanya tangkai yang berisi saja yang dipotong, itu pun pucuknya saja. Pada saat seperti itu, hasil padi biasanya hanya seperlima, atau bahkan kurang, dari hasil yang didapat jika padi bisa tumbuh normal.

Aku begitu asyik dengan mainan baruku, dua anak burung yang masih merah. Ku ambil satu tangkai padi, ku petik satu biji, dan ku kupas dengan gigitan. Beras yang basah akibat ludahku itu dipotong jadi dua, lalu ku suapkan ke mulut jabang burung itu.

Setelah kedua-duanya menelan beras di mulutnya, aku bergegas mencari genangan air yang tersisa di sepanjang irigasi yang sudah mulai kering itu. Sedikit jauh, kudapati genangan air berwarna kuning kecoklatan, hanya selebar lengan mungilku.

Kuciduk air dengan kantung plastik. Secepat kilat ku berlari, kembali menemui anak-anak burung itu. Ku beri minum keduanya dengan tetesan air dari jari telunjukku yang tercelup.

Aku segera memberi tahu ibuku. ”Bu, burungnya sudah ku kasih makan dan minum..!!”.

Ibu menoleh, sambil tersenyum. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang keriput kecoklatan, tampak lebih tua dari usianya. Ku perhatikan, air matanya berlinang, menetes deras ke pipinya, hingga menitik ke dahanan padi yang tampak kering kusam.

Mukaku yang ceria mendadak mengendur lesu. Spontan aku berempati, meski sama sekali tidak mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan ibu waktu itu.

Senyumnya mulai memudar, lalu kembali merunduk, melanjutkan pekerjaannya memetik tangkai-tangkai padi yang mulai basah oleh air matanya itu. Mataku masih memperhatikan wajah ibu, yang masih terus saja menitikkan air matanya. Aku makin sedih, tapi aku juga makin tidak mengerti. Kenapa ibu menangis?

Aku beranjak bangun, berjalan pelan menuju ibu. Tepat di sampingnya, aku berdiri mematung. Ibu tampak tidak menyadari kehadiranku. Ku pegang tangan kiri ibu. ”Kenapa ibu menangis?”, tanyaku polos. Ibu sedikit terkejut, lalu menoleh. ”Ibu sakit?”, lanjutku.

Ibu segera mengusap air matanya. ”Ah, tidak Nak. Ibu tidak apa-apa.”

”Lalu kenapa ibu menangis?”, desakku. ”Tidak ada apa-apa, kok. Sudah! kamu kasih makan lagi itu burungnya. Nanti dia nangis lho..!?”. Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan.

”Tapi ibu kasih tahu aku dulu, kenapa ibu nangis?”. Ibu terdiam sejenak. ”Nanti ibu kasih tahu. Sudah sana! Itu burungnya sudah minta minum tuh.. tuh…?!”, Ibu mencoba menghalau pertanyaanku.

”Tapi ibu janji akan ngasih tahu aku ya?!”. ”Iya… sudah sana!”. Aku kembali meladeni burung-burung yatim piatu itu.

Tak terasa, matahari mulai condong ke barat. Bayanganku sudah sama panjangnya dengan tubuhku. Tak sehelai tirai pun yang menghalangi sinarnya yang keemasan. Langit sore makin cerah saja. Birunya belum juga pudar. Para petani mulai bersiap-siap meninggalkan sawah ladangnya.

Ku lihat ibu sedang berkemas, mengikat karung-karung yang telah berisi penuh tangkai padi. Dari arah barat, tampak seorang paruh baya bersepeda dengan tenangnya. Laki-laki itu mengenakan topi coklat gelap, kaos abu-abu kehijauan, dan celana panjang hitam, tanpa alas kaki. Wajahnya persegi, kumis dan janggut cukup tebal, kulit warna gelap kecoklatan. Dari kejauhan, tampak laki-laki itu menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Dia tampak luwes dan santun. Pasti banyak orang kampung yang mengenalnya.

