Mendiang Soeharto: Pahlawan? (2)

Saya sendiri canggung untuk mengatakan “layak” atau “tidak layak” sosok Pak Harto digelari pahlawan. Namun, saya punya imajinasi berikut.

Di sebuah ruang kelas sekolah dasar anak saya, tahun 2018, terpampang foto sosok Pak Harto sebagai “pahlawan pembangunan”. Pulang sekolah, anak saya bertanya, “Ayah, siapa sih Pak Soeharto itu?”. Saya jawab, “Nak, itu presiden Indonesia ke dua setelah Pak Soekarno. Jasanya besar membangun negeri ini dan beliau berkuasa selama 32 tahun.”

“Berarti beliau itu hebat ya, Ayah. Kalau sudah besar, aku pengen seperti Pak Harto, ah! Jadi presiden Republik Indonesia dan membangun Indonesia,” Anak saya bersemangat.

“Tapi, Nak, ada hal-hal yang tidak patut kamu contoh dari Pak Harto”.

“Apa itu, Ayah?”.

“Jaman Pak Harto dulu, korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela akibat “penyalahgunaan wewenang” yang dilakukan oleh beliau. Korupsi sedemikian sistemik dan terstruktur, sehingga kebocoran APBN diperkirakan mencapai 30% (menurut Prof. Sumitro). Bahkan versi Pak Mathias Rauf (ITB), dengan metode analisis input-output ratio, kebocorannya bisa mencapai 52%.” 

“Di jaman Pak Harto juga banyak terjadi peristiwa berdarah. Banyak aktivis yang ditangkap, bahkan tidak sedikit yang mati terbunuh, karena tangan dingin Pak Harto, misalnya kasus Tanjung Priuk, Peristiwa Lampung, dan sebagainya. Bahkan, pada saat Pak Harto lengser, masih juga ada korban 4 mahasiswa Trisakti, yang sampai saat ini penyelesaian kasusnya belum jelas. Ayah juga kasihan sama orang-orang yang “dicap” PKI di jaman Orde Baru. Mereka mengalami diskriminasi yang amat menyakitkan.”

“Pembangunan ekonomi yang dicanangkan Pak Harto juga menimbulkan ketimpangan yang luar biasa, antara desa-kota, antara Indonesia barat – timur, antara Jawa – luar Jawa, serta antar pelaku ekonomi. Konon, 90% uang hanya  beredar di Jakarta. Pada masa itu juga terjadi konglomerasi yang sedemikian masif, sehingga 76% GDP kita hanya dinikmati oleh 163 konglomerat saja (hasil penelitian PDBI). Pondasi ekonomi yang dibangun oleh Pak Harto juga sangat rapuh, terbukti dengan adanya krisis moneter tahun 1997-1998, ekonomi Indonesia kembali luluh lantak. Bahkan hingga 12 tahun kemudian, tahun 2010 yang lalu, ekonomi Indonesia masih belum pulih benar.”

“Pertumbuhan ekonomi sebesar 7% (sebetulnya potensi Indonesia lebih tinggi) pada waktu itu lebih ditopang oleh pengurasan sumberdaya alam, terutama hasil tambang (terutama minyak) dan hasil hutan. Tambang emas kita di Papua diambil orang lain, sementara negara kita hanya mendapatkan bagian yang sedikit sekali. Hutan kita gundul, batubara kita juga dikuras. Pasir-pasir kita dibawa keluar untuk “mengurug” negara Singapura. Kita jual barang mentah ke negara lain, sementara kita impor bahan baku untuk industri kita, sehingga industri kita amat bergantung pada komponen impor.”

“Pertumbuhan ekonomi pada waktu itu juga ditopang oleh utang luar negeri yang besar, sehingga pada saat uang itu ditarik ke luar negeri, ekonomi-industri kita sekarat. Pada saat Pak Harto lengser, hutang kita hampir 70 milyar US dolar. Kebijakan ekonomi kita diarahkan untuk mengikuti “gendang” IMF, yang sudah terbukti telah menjerumuskan kita.”

