Stephen Covey, dalam “8th Habits”, memberikan satu sudut pandang yang cukup menyeluruh tentang bagaimana prinsip-prinsip kehidupan ini bekerja, khususnya terkait hubungan antar manusia. Saya selalu tertarik dengan buku-buku yang ditulisnya, tidak lain karena kedalaman prinsipnya – tidak sekedar mengupas “sikap” dan “mental” di permukaan. Salah satu prinsip penting dalam buku itu adalah: keagungan (greatness) hanya dapat dicapai ketika manusia benar-benar menjadi pribadi utuh.
Kita mafhum, manusia tersusun atas komponen: fisik (termasuk kebutuhan ekonomis), mental (pikiran), emosional dan hati nurani (jiwa). Satu saja dari keempat komponen ini tidak diberi “nutrisi”, maka kekosongan hidup akan terjadi – dan ini selalu menimbulkan masalah. Nutrisi bagi fisik tak perlu ditulis. Nutrisi bagi mental (pikiran) juga jelas: ilmu, pengetahuan, ide, kreativitas dan inovasi, dan sebagainya.
Nutrisi emosional adalah kebutuhan akan cinta, kasih sayang, perlakuan yang adil, penghargaan, pengakuan, persahabatan atau kedekatan, perlindungan, dan sebagainya. Nutrisi bagi hati nurani, dan ini yang menjadi pusatnya, adalah: kebenaran, keimanan, atau prinsip-prinsip lain yang sesuai dengan hati nurani.
Pemahaman akan keempat komponen penyusun manusia ini amat penting dalam membantu kita berinteraksi dengan, dan memperlakukan, manusia lainnya: pasangan, keluarga, teman, bawahan – atasan, relasi, dan semua manusia yang bersinggungan dengan kita. Bahkan pemahaman ini juga penting untuk memperlakukan diri kita sendiri.
Intinya: orang-orang di sekitar kita perlu mendapatkan “nutrisi” bagi fisiknya, bagi pikiran (mental)-nya, bagi kehidupan emosionalnya, dan bagi nuraninya. Jika salah satunya tidak kita penuhi, hubungan kita dengannya masih menyisakan kekosongan – dan ini selalu menimbulkan masalah.
Cobalah Anda penuhi nafkah kepada keluarga kita (kebutuhan fisik-ekonomis), lalu sisanya abaikan: tak perlu mencintainya secara tulus (emosional); tak perlu membiarkannya tumbuh dan berkembang secara intelektual (pikiran); tak perlu diurusi apakah keluarga Anda melakukan sesuatu yang benar – beribadah, berbuat jujur, baik kepada sanak-famili (hati nurani). Mudah ditebak akibatnya.
Atau, dengan pertanyaan yang lebih sederhana: bagaimana jika Anda dicintai (emosional) oleh pasangan, tetapi ide atau pendapat Anda (pikiran, mental) tidak pernah dipandang olehnya? Atau sebaliknya, jika pendapat-pendapat Anda (pikiran) didengarkan, tetapi Anda tidak dicintai olehnya?
Bahkan ketika tiga komponen lainnya terpenuhi, lalu salah satunya terabaikan, efeknya tetap muncul dan tidak bisa digantikan oleh pemenuhan ketiga komponen lainnya itu.
Gajilah karyawan Anda secara layak (fisik-ekonomis), akuilah dan beri dia penghargaan setulusnya (emosional), lalu biarkan – bahkan dukunglah – ia untuk berkembang (mental, pikiran), tetapi kemudian Anda menyuruhnya untuk memanipulasi perhitungan pajak, membohongi pelanggan, atau hal-hal lain yang membentur tembok nuraninya. Bisakah Anda menjamin karyawan itu akan tetap bertahan di perusahaan Anda? Setidaknya, puaskah ia?
Kita bisa mengolah berbagai kasus lainnya, dengan pendekatan salah satu dari komponen itu yang tidak dipenuhi, dengan kerangka pemikiran ini. Dan hasilnya akan sama saja: ketidakharmonisan hubungan antar manusia.
penghargaan tulus: ucapan sederhana seperti terima kasih gitu ya?
ketulusan pasti dari hati mbak.. apa pun bentuk fisiknya (acungan jempol sekalipun), yg pasti orang yang dihargai secara tulus akan merasakannya.
siip…
jadi ilmu tersendiri bagi saya kang..
terutama sebagai acuan dalam menerima dan memberikan sesuatu baik oleh, dari, serta untuk diri sendiri maupun yang lain…
makin mangstab j tulisannya kang…
Tks..
Jadi tahu sedikit tahu tentang ilmu kepribadian ni saya, Mas. Thank you atas sharing-nya.
Sama2.
bagus artikelnya… thanks ya mas..
Oya?
Manusia Agung yang pernah saya dengar cuma satu dalam keyakinan yang saya anut, Muhammad SAW.
berarti sang baginda sangat memenuhi ke empat komponen diatas yaa,
kalau kita yang lain, berusaha tetap menyeimbangkannya
Keagungan tentu ada spektrumnya, dari yang “agung” sampai yang “uuuaaaaagung…”.
Nah, Beliau mungkin yang berada di puncak keagungan tadi.
Semoga saya bisa mengaplikasikannya dalam keseharian kehidupan
Semoga saya juga.
mas dira…. jadi semuanya harus berawal dari diri kita sendiri ya, baru ngeh saya mas setelah baca artikel ini.
kalau baca tulisan: “berawal dari diri sendiri”, saya selalu inget Aa..
Dengan komponen komponen yang beraturan pasti menjadi mantap
Apanya yg beraturan kang dadang..
praktiknya ada di buku ini sahabat.. silakan di klik http://tipsbisnisuang.wordpress.com/buku-saya/rahasia-surat-hati/
semoga bermanfaat
ketulusan datang nya dari hati ,
maka dalam bentuk apapun sesuatu yang kita kerja kan pasti ada jalan keluar apabila semua nya itu datang nya dari ketulusan hati yang nurani
trma kasih atas informasi dari web.ini
by.aryyyyyyyyy