Sudah beberapa pekan, Blackberry saya tidak bisa digunakan. Asal ceritanya, di suatu pagi, saya dan beberapa orang kawan sedang berbincang di lingkungan suatu kampus di Jakarta. Posisi gadget ada di saku celana. Sambil ngobrol, sesekali saya pantau pesan-pesan yang masuk. Tak ada indikasi bahwa gadget itu akan rusak. Tiba-tiba saya lihat layar smartphone itu putih bersih, tak ada noktah sedikitpun. Saya coba telpon dengan hp lain, ternyata masuk. Masih nyambung. Wah, gawat nih… LCD-nya rusak!
Saya coba bawa untuk diperbaiki, karena garansinya masih berlaku. Ternyata, setelah dikonfirmasi, tidak bisa. Alasannya ada cacat sedikit di tombol kunci. Wueleh…
Sejak itu, karena saya belum sempat memperbaikinya di luar, rasanya ada yang hilang. Maklum, dengan smartphone itu, saya terbiasa berselancar mencari info-info yang saya minati dengan gampang. Salah satunya, dan yang utama, adalah soal isu pengelolaan sektor energi di Indonesia. Di samping itu, tentu saja, kita bisa terhubung dengan komunitas dan jejaring sosial kapan pun dengan mudah.
Tanpa gadget itu, saya agak sulit mengikuti arus topik-topik utama yang sedang hangat di media secara “real time”, baik soal politik, ekonomi, juga sesekali seputar dunia sepak bola – meskipun saya tidak begitu gandrung main bola. Di kantor pun, waktu untuk berselancar tak begitu banyak, hanya di sela-sela jam istirahat. Praktis, ‘jendela’ info yang saya miliki adalah media ‘konvensional’: TV di rumah, juga langganan majalah Tempo yang sepekan sekali singgah di meja kerja saya.
Sebetulnya, sebelum gadget itu saya punyai, rasanya biasa saja. Toh, dunia tetap mengalir, dengan atau tanpa keterlibatan kita di dalamnya. Lagipula, terlalu banyak sampah informasi yang masuk, juga tak bagus. Terlebih jika kita tengok, pemberitaan yang tak elok lebih sering mendapat tempat dibandingkan dengan info yang bisa memupuk rasa optimisme kita berbangsa.
Salah seorang tokoh bahkan pernah berbagi tips: bacalah buku, bukan berita.
Namun tetap saja, ada yang hilang…
Tak perlu waktu lama, saya segera mendapatkan poin penting dari ‘kehilangan’ ini. Sejak saya punya smartphone, praktis, jam baca buku menurun drastis. Jika sebelumnya saya bisa menghabiskan satu buku dalam sepekan, setelah saya punya gadget itu, saya bahkan pernah membaca satu buku lebih dari sebulan. Itu pun tidak kelar.
Saya lebih asik berselancar, ber-bbm, bahkan ber-game – hal yang sebelumnya sangat jarang saya lakukan.
Bahkan, sesekali, kecenderungan saya yang terlalu akrab dengan gadget itu juga sempat menurunkan kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat, lantaran waktu yang saya sediakan untuk mereka tidak sebanyak sebelumnya.
Memang sudah jadi pemandangan yang lumrah, dua orang yang bersebelahan, kerap saling mengacuhkan kehadiran satu sama lain, saking fokusnya pada ‘dunia’nya masing-masing yang luasnya tak lebih dari lima inch itu.
Rupanya, dengan rusaknya smartphone itu, saya bukan kehilangan, malah menemukan kembali kebiasaan yang sudah lama terbangun di dalam diri saya. Saya kembali membaca buku dengan lebih sering dan lebih fokus.
Saat bergelantungan di kereta, tak ada aktivitas lain yang berarti, selain membaca. Waktu setengah – satu jam bisa untuk melahap puluhan halaman buku, yang berisi ilmu dan wawasan yang lebih bermakna, ketimbang mengikuti arus berita yang berserakan di media online.
Saya kembali menemukan gairah membaca, yang sebelumnya sempat mengendur, akibat godaan teknologi informasi yang menawarkan begitu banyak kemudahan.
Ya, dengan ‘kehilangan’ smartphone, saya malah ‘menemukan’ kembali sesuatu yang berharga – kebiasaan dan semangat membaca buku. Bahkan, lebih dari itu, kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat juga kembali membaik.
Ini sama sekali bukan soal sentimen negatif ke smartphone. Gadget semacam itu bisa memberikan banyak manfaat. Tetapi dengan kejadian ini, ke depan, saya akan mendudukkan posisi smartphone secara proporsional. Dia tidak boleh merampas kebiasaan berharga saya, apalagi menurunkan kualitas hubungan saya dengan orang-orang tercinta.
