Sisi Lain Mudik Lebaran

Entah bagi Anda. Bagi saya, ada semacam perasaan yang paradoks dalam menyikapi mudik lebaran: rasa semangat dan rasa malas sekaligus! Rasa semangat sudah tentu muncul, karena akan segera bertemu keluarga dalam suasana rindu yang mengharu-biru. Bagi kaum muslimin, mungkin juga umat-umat lain terhadap hari raya agamanya, lebaran membawa suasana batin yang khas. Meski setiap bulan saya pasti menyempatkan pulang, tetapi mudik lebaran tetap beda.

Rasa malas juga muncul, kala membayangkan tol cikampek dan pantura yang dipenuhi kendaraan berjejal. Maklum, jarak kampung saya dari Jakarta terlalu dekat, jika harus naik pesawat. Stasiun kereta pun jauh. Jadi, bus antar kota kerap menjadi teman mudik. Sedihnya, bus-bus yang lewat kampung saya semuanya bus ekonomi. Huh.

Saya tidak bermaksud curhat tentang perjalanan mudik saya, tetapi sekedar berbagi sudut pandang saja. Selama mudik, saya punya ide sederhana tentang bagaimana mengukur ketimpangan pembangunan ekonomi suatu negara. Mungkin ini hanya berlaku bagi Indonesia. Apa hubungannya mudik dengan ketimpangan? Kesimpulan ceroboh saya: “Semakin besar fenomena mudik, semakin besar ketimpangan pembangunan ekonomi suatu negara!”

Saya membayangkan, seandainya ada 33 kota (saja) di Indonesia yang “sekelas” Jakarta, mungkin mudik bukanlah persoalan yang besar.  “Sekelas” saya artikan memiliki kelengkapan infrastruktur yang relatif sama, banyaknya lapangan kerja yang relatif sama, luasnya kesempatan berusaha yang tak jauh beda, dan besarnya perhatian Pemerintah terhadap kota-kota itu juga sama. China, meski dengan penduduk yang jauh lebih besar dari Indonesia, dan sama-sama mengidap “penyakit” urbanisasi yang masif, tetapi mudik bukanlah persoalan serius.

Kultur kita memang berbeda dengan China. Orang kita lebih ‘home sick’. Agama mayoritas kita, khususnya hari besar agama yang memicu fenomena mudik, juga berbeda dengan mereka. Tetapi menurut saya, mereka tidak menghadapi persoalan mudik yang serius, bukan semata perbedaan sosio-kultural dengan kita, melainkan banyaknya “titik mudik” yang lebih tersebar. Sepanjang pantai timur daratan China, berderet kota-kota yang “sekelas” Beijing. Bahkan di China daratan bagian barat pun, kota-kota di sana “kelasnya” tak jauh beda dengan Beijing.  Jadi, meskupun jumlah penduduk yang luar biasa besar, beban “mudik” itu akan tersebar ke berbagai kota. Beijing tidak akan kewalahan, sampai menyulap ‘bus kota’ menjadi ‘bus antar kota’, demi pesta mudik.

Bandingkan dengan Indonesia. Selain Surabaya, mungkin tak ada kota yang “kelas”nya sekedar mendekati Jakarta. Di kota inilah manusia tumpah ruah mengais rejeki. Tiap hari, jutaan manusia keluar masuk kota ini. Dan setiap lebaran, jutaan manusia secara serempak meninggalkan kota ini. Wajar, jika Pemerintah sering kalangkabut menyediakan infrastruktur perhubungan, menjelang mudik lebaran. Wajar, jika kemacetan dan kecelakaan lalu lintas memuncak pada sekitar musim mudik ini.

Jadi, untuk mengukur apakah pembangunan di Indonesia ini sudah merata atau belum, lihat bagaimana fenomena mudik! Eh, ngomong-ngomong, pas lebaran Chris John menang ya?

About these ads

9 gagasan untuk “Sisi Lain Mudik Lebaran

  1. Assalamu’alaikum,
    Saya tidak bisa berkomentar banyak tentang mudik, karena saya tidak pernah mudik, saya orang Jakarta, keluarga saya tinggal di sekitar Jabodetabek semua. Karena masih dalam suasana lebaran, saya mengucapkan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. (Dewi Yana)

  2. hmm,… mudik sepertinya sudah menjadi budaya, walaupun saya tidak pernah merasakannya….
    anyway .. Chris Jhon daper hadiah lebaran dari juri, biarpun udah sempoyongan tapi masih menang ..

    salam kenal, tetap semangat dan minal aidzin wal faidzin ….

