Kepemimpinan dan Kesetaraan dalam Isu Gender

Sebuah Ulasan Pendek

“Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita”. Petikan bebas salah satu Ayat Al-Quran ini, baik oleh pihak yang mengusung isu kesetaraan gender maupun yang menentang, sering ditafsirkan sebagai justifikasi ‘ketidaksetaraan’ antara laki-laki dan perempuan. Bagi yang mengusung, hal ini merupakan bentuk ketidakadilan gender yang akan membatasi kiprah kaum wanita di tengah-tengah masyarakat. Bagi yang menentang beranggapan bahwa hal ini pada hakikatnya memiliki tujuan demi menjaga dan melindungi kemuliaan kaum wanita itu sendiri.

Dalam Ayat lain yang sangat lugas, Al-Quran sendiri menyatakan bahwa kemuliaan manusia di sisi Tuhannya hanya dinilai dari satu parameter: ketaqwaan. Dari sini terlihat bahwa sesungguhnya status ‘pemimpin’ dan yang ‘dipimpin’ dalam Al-Quran bukanlah mencerminkan ketidaksetaraan. Yang ‘memimpin’ belum tentu lebih mulia dari yang ‘dipimpin’. Oleh karena itu, menurut saya, hubungan keduanya lebih bersifat ‘fungsional’, atau pembagian peran semata.

Peran, tentu menuntut sejumlah kriteria. Dalam hal ini, laki-laki dianggap sebagai representasi sifat pemimpin. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan sejumlah kriteria pemimpin juga terdapat pada diri seorang wanita. Karenanya, sampai pada level tertentu, sesuai dengan kapasitasnya, pada dasarnya wanita juga dapat menjadi pemimpin. Akan tetapi, emansipasi wanita dalam kepemimpinan ini bukanlah dalam konteks ‘menyetarakan’ kedua gender tersebut, melainkan penempatan individu pada peran yang tepat, karena siapa yang memimpin, belum tentu dia yang lebih mulia.

Manusialah yang sesungguhnya berkeyakinan bahwa ‘pemimpin’ lebih mulia dari yang ‘dipimpin’. Kita bisa melihat bagaimana ambisi kekuasaan yang terjadi di sepanjang sejarah kemanusiaan. Kisah Fir’aun di Mesir dan sejarah Hitler di Jerman adalah contoh ekstrim dari keyakinan manusia akan kemuliaan yang ‘memimpin’ dibanding yang ‘dipimpin’.

Dalam kehidupan kontemporer, khsususnya di Indonesia, kita juga bisa saksikan bagaimana manusia berlomba-lomba memperebutkan kekuasaan. Mungkin beragam motif yang jadi pendorong, tetapi motif terdalam dari fenomena itu mencerminkan keyakinan akan kemuliaan yang ‘memimpin’ dibanding yang ‘dipimpin’.

Begitu pula halnya dengan sebagian kaum wanita (yang juga didukung oleh sebagian kaum lelaki) yang pro-kesetaraan gender, mereka seolah tidak rela dengan justifikasi wahyu bahwa kaum laki-laki adalah ‘pemimpin’ bagi kaum wanita, karena anggapan bahwa yang ‘memimpin’ lebih mulia dari yang ‘dipimpin’. Seolah-olah antara keduanya tidak setara, sehingga apa pun konsekuensinya, mereka tetap perjuangkan kesetaraan itu. Padahal, sekali lagi, ‘pemimpin’ dan yang ‘dipimpin’ adalah pembagian peran. Dua-duanya akan dimintai pertanggungjawaban, karena pada hakikatnya tiap individu adalah pemimpin. Wallahu a’lam bimurodhi.

4 thoughts on “Kepemimpinan dan Kesetaraan dalam Isu Gender

    • Saya gak tertarik jadi caleg Ci, banyak dimaki dan didoain jelek sama orang, hehe..

      Wah, blogmu keren sekali, isinya pake bahasa inggris semua. Hebat lah.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s