Berangkat dari empat komponen penyusun manusia: jasmani, perasaan (emosional), pikiran (mental) serta jiwa, maka empat komponen ini jualah yang menyusun kehidupan suatu masyarakat. Karena itu, apa yang menjadi kebutuhan masyarakat secara kolektif, bahkan dengan sistemnya, juga bisa kita rumuskan dari kebutuhan individu itu sendiri.
Pertama, komponen fisik, atau jasmaniah. Kebutuhan bagi komponen fisik di antaranya: makan, minum, berpakaian, bertempat tinggal. Dari sudut pandang kolektif, tentu masyarakat membutuhkan kesejahteraan ekonomi. Inilah kebutuhan primer mereka – sebagai mahluk hidup. Karena itu, kita bisa melihat dominannya kegiatan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.
Juga dalam lingkup negara, sektor ekonomi, baik makro maupun mikro, begitu dominan mempengaruhi kebijakan publik. Krisis ekonomi, seperti yang kita alami satu dasawarsa lalu, bahkan merupakan pangkal krisis multidimensi yang efeknya masih terasa hingga kini. Inilah cerminan bahwa apa yang menjadi kebutuhan primer individu, juga menjadi kebutuhan primer suatu masyarakat.
Kebutuhan primer ini akan relatif mudah terpenuhi, jika lapangan kerja dan kesempatan berusaha terbuka seluas-luasnya. Sempitnya lapangan kerja, serta susahnya kesempatan berusaha, akan menjadi benih-benih keretakan masyarakat.
Ke dua, perasaan atau emosional. Secara kolektif, masyarakat pun memiliki rasa, emosi, harga diri atau kehormatan. Masyarakat juga ingin kebutuhan emosional mereka terpenuhi: kebutuhan menyalurkan aspirasi politik, perlakuan yang sama di depan hukum, serta perasaan dihargai oleh kelompok lain, terutama oleh penguasa. Kebutuhan ini akan relatif mudah terpenuhi apabila sistem demokrasi berjalan baik, bebas dari intimidasi kelompok tertentu, atau oleh penguasa.
Tanpa kebutuhan emosional yang terpenuhi, stabilitas sosial-politik sulit diwujudkan. Bahkan ketika rezim yang represif berkuasa, stabilitas semu lah yang terjadi. Di dalamnya masih terus tersimpan bara yang menyala-nyala, yang suatu saat bisa membakar apa saja.
Karena itu, tidak cukup kita mengatakan: “siapa pun pemimpinnya, apa pun sistem politiknya – demokrasi atau otoriter, yang penting rakyat sejahtera”. Dalam jangka pendek, mungkin iya. Sementara rakyat belum terpenuhi kebutuhan primernya, barangkali mereka belum terlalu peduli dengan kebutuhan emosional mereka. Perlahan tapi pasti, seiring dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat, tuntutan mereka pasti akan beralih ke pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi: kebutuhan emosional mereka!
Ke tiga, komponen pikiran atau mental. Kebutuhan komponen ini bisa dipenuhi dengan adanya sistem pendidikan, pelatihan maupun penyaluran-penyaluran bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh suatu masyarakat.
Sistem pendidikan adalah pilar terpenting dalam transformasi masyarakat – tentu kita tahu hal ini. Tak ada satu pun masyarakat yang maju, tanpa ada sistem pendidikan yang hebat di belakangnya. Jepang, Amerika Utara, Eropa Barat, di negara-negara inilah sistem pendidikan dunia berkiblat. Dan kita tahu, negara-negara di kawasan ini pulalah yg saat ini maju.
Sungguh, perkembangan pemikiran dan mental adalah kebutuhan penting suatu masyarakat. Karena itu, bagi siapa pun pelayan masyarakat, hendaknya mengutamakan pengembangan sektor pendidikan dan sumberdaya manusia. Inilah kebutuhan mereka yang esensial untuk menuju taraf kehidupan mereka yang lebih baik.
Ke empat, komponen jiwa. Kebutuhan ‘jiwa’ masyarakat adalah tegaknya nilai-nilai kebaikan, serta nilai-nilai spiritualitas. Tentu, bukan hanya tegaknya simbol-simbol keagamaan seperti: megahnya bangunan mesjid, menjamurnya pesantren atau sekolah-sekolah keagamaan, pemakaian simbol-simbol agama di ruang publik, dan sebagainya. Yang lebih utama tentu esensinya: nilai-nilai agama yang tertanam jauh di hati masyarakat, yang lalu mewujud menjadi tindakan-tindakan: mencintai kebenaran, menghindari prilaku-prilaku merusak – seperti korupsi dan sebagainya.
Saya belum melihat satu masyarakat pun yang keempat pilarnya ini tegak secara bersamaan. Masyarakat yang maju sekalipun, paling banter hanya tiga pilar yang tegak: sektor ekonomi, sistem demokrasi dan sistem pendidikan yang maju. Pilar ke empat, nilai-nilai spiritualitas, nyaris tidak terbangun pada masyarakat Jepang, Amerika Utara atau Eropa Barat. Akibatnya, krisis identitas mewabah. Mereka nyaris kehilangan makna hidup yang hakiki.
Sebaliknya, banyak negara berkembang yang berusaha menegakkan pilar ke empat ini - setidaknya melalui regulasi atau penegakan aturan yang berbasis agama. Namun sayangnya, tiga pilar lainnya terabaikan: ekonomi yang tidak begitu terurus, sistem politik yang otokratik, serta sistem pendidikan yang belum terlihat maju.
Saya belum bisa membayangkan bagaimana kondisi masyarakat yang keempat pilarnya ini tegak. Barangkali istilah “madani” dalam pengertian saya adalah seperti itu.