Semakin lama, laki-laki itu semakin mendekat. Sesampainya di tempat kami, dia berhenti. Dia sandarkan sepedanya di pohon, lalu bergegas menghampiri kami. Dialah ayahku, yang bermaksud menjemput aku dan ibu. Ayah yang paling hebat di dunia!

“Sudah selesai bu?”, tanya ayah.

“Eh… bapak. iya pak, ini sudah selesai. Tinggal diikat saja.”, rupanya ibu tidak menyadari kehadiran ayahku. “Biar bapak saja yang mengikat Bu. Ibu istirahat saja dulu, sambil mengemasi barang-barang.” Ayah segera mengambil alih karung-karung itu. ”Jo, bantu ibu mengemasi barang-barang ya?!”, pinta ayah padaku.

”Baik pak.” Aku segera memasukkan anak-anak burung beserta sarangnya itu ke dalam rantang yang terbuka, bekas tempat nasi yang kami bawa dari rumah.

Tak lama berselang, kami selesai berkemas. Ayahku sudah mengangkat tiga karung tangkai padi itu ke atas sepedanya. Lalu kami bergegas meninggalkan petak sawah yang belum selesai dipanen itu. Ibuku akan melanjutkan memetik padi esok paginya.

Selama perjalanan pulang, aku naik di atas sepeda bersama karung-karung itu. Ayahku menuntun sepeda, sementara ibu mendorongnya dari belakang.

”Pak..?!”, sambil jalan pulang, ibuku memulai pembicaraan. “…Genjo kan minggu depan mau disunat. Sementara, sampai saat ini, kita belum punya uang. Bagaimana ini pak?”.

Ayahku cuma terdiam. ”Bapak kan tahu, panen kita kali ini gagal. Paling banyak kita dapat dua kwintal pak, itu cuma cukup untuk menyediakan berasnya saja. Belum lagi harus dibagi dengan pemilik tanah. Telur-telur bebek itu pun cuma cukup untuk makan dan bayar utang pada Bu Haji Marsiti.”

Ayahku masih membisu. ”Apa tidak sebaiknya bapak pergi ke rumah Kang Ratiyo, untuk minta pinjaman? Siapa tahu dia mau bantu, Pak. Dia kan sudah hidup enak di sana. Mobil dia sudah punya, rumahnya bagus, jadi lurah lagi.”

”Sudah, Bu. Bapak sudah menitipkan pesan ke Kang Munir, agar disampaikan ke Kang Ratiyo, kalau kita mau pinjam uang. Tapi…”, ayahku terdiam sejenak.  ”Tapi apa Pak…?!”, ibuku penasaran. ”Ah, sudahlah Bu. Sebaiknya kita cari cara lain saja untuk mendapatkan uang itu.”

Ibuku hanya diam. Air matanya kembali mengalir, laksana tetesan kristal kesucian cinta kasih yang takkan lekang termakan kurun.

Usiaku sudah menginjak enam tahun. Khitan adalah suatu kewajiban, sekaligus ritual sakral bagi anak laki-laki, terutama seusiaku. Ibu dan ayahku berniat untuk melaksanakan hajat itu.

Sudah menjadi tradisi pula, bahwa segala hajatan, entah walimatul khitan, atau malimatul ’ursy, dilaksanakan sesaat setelah masa panen. Tradisi itu menemukan logikanya sendiri, ketika melihat kondisi sosial-ekonomi masyarakat kampung kami yang amat bergantung pada sektor pertanian padi. Energi ekonomi berpusar pada titik masa panen, dengan batas terluar pusaran itu adalah masa paceklik.

Bagi kami, hajatan bukan persoalan kecil, jika diukur dari resiko biaya yang harus dikeluarkan. Tahun 1989, pilar ekonomi keluargaku masih bertumpu pada dua sektor: sekawanan bebek dan sepetak sawah, hasil sewa dengan sistim bagi hasil dengan tuan tanah. Pendapatan dari kedua sektor itu masih jauh dari cukup untuk makan dan tinggal secara layak. Tidak terbayangkan jika keluargaku harus menyiapkan uang ratusan ribu rupiah, untuk meng-khitan-ku.

To be continued…