“Pak Harto juga dikenal sangat otoriter. Kekuasaan beliau banyak dijalankan dengan inpres (instruksi presiden), bukan dengan menjalankan ketentuan undang-undang. Kebebasan politik dipasung sedemikian rupa, sehingga secara politik, situasi nasional sebetulnya “mencekam”. Itulah, Nak, sekelumit cerita tentang “kehebatan” Pak Harto.” 

“Ayah cerita apa sih? Aku enggak ngerti. Tapi, ayah tadi bilang peristiwa pembunuhan ya? Pak Harto juga korupsi ya? Lalu, kenapa kok diangkat jadi pahlawan? Berarti, Ayah, pahlawan juga boleh membunuh dan korupsi ya?”

Saya garuk-garuk kepala… Saya lupa sedang berbicara dengan anak kecil.

About these ads

11 gagasan untuk “Mendiang Soeharto: Pahlawan? (2)

  1. hi22….. lucu juga ya……. tapi kita mencoba melihat dari berbagai sudut pandang…… kan sbagian besar pejabat yg ngurusin gelar pahlawan itu hidup di jaman suharto jg… mungkin ada penilaian lain atau apa lah sekiranya logis buat alasan ke publik…..

    yang saya garis bawahin…. anak mas dira tar main ya dg anak sy hi22…

    • Memang, semua orang di Indonesia ini, yang usianya di atas 20 tahun, pernah hidup di jaman Soeharto Ci.. :)

      Kalau saya malah melihat, isu ini diangkat pada saat menjelang evaluasi satu tahun pemerintahan SBY..

      Btw, kawin dulu ci.. baru ngomongin anak, hehe…

  2. Besannya Pak Harto, waktu itu, Prof. Sumitro sering menyatakan sekitar 30% APBN bocor. Sayang, sekarang tidak ada yang berani seperti Pak Mitro. Dan menurut ICW ,beberapa waktu yang lalu ,sekarang ini korupsi jauh lebih marak dan merasuk kemana-mana.

    Remormasi ini ternyata tidak banyak yang direform.
    Terima kasih.

  3. nice artikel.

    Saya pnah tanya k seorang pnjual sayuran yg biasa nongkrong d pasar Hgl, “Mba, enakan jaman Pak Harto dulu apa enakan yg skg??”

    Dan mbak’ sayur itu jawab, “Wah, enakan jaman pak Harto duu mas. Dulu semua harga murah, ga ada aksi demo2. Jd suasananya aman. Coba liat sekarang di tv-tv. Dimana-mana demo pasti rusuh, n harga barang mahal bgt.”

    “Tapi kan pak harto itu banyak korupsi’nya lho mbak’?”, cetus saya. Dan mba pdagang sayur bilang, : Yah, itu mah bukan urusan saya mas. yang penting bg saya rakyat kecil mah harga2 bisa kembali murah, n semuanya aman ga ada keributan2 sprti sekarang”.

    SAYA HANYA SENYUM MENANGGAPINYA. :)

    • Nice… yg paling dirasakan oleh rakyat kecil adalah “stabilitas”, baik ekonomi maupun politik, seperti yg sudah saya sampaikan pada seri pertama tulisan ini. Ini memang impact dari rezim militer yg otoriter. Rakyat kecil tentu tidak tahu, dan tidak akan mau tahu, “mengapa” harga pd waktu itu “terlihat” murah.. dan “mengapa” pada waktu itu “terlihat” tidak ada ribut2, meskipun itu semu.
      Yang sebetulnya terjadi adalah harga yg murah bukan karena swasembada pangan, melainkan subsidi yg sedemikian besar. Begitu juga dengan “keributan”. Yg terjadi bukan tidak ada keributan, melainkan “tidak ditayangkannya (di media massa) setiap keributan, bahkan tragedi pembantaian, yg terjadi”..

  4. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s