  3. Salah satu kebutuhan ruhaniyah kita adalah silaturrahim. silaturrahim membuat kita merasa tenang, selalu berhubungan baik dengan saudara-saudara kita baik kandung maupun saudara dalam arti lain. tentu, silaturrahimnya merupakan ibadah dalam Islam. Mudiknya, barangkali juga ibadah yang menyertai niat silaturrahim. walaupun saya menyayangkan, banyak tetangga saya yang mudik hanya untuk ketemu keluarga saja, dan dihabiskan untuk tidur selama di kampung, karena kelelahan waktu mudik dan mempersiapkan kesehatan waktu kembali balik. banyak dari tetangga kanan kiri depan belakang tidak mereka kunjungi. memang, ini hak mereka. tidak ada kewajiban. tetapi, sudah menjadi budaya kita, saling menjalin silaturrahim antar sesama tetangga. toh, Islam juga mengajarkan untuk memuliakan tetangga kita. silaturrahim adalah hal yang diajarkan dalam Islam. merupakan hal yang biasa dan wajar. mudiknya, sudah merupakan budaya. adalah budaya yang baik. karena banyak manfaat disana, diantaranya adalah berputarnya keuangan ke daerah-daerah. di kogta saya di Kebumen, ada salah satu rumah makan di pusat kota. luar biasa ramainya di waktu -waktu lebaran. rata-rata mobil mereka berplat B. sekelilingnya juga banyak pedagang dadakan, buaha-buahan maupun buah tangan lainnya. tukang parkir dadakan juga mendapat rejeki berlimpah. dari sisi ini saja, ada perputaran nilai rupiah ke daerah. belum lagi dalam arti makro. selamat idul fitri.

    salam,

  4. Mudik lebaran menjadi obat bathiniah bagi kebanyakan orang. Mungkin satu-satunya yang masih bisa dinikmati -terjangkau, meskipun juga makin susah payah- dalam suasana kehidupan Indonesia yang makin penuh tekanan lahir-batin, karena keadilan sosial dan ekonomi nan tak kunjung berhasil dicapai dalam kadar minimal sekalipun. Terutama Jakarta (dan sedikit kota besar lainnya) menjadi pusat ketidakadilan tersebut, tempat 20% penduduk yang menikmati 80% hasil pembangunan negara, sementara di luar itu 80% rakyat hanya menikmati 20% sisa kenikmatan hasil pembangunan itu.

  5. Sebulan sudah kita jalani Ramadhan bersama
    Malam penghujung hari yang indah ini
    Genderang Perang sudah di tabuh.
    Pekik Kemenangan dikumandangkan
    Alunan Nada Pengagungan dinyanyikan
    Suara Riang Gembira berkeliling kota
    Ramadhan dengan segala perniknya telah kita lewati bersama
    “Demi Masa sesungguhnya manusia itu merugi”
    Mudah mudahan Jerit kemenangan ada dalam diri kita semua
    Sebab tiadalah semua ini kecuali kembali kepada Fitrah Diri
    Mari bersama kita saling mensucikan diri menuju Illahi Robby
    Membersihkan diri melangkah menemukan diri sebenar diri
    Mulai menghampiri DIA tulus ikhlas karena CINTA
    Meraih keselarasan diri dalam Ketenangan Jiwa
    Bebenah dan jadikan momentum kemenangan ini
    Menjadi Manusia seutuhnya meliputi lahir bathin
    Dahulu datang putih suci bersih
    Mudah mudahan kembali suci putih bersih
    Tiada kata yang terungkap lagi
    Mari kita bersama menyambut hari yang FITRI
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqoba lallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin
    Dari :
    ” Kang Boed Sekeluarga “
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabat Sahabatkuku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  6. Saya sebelum nikah belum pernah mudik mas…(maklum lahir dan besar di Jakarta)
    pas dapet istri, baru deh ngerasain mudik, seru…
    Mohon Maaf lahir batin ya Mas..
    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s